Baru 42 Persen Sekolah yang Siap Adakan Pembelajaran Tatap Muka

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 21 November 2020 11:00
Baru 42 Persen Sekolah yang Siap Adakan Pembelajaran Tatap Muka
Di tengah pandemi, mayoritas sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah.

Dream – Mayoritas sekolah masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tapi, sekolah yang mulai mengajukan pembukaan sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka, hanya di bawah 50 persen.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama, Kemenko PMK, Agus Sartono, menyebut, dari 532 ribu satuan pendidikan, baru ada 42,48 persen yang sudah mengisi daftar periksa kesiapan sekolah untuk belajar tatap muka. Hal ini terlihat dari pelaporan dashboard kesiapan sekolah untuk melakukan belajar tatap muka.

“ Sedangkan 57,52 persen lainnya belum,” kata Agus dalam konferensi pers “ Pengumuman Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap TA 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19” secara virtual, Jumat 20 November 2020.

Agus mendorong satuan pendidikan agar mengisi daftar kesiapan sekolah di dashboard yang telah ditentukan. Selain itu, dia juga mendorong kepala daerah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan daerah untuk memperbarui kesiapan sekolah untuk menggelar belajar tatap muka.

“ Harus bisa mendorong pembukaan sekolah dan tetap memperhatikan disiplin protokol kesehatan,” kata dia.

1 dari 4 halaman

Pembelajaran Jarak Jauh Sebabkan Dampak Negatif?

Apalagi, tambah Agus, menurut survei yang dilakukan pada Oktober, sebagian besar responden memberikan tanggapan negatif terhadap PJJ. Dikatakan dari 532 ribu satuan pendidikan, hanya ada 206 ribu atau 42 persen yang memberikan tanggapan yang positif dan 13 persen di antaranya sudah menerapkan pembelajaran tatap muka.

“ Sebagian besar masih (menerapkan) belajar dari rumah,” kata dia.

Agus menambahkan bahwa sistem belajar jarak jauh ini bisa berdampak buruk, seperti tingginya angka putus sekolah karena siswa harus bekerja untuk membantu orang tuanya pada masa pandemi. Ditambah lagi ada perbedaan akses internet yang bisa mengakibatkan kesenjangan di antara siswa.

Minimnya interaksi dengan guru dan sesama siswa, ada tekanan dari luar, serta susahnya belajar dari rumah mengakibatkan murid menjadi stres. “ Tinggal di rumah, peserta didik terjebak kekerasan di rumah tanpa terdeteksi publik,” kata dia.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 4 halaman

Pandemi Ubah Cara Belajar dengan Drastis, Dampaknya Tak Selalu Buruk

Dream - Sejak Maret 2020, seluruh pelajar/ mahasiswa mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi, belajar dari rumah karena pandemi Covid-19. Berkumpul dalam ruang kelas yang tertutup akan sangat berisiko bagi anak-anak tertular Covid-19, sehingga keputusan untuk belajar jarak jauh masih diberlakukan hingga saat ini.

Berbagai macam permasalahan muncul dengan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Seperti sumber daya yang tak siap, di mana para guru dan murid yang masih belum bisa memanfaatkan teknologi belajar jarak jauh dengan baik. Hal yang juga paling mendasar adalah, insfrastruktur yang tak mendukung. Masih banyak murid dan pelajar yang tak memiliki ponsel atau laptop.

 

© Dream

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun akhirnya menerapkan kurikulum darurat di mana sekolah dan guru tak dibebani materi yang banyak dan lebih fleksibel dalam memberikan materi pelajaran. Ujian Nasional juga dibatalkan.

Dalam kondisi seperti ini, menurut Profesor Arief Rachman pakar pendidikan yang juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, dalam Bincang Editor bertema 'Potret Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi' hari ini 19 Oktober 2020 di @vidiodotcom mengungkap kalau kondisi seperti sekarang memang tidak ideal tapi tak selalu buruk.

" Kita punya beberapa masalah yang muncul, tapi dampak positifnya juga ada. Seperti kini banyak sekali situ belajar online yang bisa diakses peserta didik untuk memperdalam materi. Webinar zoom bisa dipantau oleh orangtua," kata Prof Arief.

 

3 dari 4 halaman

Orangtua pun bisa langsung mendampingi anak-anaknya saat belajar di rumah. Saat ini memang orangtua memegang peranan utama demi memastikan buah hati mendapatkan pendidikan meski di rumah saja.

Miliki rutinitas, tetapi fleksibel© MEN

Ia juga menyoroti para siswa yang kini bisa belajar dari mana saja dan justru membuat wawasannya bertambah luas. Termasuk mempelajari teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran.

 

4 dari 4 halaman

" Hal yang penting dalam pendidikan itu adalah suasana belajar, mau si sekolah di kebun, di taman, yang penting bisa mengembangkan spiritual, kepribadian, keterampilan," pesan Prof Arief.

Penerapan PJJ artinya kesehatan anak-anak dan para siswa serta mahasiswa adalah prioritas. Demi menjaga kesehatan anak-anak, pastikan selalu menjalankan protokol kesehatan selama pandemi, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar