Korban Guru Asusila di Bali Nyaris Bunuh Diri

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 23 Januari 2020 10:03
Korban Guru Asusila di Bali Nyaris Bunuh Diri
Korban tidak hanya satu orang.

Dream - Murid SMP di Badung, Bali, berinisial TF, 13 tahun, mengalami trauma usai dicabuli PNS guru olahraga, IGA KW, 53 tahun. Peristiwa biadab itu diduga terjadi saat korban duduk di bangku SD.

Aksi jahat itu tak berhenti, KW terus mencari keberadaan TF. Trauma dan takut, TF mencoba bunuh diri. Dia kerap mengiris tangannnya dengan pisau di depan kelas.

Kasatreskrim Polres Badung, AKP Laorens R. Heselo, mengatakan, KW melakukan tindakan pencabulan terhadap dua korban, TF dan KDAP.

Laorens mengatakan, peristiwa pencabulan terhadap TF dan KDAP terjadi pada Juli 2018 sampai Juli 2019, antara pukul 16.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA.

Peristiwa terjadi saat ekstrakulikuler kriket di dalam kelas sekolah dasar di Badung. Terbongkarnya kasus ini karena TF yang hendak bunuh diri. Teman-temannya menghadang tindakan TF.

 

1 dari 4 halaman

Tidak Hanya Sekali

TF kemudian trauma karena saat sekolah dasar menjadi korban asusila KW dari kelas 5 hingga kelas 6.

" Pada saat giliran korban masuk ke dalam kelas, tersangka memaksa korban untuk bersetubuh dengan ancaman kalau tidak mau menuruti perintah tersangka korban akan diberikan nilai jelek atau tidak naik kelas," kata Laorens.

Sementara itu, korban KW lainnya, KDAP saat ini masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Polisi memeriksa tindakan bejat Laorens.

Laorens menyebut, korban TF mendapatkan tindakan asusila sebanyak 9 kali dan KDAP 10 kali.

" Terakhir pada bulan Juli tahun 2019 itu terakhir persetubuhannya. Tapi masih ada lagi perbuatan cabul yang dilakukan tersangka menurut pengakuan korban KDAP pada tanggal 11 Januari (2019)," ujar dia.

Sumber:

2 dari 4 halaman

Astagfirullah, Siswi SMP Dirudapaksa 6 Pria hingga Hamil

Dream - Kisah pilu dialami seorang siswi SMP di Desa Cisitu, Kecamatan Malongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dia menjadi korban rudapaksa enam orang pria hingga hamil.

Kapolsek Malongbong, Ajun Komisaris Abusono, mengatakan, para pelaku merudapaksa korban di Desa Skawayana dan Mekarasih, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Keenam pelaku kini sudah ditangkap.

" Untuk korban diketahui merupakan warga Desa Cisitu. Kita langsung tangkap keenam orang yang melakukan aksi pencabulan tersebut. Yang kita amankan berinisial AR (20), DD (19), MR (18), dan tiga orang lelaki lainnya masih di bawah umur," ujar Abusono dikutip dari Merdeka.com.

Abusono menjelaskan, rudapaksa itu terjadi pada September dan November 2019. Modusnya, korban diajak ke rumah salah satu pelaku.

3 dari 4 halaman

Kronologi Kejadian

Sekitar pukul 02.00 WIB, korban diminta minum anggur merah. Karena di bawah tekanan, korban akhirnya menenggak minuman keras itu hingga tak sadarkan diri.

" Pada saat itulah para pelaku ini melakukan aksi pencabulan secara bergiliran terhadap korban," ucap dia.

Meski telah mengalami pelecehan, korban tidak menceritakannya kepada siapapun. Hingga akhirnya, orang tua korban curiga dengan perubahan perilaku buah hatinya itu.

" Orang tua korban kemudian membawa anaknya untuk diperiksa, dan ternyata diketahui bahwa korban tengah hamil 2,5 bulan. Selain itu juga saat ini korban mengalami trauma," kata dia.

Akibat tindakannya, para pelaku terancam pasal 76 D juncto 81, 76 E juncto 82 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dan pasal 55, 56 KUHP. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

" Tetapi karena ada yang di bawah umur, tentunya akan disesuaikan dengan ketentuan," kata dia.

(Sumber: )

4 dari 4 halaman

Pemerkosaan Mahasiswi Indonesia Gerakkan Warga Rotterdam Demo

Dream - Kasus perkosaan yang dialami mahasiswi Indonesia di Rotterdam pada Juli lalu membuat sejumlah warga Belanda prihatin dan marah. Mereka tergerak untuk menggelar unjuk rasa terkait kasus kejahatan itu.

Dikutip dari Liputan6.com, mereka berkumpul di Rotterdam pada Selasa 31 Juli 2018. Mereka berjalan beriringan menyisiri rute yang dilalui mahasiswi Indonesia dengan bersepeda sebelum mengalami pemerkosaan, dari Central Station menuju Kralingen.

Sebagian dari mereka ada yang membawa Bendera Merah Putih sembari menangis. Ada juga wanita Belanda membawa poster berisi tulisan tangan " I am a person, not a piece of meat (Aku adalah seseorang, bukan sepotong dari daging)."

Aksi keprihatinan itu tidak hanya dilakukan kaum hawa. Sejumlah pria turut serta dalam long march menuntut keadilan bagi mahasiswi Indonesia.

" Mereka berduka untuk mahasiswi Indonesia. Mereka marah dan merasa tidak berdaya. Mereka membayangkan jika itu menimpa putri mereka atau saudara wanita mereka," ujar jurnalis HumInt Media, Bud Wichers.

Wichers mengatakan, unjuk rasa tersebut diprakarsai tiga orang wanita di Rotterdam. Mereka menyampaikan secara tegas jangan pernah menyentuh tubuh wanita tanpa seizinnya.

" Saya sangat setuju dengan pemikiran mereka. Wanita harus dihormati dan tak ada satu pun orang yang boleh menyentuhnya tanpa persetujuan darinya," kata Wichers.

Korban harus menjalani perawatan intensif karena mengalami pendarahan hebat akibat pemerkosaan. Hingga saat ini, mahasiswi Indonesia yang mengikuti program pertukaran itu masih dalam perawatan.

Kepolisian berhasil menangkap pelaku yang diketahui berusia 18 tahun. Meski demikian, kasus ini menimbulkan luka yang mendalam bagi banyak orang.

Sumber: Liputan6.com/ Afra Augesti

Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'