Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anak Menyiapkan Bekal Makan Siang (Foto: Shutterstock)
Dream - Membawa bekal untuk makan siang di sekolah, merupakan kebiasaan yang sangat baik. Menu-menu yang diberikan lebih kaya gizi, sehat dan bersih. Asupan nutrisi bagi anak pun terpenuhi.
Bagi anak yang masih kecil, bekal memang dipersiapkan orangtua. Nah, bagi anak yang sudah agak besar, tepatnya berusia 8 tahun sebaiknya dibiasakan membuat bekalnya sendiri. Mengapa demikian?
Menurut para ahli, anak yang mengemas makan siang mereka sendiri akan membantunya berlatih membuat perencanaan dan penyelesaian masalah. Keterampilan membuat perencanaan sangat penting untuk dikembangkan.
© Dream
Mulai dari merancang menu, membeli bahan untuk diolah, hingga mempersiapkan di dalam kotak makan. Saat anak melakukannya, mereka akan lebih menghargai apa yang telah dilakukan oleh ayah atau ibu untuk dirinya, seperti menyiapkan makan siang.
Pembelajaran seperti ini akan membuat anak memahami tentang sebuah proses. Tidak ada makanan yang langsung ada di meja makan. Butuh proses yang panjang, dan hal ini akan membuat anak belajar banyak terutama dalam hal kemandirian.
Mengemas makan siang sendiri akan membuat anak berpikir independen dalam memecahkan masalah mereka sendiri. Jadi, biarkan anak merancang menu dan menyiapkan bekal makan siangnya sendiri?
Laporan Annisa Wulan/ Sumber: Fimela
© Dream
Dream - Demi memenuhi kebutuhan gizi buah hati, banyak para ibu rutin membuat bekal setiap pagi. Bekal yang disiapkan pun bermacam-macam. Tentunya membawakan bekal jauh lebih sehat dan hemat.
Dokter spesialis gizi klinis, Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK memberikan tips untuk para ibu agar bekal yang dibawa anak ke sekolah tetap sehat dan nikmat.
" Pertama, ibu harus mencuci tangan sebelum memulai masak. Lalu, bahan makanan seperti ayam, ikan dan daging harus dipisah saat menyimpannya di kulkas. Simpan bahan makanan maksimal 3-4 hari, tidak boleh lebih," ujarnya dalam saat ditemui di acara seminar Menu Aman Pilihan Ibu, di Jakarta.
© Dream
Untuk menu, pilih yang tahan lama dan bisa disimpan selama 2-5 jam. Jangan sampai saat ingin dimakan, bekal sudah berubah rasa atau malah basi. Pasalnya anak-anak biasanya baru memakan bekalnya saat siang hari.
" Biar aman, siapkan makanan pakai tempat terpisah. Jangan memberikan makanan yang berlemak karena kalau kelamaan mudah menimbulkan bakteri,” pesan Juwita.
Menu bekal yang bisa dibawa antara lain cracker, buah potong, puding, nasi dan ayam goreng, atau sayur tumis/ kukus. Bisa juga libatkan anak memilih menu bekal sendiri dan menyiapkannya. Biasanya mereka jadi lebih bersemangat saat memakannya.
Selamat mencoba, Bunda!
Laporan Mega Rasmiyati
© Dream
Dream - Bekal makan siang anak jadi hal yang sangat diperhatikan di Australia. Aturan di beberapa sekolah memang berbeda-beda, tapi ada hal yang sama yaitu mengharuskan bekal berisi makanan sehat, dan tak memiliki kemasan karena akan menimbulkan sampah.
Pemenuhan gizi anak memang sangat diperhatikan di negara kangguru tersebut. Begitu juga kebersihan lingkungan. Aturan ini rupanya kerap membuat orangtua 'perang dingin' dengan para guru.
Seperti curhatan seorang ibu di Facebook Page, Lunchbox Mums. Dalam salah satu postingan, seorang ibu menunjukkan bekal makan siang yang disiapkan untuk anaknya. Terlihat kalau bekal tersebut berisi roti lapis, cracker, wortel kukus, mentimun dan satu cokelat mungil bermerek Hershey’s Kiss.
© Dream
" Guru anak bungsuku mengambil Hershey's Kiss dan mengatakan padanya kalau cokelat tersebut hanya boleh dimakan di rumah, sementara putri tertuaku boleh memakan cokelat tersebut!!" tulisnya sambil menunjukkan foto bekal kedua putrinya.
Ibu tersebut kemudian menjelaskan kalau putri bungsunya dilarang oleh sang guru untuk makan manis-manisan di sekolah. Sementara kantin sekolah menyediakan berbagai makan tak sehat kaya gula.
" Di kantin sekolah ada kentang goreng, minuman bersoda bahkan cupcake," ungkap ibu tersebut penuh emosi.
Para orangtua lain juga merasa bingung mengapa cokelat sekecil itu harus dilarang. Dengan tidak konsistennya penerapan soal aturan menu makan siang anak, seringkali malah menjadi konflik. Hal ini rupanya kerap terjadi di sekolah-sekolah di Australia.
Sumber: The Sun
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya