Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bukan rahasia baru jika hamburger merupakan salah satu makanan yang dapat memengaruhi bobot tubuh anda. Namun penelitian lain ternyata menguak fakta baru yang cukup mengejutkan.
Para peneliti mendapati makan hamburger ternyata mempengaruhi daya kerja otak. Penelitian yang dilakukan terhadap remaja berusia 14-17 tahun di negara-negara Barat menunjukkan hasil kemampuan kognitif yang mencengangkan.
Studi ini mendapati mereka yang aktif mengkonsumsi makanan cepat saji, kentang goreng, daging merah dan daging olahan, serta minuman ringan memiliki asosiasi negatif yang mempengaruhi reaksi, kemampuan mental, perhatian visual, memori dan kemampuan belajar mereka. Sementara mereka yang lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran hijau memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik.
Peneliti Dr Anett Nyaradi kepada Science Network seperti dilansir Dailymail menyebut hal tersebut bisa terjadi karena adanya peningkatan kandungan mikronutrien dari sayuran hijau yang berkaitan dengan perkembangan kognitif. Lebih lanjut Dr Nyaradi juga menyebut ada beberapa faktor lain yang berperan dalam penurunan kemampuan kognitif seseorang.
Faktor tersebut antara lain tingkat omega-6 asam lemak dalam makanan yang digoreng dan daging mentah. Asupan lemak dan karbohidrat dalam jumlah tinggi berhubungan dengan fungsi hippocampus, yang merupakan struktur otak terpusat yang berhubungan dalam pembelajaran dan memori yang terus meningkat di masa remaja.
" Masa remaja merupakan periode kritis perkembangan otak manusia. Pola makan yang buruk memberikan pengaruh signifikan dan ada implikasi penting bagi masa depan mereka," ungkap Dr Nyaradi.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Western Australia dan Telethon Kids Institute ini melibatkan 602 remaja dari Western Australian Pregnancy Cohort Study. Selama proses penelitian, para remaja diminta mengisi kuesioner dan diamati pola makannya sehari-hari.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya