Alasan Tidak Semua Doa Dikabulkan Allah SWT, Jangan Dulu Menyerah!

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Rabu, 27 Mei 2020 08:01
Alasan Tidak Semua Doa Dikabulkan Allah SWT, Jangan Dulu Menyerah!
Begini penjelasannya

Dream - Berdoa menjadi sebuah kegiatan yang dilakukan ketika seorang hamba ingin meminta sesuatu kepada Allah SWT. Melantunkan doa harus dibarengi dengan kekhusyukan dan niat yang bersungguh - sungguh. 

Setiap kali berdoa, pastinya semua orang memiliki harapan doa kita bisa segera dikabulkan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan Tuhan yang memutuskan hasil akhirnya. Namun ada kalanya permintaan dalam doa yang kita panjatkan tidak segera dikabulkan Allah SWT.

Hal pertama yang harus kamu siapkan saat menghadapi kondisi ini adalah tidak berburuk sangka terhadap ketetapan Sang Khalik. Manusia sudah sepantasnya tak menyerah di saat harapan belum terwujud.

Sebenarnya ada beberapa penjelasan kenapa tidak semua doa dikabulkan segera oleh Allah SWT. Yang terpenting seorang hamba haruslah berpikiran positif terhadap segala ketentuan Allah SWT. Sebagai manusia kita tidak mengetahui rencana Allah yang bisa jadi lebih baik lagi bagi hamba-Nya.

Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan kenapa tidak semua doa dikabulkan oleh Allah SWT, dilansir dari NU Online berikut ini. 

 

 

1 dari 2 halaman

Syarat Terkabulnya Doa

Tidak setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah SWT. Menurut Imam Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Maliki dalam kitabnya berjudul Hasyiatus Shawi ala Tafsiril Jalalain (Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2017, Juz 3, hal. 392), mengatakan bahwa sebuah doa akan dikabulkan oleh Allah jika memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.

Persyaratan terkabulnya doa meliputi dua hal, yakni :

1. Persyaratan yang melekat pada manusia. Persyaratan ini didasarkan oleh Al-Qur’an dan hadits, antara lain berupa sikap ikhlas, mengikuti petunjuk Rasulullah, mempercayai bahwa Allah akan mengabulkan doa, dan memanjatkan doa dengan hati yang khusyu’ serta penuh harap kepada Allah.

2. Persyaratan yang melekat pada Allah. Maksudnya adalah Allah akan mengabulkan doa hambany sesuai dengan kehendak-Nya. Suatu doa hanya bisa terkabul jika Allah berkenan mengabulkannya. Hal ini berdasarkan penjelasan Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Asy-Syafií Al-Baijuri dalam menafsirkan ayat 41, surat Al-An’am:

“ Maka Dia hilangkan bahaya yang kalian mohonkan kepada-Nya jika Dia menghendaki.”   

Sesungguhnya terkabulnya sebuah doa terikat dengan kehendak-Nya sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah yang berbunyi: ‘Maka Dia hilangkan bahaya yang kalian mohonkan kepada-Nya jika Dia menghendaki.’ Pengabulan doa ini terikat pada kemutlakan dua ayat sebelumnya. Oleh karena itu makna dari ‘Mintalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan’ itu jika Aku menghendakinya, dan aku kabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Ku, jika aku menghendakinya.” (Lihat Tuhfatul Murid, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan ke-2, 2003, hal. 171). 

2 dari 2 halaman

Hakikat Doa

Jadi sebuah doa akan dikabulkan oleh Allah jika Ia menghendaki. Jika sebuah doa, sekalipun sudah memenuhi persyarat-persyaratan yang melekat pada manusia dan juga telah sesuai dengan adab berdoa, jika Allah tidak berkenan menghendakinya, maka doa itu tidak akan terkabul.

Justru di sinilah Allah menunjukan salah satu bukti Qudrat dan Iradah-Nya. Bagaimanapun Allah adalah Penguasa Tunggal atas Seluruh Alam Raya yang tak satupun makhluk dapat memaksa-Nya. 

Contoh doa yang tidak dikabulkan oleh Allah adalah dua permohonan Rasulullah. Kedua doa itu adalah, Pertama, permohonan Rasul agar umat beliau (kelak) tidak ber-hizb-hizb (berpartai-partai), ber-firqah-firqah (berkelompok-kelompok), dan berpecah belah.

Kedua, agar umat beliau (kelak) satu dengan yang lainnya tidak saling membunuh. Kedua doa itu merupakan penjabaran dari satu doa Rasululah yang tak dikabulkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam penggalan hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

”Aku melakukan shalat raghbah (penuh harap) dan rahbah (takut kepada-Nya), dalam shalatku itu aku memohon kepada Allah tiga perkara. Dia mengabulkan dua perkara sedangkan satunya lagi tidak dikabulkan. Aku memohon agar umatku tidak binasa oleh bencana kelaparan, maka Dia mengabulkan permohonan ini. Aku memohon agar umatku tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka, Dia pun mengabulkannya. Namun ketika aku memohon agar umatku tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya, Dia (Allah) tidak mengabulkannya.” 

Sejarah telah mencatat bahwa umat Islam sepeninggal Rasulullah mengalami perpecahan dan bahkan saling bunuh di antara kelompok-kelompok, terutama setelah meninggalnya Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu.

Selain itu, ada satu lagi harapan Rasulullah yang tidak pernah terwujud. Beliau sangat berharap agar paman beliau, Abu Thalib, memeluk Islam dengan beriman kepada Allah. Namun harapan dan upaya beliau mendorong sang paman memeluk Islam tersebut mendapat jawaban dari Allah sebagaimana termaktub dalam Surat al-Qashash, ayat 56

“ Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”.

Suatu doa atau permintaan pasti dijawab oleh Allah dengan berbagai bentuk kemungkinan seperti pengabulan sepenuhnya atau sebagaian saja, atau diganti dengan hal lain yang lebih bermanfaat, atau ditunda pemenuhannya hingga waktu yang tepat, atau malahan ditolak seperti apa yang dialami oleh Rasulullah ketika beliau memohon agar umatnya tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya. 

Kesimpulannya, semua doa pasti dijawab oleh Allah tetapi tidak setiap doa pasti dikabulkan-Nya sebab ada kalanya Allah tidak berkenan mengabulkan sebuah doa. Oleh karena itu setiap doa hendaknya kita ikuti dengan sikap tawakal kita kepada Allah sebab Dia-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya. 


Beri Komentar