Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Jelang Ramadan, Ditemukan 6 Ribu Produk Kemasan Ilegal

Reporter : Ervina
Kamis, 12 Juni 2014 15:01
Jelang Ramadan, Ditemukan 6 Ribu Produk Kemasan Ilegal
Hasil intensifikasi yang dilakukan sejak 11 Juni 2014, BPOM mendapati 6.222 produk dengan kemasan ilegal. Nilai ekonomi temuannya kali ini mencapai Rp 248.880.000.

Dream - Jelang Ramadan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menggelar pengujian produk makanan. Dalam temuan kali ini BPOM mendapati sejumlah produk yang termasuk dalam kategori ilegal, kadaluarsa dan tidak memenuhi ketentuan pemerintah.

Hasil intensifikasi yang dilakukan sejak 11 Juni 2014, BPOM mendapati 6.222 produk dengan kemasan ilegal. Meski terbilang kecil, namun BPOM tidak tinggal diam dengan temuan ini.

Hasilnya, presentase produk dengan kemasan ilegal sebesar 62,68 persen, produk kadaluarsa 17,6 persen, produk label tidak memenuhi kriteria sebesar 10,59 persen dan produk rusak mencapai 9,11 persen.

Roy Sparringa, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan menuturkan nilai ekonomi temuannya kali ini mencapai Rp 248.880.000. " Temuan kali ini merupakan hasil dari tim badan pengawas di daerah," ucap Roy.

Pengawasan pangan terpadu yang dilakukan di 20 provinsi menunjukkan, daerah penyebaran yang berbeda untuk produk 'cacat' jelang Ramadan.

Jakarta menjadi kota dengan temuan produk ilegal tertinggi se-Indonesia. Nilai ekonomi produk ilegal di Indonesia mencapai Rp 157.960.000. Sedangkan Produk rusak dan produk dengan kemasan rusak banyak ditemui di Makassar. Total nilai ekonomi masing-masing mencapai Rp 22.200.000 dan Rp 25.800.000.

Surabaya dan Kendari menjadi dua kota dengan temuan produk kadaluarsa tertinggi di Indonesia. Total nilai ekonomi produk kadaluarsa yang beredar mencapai Rp 42.880.000. 

Roy mengakui langkah pengawasan pangan sebenarnya bukan hanya dilakukan jelang momen Ramadan dan Idul Fitri saja. Secara komprehensif, BPOM kerap melakukan pengawasan dan laporan rutin untuk melindungi konsumen dari aksi produsen dan importir nakal.

" Momen Ramadan dan Idul Fitri beda, karena umumnya kebutuhan barang meningkat hingga dijadikan sebagai ajang cuci gudang oleh distributor dan importir yang mau mencari untung besar," pungkas Roy. (Ism)

Beri Komentar