Sabtu, 10 Oktober 2026 Cari

Deja Vu dan Gangguan Jiwa: Adakah Kaitannya?

Reporter : Abidah
Kamis, 13 Agustus 2026 08:00
Deja Vu dan Gangguan Jiwa: Adakah Kaitannya?
Deja vu merupakan suatu kondisi yang mungkin dialami oleh banyak orang. Tanpa disadari, kondisi ini ternyata juga berhubungan dengan kesehatan mental seseorang.

DREAM.CO.ID - Hampir semua orang pernah mengalaminya: sensasi aneh saat berada di tempat baru, tapi otak mendadak yakin sudah pernah berada di sana sebelumnya. Fenomena ini dikenal sebagai deja vu, dan meski terasa mengganggu, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah sensasi ini tanda ada yang salah dengan kondisi mental seseorang?

Dilansir dari News-Medical, deja vu pertama kali didefinisikan secara formal pada 1983 sebagai kondisi mental yang sangat umum dan bersifat sementara. Istilah ini digambarkan sebagai " kesan familiaritas yang secara subjektif tidak sesuai terhadap suatu pengalaman kini dengan masa lalu yang tidak jelas" , dan secara harfiah dalam bahasa Prancis berarti " sudah pernah dilihat" . Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan peristiwa atau pengalaman yang terasa familiar, sementara dalam terminologi medis, istilah ini merujuk pada persepsi yang mengganggu bahwa suatu pengalaman baru terasa sudah pernah dialami sebelumnya.

Secara klinis, deja vu terkadang dipahami sebagai manifestasi dari gangguan mental atau neurologis, paling umum terkait epilepsi lobus temporal atau skizofrenia.

1 dari 2 halaman

Kaitan dengan Epilepsi Lobus Temporal dan Skizofrenia

Epilepsi adalah gangguan neurologis akibat aktivitas listrik abnormal di dalam otak, ditandai hilangnya kesadaran dan kejang. Epilepsi lobus temporal merupakan bentuk epilepsi paling umum, mencakup sekitar 60 persen dari seluruh kasus yang terdiagnosis. Subtipe ini memengaruhi area hipokampus, bagian otak yang bertanggung jawab memproses dan menyimpan ingatan jangka pendek maupun jangka panjang, dan penelitian menunjukkan hubungan kuat antara deja vu dengan kejang pada penderita epilepsi lobus temporal.

Hubungan antara keduanya pertama kali dijelaskan pada 1888 sebagai " keadaan seperti mimpi" yang kerap muncul bersamaan dengan epilepsi lobus temporal. Sejumlah besar penelitian sejak itu menunjukkan bahwa banyak individu dengan kondisi ini mengalami deja vu sebagai manifestasi dari kejang yang menyertainya, sering kali muncul tepat sebelum konvulsi terjadi.

Pada penderita skizofrenia, pengalaman deja vu bisa berlangsung lebih lama, lebih intens, dan disertai perasaan depersonalisasi, atau yang juga disebut derealisasi, sebuah kondisi keterasingan di mana pikiran terasa tidak nyata dan individu merasa seperti pengamat eksternal terhadap dirinya sendiri.

Namun, ketika membandingkan tingkat kemunculan deja vu antara individu dengan dan tanpa skizofrenia, frekuensinya justru lebih tinggi pada orang neurotipikal, bukan penderita skizofrenia. Meski begitu, penderita skizofrenia yang mengalami deja vu cenderung merasakannya lebih menekan dan mengganggu, serta lebih mungkin mengalaminya saat berada di bawah tekanan fisik atau mental.

Studi lanjutan dari tim peneliti yang sama menemukan penjelasan menarik soal kenapa penderita skizofrenia justru mengalami deja vu lebih jarang: ada kaitan antara deja vu dengan gejala negatif skizofrenia, serta antara deja vu dengan penggunaan obat antipsikotik. Individu dengan skizofrenia yang menunjukkan gejala negatif lebih menonjol, seperti kemiskinan bicara, penurunan motivasi, dan dorongan sosial yang rendah, mengalami lebih sedikit deja vu dibanding mereka dengan gejala negatif lebih ringan maupun kelompok kontrol sehat. Disfungsi otak yang mendasari gejala negatif diduga mengganggu munculnya pengalaman deja vu.

Sebaliknya, frekuensi deja vu justru meningkat pada sub-kelompok pasien skizofrenia yang mengonsumsi dosis obat antipsikotik lebih tinggi, sebuah temuan yang mungkin menjelaskan mengapa kaitan antara skizofrenia dan deja vu di masa lalu sempat keliru diinterpretasikan. Lebih lanjut, tidak ada hubungan jelas antara deja vu dengan gejala positif skizofrenia seperti delusi dan halusinasi, menunjukkan bahwa pengalaman deja vu tidak berkaitan dengan mekanisme di balik gejala-gejala tersebut. Dengan mempertimbangkan seluruh temuan ini, deja vu lebih dipandang sebagai fenomena nonpatologis.

2 dari 2 halaman

Bukan Selalu Tanda Gangguan Jiwa

Mengingat deja vu memiliki prevalensi seumur hidup sekitar 60 hingga 80 persen pada populasi nonklinis, jelas fenomena ini tidak selalu bersifat patologis. Justru sebaliknya, membedakan secara cermat antara pengalaman deja vu sehari-hari dan pengalaman deja vu " sejati" dalam konteks klinis bisa memisahkan pengalaman yang wajar dari kondisi neurologis atau psikiatris yang serius.

Warren-Gash dan Zemen (2003) mengusulkan kerangka penilaian klinis yang berguna untuk membedakan deja vu patologis dan nonpatologis, dengan mempertimbangkan frekuensi maupun jenisnya. Deja vu sehari-hari yang sering terjadi, serta deja vu yang muncul terisolasi dan sekilas, dianggap normal. Agar pengalaman deja vu " sejati" bisa dikategorikan sebagai indikasi patologi, ia harus disertai gejala lain seperti halusinasi, kejang, depresi, kecemasan, atau disosiasi.

Penjelasan pasti soal fenomena deja vu masih belum ditemukan hingga kini. Meski bukan ciri inti dari gangguan jiwa, deja vu bisa muncul sebagai bagian dari pola gangguan yang lebih luas pada beberapa kondisi tertentu, seperti epilepsi lobus temporal dan skizofrenia dengan karakteristik khusus. Namun pada populasi yang sehat, penjelasan soal deja vu sebagian besar mengarah pada kesalahan sementara dalam pemrosesan kognitif otak, bukan tanda adanya gangguan jiwa yang mendasarinya.

Beri Komentar