Kamis, 8 Oktober 2026 Cari

Menguasai Lebih dari Satu Bahasa Terbukti Bisa Membuat Otak Tetap 'Muda'

Reporter : Abidah
Kamis, 13 Agustus 2026 14:00
Menguasai Lebih dari Satu Bahasa Terbukti Bisa Membuat Otak Tetap 'Muda'
Menjadi orang yang menguasai lebih dari satu bahasa tidak hanya berdampak baik kepada kelancaran komunikasi kita saja, namun juga bisa membuat otak menjadi lebih sehat dan muda.

DREAM.CO.ID - Menguasai lebih dari satu bahasa selama ini dikenal membuka banyak manfaat praktis, mulai dari kemudahan berkomunikasi saat bepergian hingga akses ke buku dan film dalam bahasa aslinya. Tapi riset terbaru menunjukkan manfaatnya jauh lebih dalam dari sekadar praktis: menguasai lebih dari satu bahasa secara fasih ternyata benar-benar membentuk ulang cara kerja otak, dan bukti ilmiahnya terus bertambah.

Dilansir dari Medical News Today, dua ilmuwan dari New York University, Xuanyi Jessica Chen, peneliti doktoral bidang psikologi, dan Esti Blanco-Elorrieta, PhD, asisten profesor psikologi dan ilmu saraf, meneliti bagaimana otak manusia mengingat berbagai bahasa berbeda. Studi yang dipublikasikan di jurnal JNeurosci ini melibatkan 23 penutur dwibahasa Spanyol-Inggris berusia 18 hingga 45 tahun.

Blanco-Elorrieta menjelaskan bahwa salah satu hal luar biasa dari orang dwibahasa adalah kemampuan mereka beralih antarbahasa yang sering kali menggunakan kata dan bunyi yang sangat berbeda. Tim peneliti ingin memahami apakah otak menggunakan mekanisme terpisah untuk setiap bahasa, atau justru bisa menggunakan ulang " mesin" dasar yang sama di berbagai bahasa.

Menggunakan magnetoencephalography (MEG) untuk melacak aktivitas otak secara detail saat partisipan melakukan latihan penerjemahan antara dua bahasa, para peneliti menemukan bahwa otak tampaknya memiliki " mekanisme komputasi umum untuk bahasa" , artinya ada satu " mesin" atau markas bahasa tunggal yang mengekstrak makna lintas bahasa berbeda.

Blanco-Elorrieta menjelaskan bahwa saat partisipan dwibahasa menyesuaikan kata agar sesuai konteks gramatikal, misalnya mengubah kata benda tunggal menjadi jamak, pola aktivitas otak yang sama muncul baik dalam bahasa Inggris maupun Spanyol. Ini menunjukkan bahwa alih-alih membangun sistem terpisah untuk setiap bahasa, otak justru mengandalkan mekanisme saraf bersama untuk menjalankan operasi gramatikal serupa lintas bahasa.

Temuan ini menunjukkan betapa fleksibel dan lincahnya otak manusia, karena ia mampu menata ulang sistem yang sudah ada demi " melenturkan" otot bahasa sebanyak yang dibutuhkan, alih-alih membangun sistem baru dari nol untuk setiap tugas.

1 dari 1 halaman

Makin Banyak Bahasa yang Dikuasai, Makin Lambat Penuaannya

Tim peneliti internasional yang dipimpin Lucia Amoruso, PhD, Deputy Scientific Director di Basque Center on Cognition, Brain and Language (BCBL) di San Sebastian, Spanyol, melakukan analisis data dari 86.149 partisipan di 27 negara Eropa, meneliti hubungan antara kemampuan multibahasa dan penuaan biologis menggunakan kerangka biobehavioral aging clock.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Aging pada November 2025 menunjukkan bahwa di negara-negara dengan sebagian besar populasi mampu berbicara lebih dari satu bahasa, orang-orang 2,17 kali lebih kecil kemungkinannya mengalami penuaan dipercepat. Sebaliknya, orang yang hanya menguasai satu bahasa lebih dari dua kali lipat berisiko mengalami penuaan dini.

Agustín Ibáñez, PhD, profesor Global Brain Health di Trinity College Dublin, Irlandia, dan penulis senior studi ini, menjelaskan bahwa hasil penelitian mereka memberi bukti kuat bahwa kemampuan multibahasa berfungsi sebagai faktor pelindung untuk penuaan yang sehat. Pembelajaran dan penggunaan bahasa melibatkan jaringan otak inti terkait perhatian, memori, kontrol eksekutif, serta interaksi sosial, mekanisme yang bisa memperkuat resiliensi sepanjang hidup.

Salah satu temuan paling mencolok dari studi ini adalah efeknya bersifat kumulatif, artinya semakin banyak bahasa yang dikuasai seseorang, semakin lambat proses penuaan yang tampak pada mereka. Amoruso menegaskan bahwa efek perlindungan ini bersifat kumulatif; semakin banyak bahasa yang dikuasai seseorang, semakin besar pula perlindungannya terhadap penurunan fungsi terkait usia.

Amoruso menjelaskan bahwa secara sederhana, orang yang menguasai lebih banyak bahasa cenderung memiliki otak yang tampak lebih muda dari usia kronologis mereka. Efek ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah bahasa yang dikuasai; tingkat kefasihan yang lebih tinggi dan usia lebih dini saat mempelajari bahasa kedua juga berkaitan dengan penuaan otak yang lebih tertunda.

Beri Komentar