Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masjid Aschabul Kahfi (bobo.kidnesia.com)
Dream - Kota Tuban merupakan salah satu kota yang masuk dalam perlintasan jalur pantai utara (Pantura). Menjadi wilayah perbatasan antara Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah, Tuban juga dikelilingi pantai yang membentang di sepanjang jalan provinsi.
Kekayaan alam Tuban yang terbentang semakin menakjubkan dengan nuansa Islami yang sangat kental. Tak heran apabila masyarakat Tuban selalu lekat dengan kehidupan pondok pesantren.
Di antara budaya Islami yang masih dipegang teguh masyarakat di pesisir Jawa Timur ini, terdapat sebuah masjid unik yang terletak di perut bumi. Ya, nama masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi begitu tenar di kalangan para peziarah yang sering menyambangi jalur pantura.
Masjid yang terletak di Jalan Gedungombo, Semanding, Tuban tersebut memiliki arsitektur yang menarik. Bagian depan masjid terlihat begitu mencolok dengan perpaduan warna-warni terang. Dipadu dengan ukiran kaligrafi yang dikombinasikan dengan aksara Jawa.
Lalu, bagian kubah juga dibuat dengan unsur seni yang begitu khas. Dilukis penuh dengan goresan ayat-ayat Alquran.
Masjid ini merupakan bagian yang terpisahkan dari Pondok Pesantren Aschabul Kahfi pimpinan KH Subhan. Ide membuat masjid di perut bumi memang dicetuskan KH Subhan yang ingin memanfaatkan terowongan atau goa tandus tak terpakai menjadi Islamic Center.
Goa ini memiliki keindahan tersendiri karena pengunjung yang masuk akan disuguhkan dengan bongkahan-bongkahan stalagmit dan stalaktit yang telah kering. Lalu, KH Subhan terpikir untuk mengubahnya menjadi tempat ibadah yang megah, dengan pilar, ukir-ukiran, serta dengan penerangan samar-samar saja. Puluhan anak tangga berhiaskan marmer menjadi penghubung antara satu ruang dengan ruang lainnya.
Seperti masjid-masjid lainnya, tak ada biaya untuk masuk ke dalam masjid yang sudah berusia 14 tahun ini. Para pengunjung hanya dimohon kesadaran untuk memberi infaq saat mengunjungi masjid.
(Dari berbagai sumber)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya