Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
© Gemini Generated Image
DREAM.CO.ID - Setiap 14 Agustus, seragam cokelat muda dan cokelat tua kembali memenuhi halaman sekolah, kantor pemerintahan, hingga lapangan desa. Upacara, perkemahan, baris-berbaris, tepuk tangan, dan berbagai kegiatan keterampilan menjadi bagian dari peringatan Hari Pramuka. Bagi banyak anak Indonesia, Pramuka mungkin pertama-tama dikenal melalui kegiatan membuat simpul, mendirikan tenda, membaca sandi, atau mengikuti kegiatan di alam terbuka.
Namun, di balik seragam dan kegiatan tersebut terdapat sejarah yang jauh lebih panjang. Gerakan Pramuka Indonesia lahir melalui proses penyatuan berbagai organisasi kepanduan yang sudah berkembang sejak zaman Hindia Belanda, sekaligus berkaitan erat dengan usaha membangun identitas nasional setelah Indonesia merdeka.
Tradisi kepanduan sendiri sudah masuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Kwartir Nasional mencatat latihan kelompok pandu telah berlangsung di Batavia pada 1912, yang kemudian berkembang menjadi organisasi Nederlandsche Padvinders Organisatie. Pada 1914, organisasi tersebut berubah menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV).
Namun, kepanduan tidak hanya berkembang di kalangan orang Belanda. Pada 1916, Mangkunegara VII mendirikan Javaansche Padvinders Organisatie sebagai organisasi kepanduan bumiputra. Setelah itu bermunculan berbagai organisasi kepanduan yang berbasis agama, daerah, dan kelompok sosial, termasuk Hizbul Wathan milik Muhammadiyah.
Perkembangan kepanduan kemudian berjalan berdampingan dengan tumbuhnya kesadaran kebangsaan. Kegiatan kepanduan tidak hanya mengajarkan keterampilan di luar ruang, tetapi juga kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, dan organisasi. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, kebutuhan untuk membangun satu identitas kebangsaan semakin kuat.
Pada akhir 1945, berbagai organisasi kepanduan mengadakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta dan melahirkan Pandu Rakyat Indonesia. Namun, perjalanan politik Indonesia yang belum stabil membuat organisasi kepanduan kembali berkembang dalam banyak bentuk. Kwartir Nasional mencatat bahwa pada perkembangannya terdapat sekitar 100 organisasi kepanduan yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).
Keadaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa gagasan membentuk satu gerakan kepanduan nasional muncul pada akhir 1950-an. Presiden Soekarno melihat banyaknya organisasi kepanduan dengan latar belakang berbeda berpotensi membuat gerakan kepanduan berjalan terpisah-pisah. Dalam konteks Indonesia yang ketika itu sedang membangun negara setelah melewati revolusi dan menghadapi ketegangan politik, pendidikan kaum muda dianggap terlalu penting untuk dibiarkan berjalan tanpa arah nasional yang sama.
Soekarno kemudian menggagas peleburan organisasi-organisasi kepanduan tersebut menjadi satu gerakan. Dalam prosesnya, ia melibatkan sejumlah tokoh, termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang kemudian menjadi Ketua pertama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Proses kelahiran Pramuka berlangsung melalui beberapa tonggak penting pada 1961. Pada 9 Maret 1961, nama Pramuka diperkenalkan dan peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka. Selanjutnya, pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 mengenai Gerakan Pramuka pada 20 Mei 1961.
Keppres tersebut menjadi dasar penting bagi pembentukan Gerakan Pramuka sebagai organisasi kepanduan nasional. Pada 20 Juli 1961, para wakil organisasi kepanduan menyatakan ikrar untuk meleburkan diri ke dalam Gerakan Pramuka.
Puncaknya terjadi pada 14 Agustus 1961. Di halaman Istana Negara, Presiden Soekarno memperkenalkan Gerakan Pramuka kepada masyarakat secara resmi dan menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah itu, panji dibawa dalam defile anggota Pramuka berkeliling Jakarta.
Peristiwa tersebut menjadi tonggak yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Pramuka. Dengan demikian, tanggal 14 Agustus bukan sekadar hari ketika kegiatan Pramuka mulai populer di sekolah, tetapi merupakan momentum ketika organisasi kepanduan nasional tersebut diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat Indonesia.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?


Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu