Cerita Kehidupan Damai Muslim di Selandia Baru, yang Terkoyak

Reporter : Ismoko Widjaya
Jumat, 15 Maret 2019 20:04
Cerita Kehidupan Damai Muslim di Selandia Baru, yang Terkoyak
Selama ini, Selandia Baru dikenal sebagai salah satu negara yang ramah terhadap muslim.

Dream - Penembakan brutal teroris ke dua masjid di kota Christchurch, Selandia baru, menewaskan 40 orang. Sebanyak 10 orang tewas di Masjid Linwood dan 30 korban di Masjid Al Noor Deans Ave.

Empat pelaku sudah dibekuk. Salah satu pelaku, Brenton Tarrant kelahiran Australia menayangkan pembantaian sadis itu secara langsung melalui siaran langsung di Facebook.

" Kita sedang mencari tiga warga negara Indonesia yang lainnya, dapat saya sampaikan di Christchurch ada sekitar 330 WNI, 130 di antaranya adalah pelajar itu mendengar ada insiden penembakan tersebut. KBRI sudah menerjunkan tim protokol konsuler," papar Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat, seperti dilansir Liputan6.com, Jumat 15 Maret 2918.

Dua WNI dilaporkan menjadi korban penembakan brutal itu. Keduanya korban yang juga ayah dan anak itu tengah menjalani perawatan.

" Baru saja masuk informasi bahwa terdapat dua WNI yang terkena tembak di masjid tersebut," tambah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Armanatha Nasir, di kantornya.

Teror yang terjadi saat sholat Jumat atau sekitar pukul 1.40 siang waktu setempat membuat geger dunia. Apalagi selama ini, Selandia Baru dikenal sebagai salah satu negara yang ramah terhadap muslim.

Tak pernah terdengar kekerasan atau kasus-kasus diskriminasi terjadi di negara Kiwi ini. Banyak komunitas-komunitas muslim tumbuh di sana.

Lalu, bagaimana kehidupan muslim di Selandia Baru?

Bagi Tutut Wulansari, WNI yang pernah tinggal 15 bulan di Wellington ini mengaku, kehidupan muslim di Selandia Baru sangat harmonis dengan etnis atau pemeluk agama lainnya.

" Di sana tidak rasis. Secara pribadi, selama di sana nyaman banget sebagai muslim. Apalagi saya pakai jilbab," cerita wanita yang biasa disapa Wulan ini saat berbincang dengan Dream, Jumat 15 Maret 2019.

Bagi Wulan, kondisi kehidupan masyarakat muslim di Wellington sangat damai. Termasuk saat menjalankan ajaran Islam di depan umum.

" Bahkan kalau saya sholat di bus, orang-orang juga tidak ribut. Atau kalau lagi bepergian kemudian sholat di taman atau di lahan terbuka, ngga ada masalah," lanjut wanita yang juga istri diplomat ini.

Selama di Wellington, Wulan aktif di organisasi Umat Muslim Indonesia (Indonesian Muslim Society) di Wellington. UMI kerap menggelar kegiatan. Dari mulai pengajian rutin, buka puasa bersama, sampai taraweh. Tak jarang kegiatan digelar dengan menyewa gedung atau fasilitas umum. Dan semua itu berlangsung dengan damai.

Kesan mendalam dirasakan wanita yang kini tinggal di Copenhagen, Denmark ini. Masyarakat Selandia Baru itu sangat ramah. " Suka menyapa kalau bertemu. Saya selalu ingin kembali ke sana," ujarnya sedih.

 Tutut Wulansari, WNI di Selandia Baru

Tutut Wulansari (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Wulan merasa nyaman menjadi muslim minoritas di negara yang dipimpin Perdana Menteri Jacinda Ardern ini. Warga Selandia Baru, lanjut Wulan, sangat menghormati orang-orang yang berbeda etnis.

" Ini akan menjadi sejarah dan hari paling kelam di Selandia Baru," ucap Wulan sedih.

Terguncang

Senada disampaikan Ramadian Bachtiar, Mahasiswa kandidat Ph.D Marine Biology, Victoria University of Wellington. Menurut pria yang sudah menetap 14 bulan di Wellington ini, selama ini pihak universitas sangat mendukung dan menciptakan suasana kondusif terhadap kegiatan-kegiatan komunitas muslim.

Rama yang termasuk salah satu anggota komunitas muslim di kampus, Vic Moslem club ini mengaku syok dengan adanya tragedi berdarah ini. Bahkan, rencana acara yang digelar Vic Moslem Club ini batal karena peristiwa itu. 

 Vic Muslim Selandia Baru

Acara Vic Muslim Club, Victoria University of Wellington, Selandia Baru yang dibatalkan. (Foto: Instagram @vicmuslimsclub)

" Saya dan istri terguncang. Dan berharap jangan ada lagi kekerasan, dimana pun itu," ujar Rama saat berbincang dengan Dream, Jumat 15 Maret 2019.

Saat ini, lanjut Rama, komunitas muslim setempat sedang berkoordinasi untuk melangsungkan proses pemakaman terhadap para korban. " Dari Wellington sudah ada 16 relawan untuk melakukan prosesi pemakaman itu," ujar Rama.

Sebagai muslim, Rama mengaku mendapat banyak simpati dan banyak ucapan duka dari berbagai pihak. Baik itu dari tetangga sampai orangtua murid tempat anak bersekolah.

" Jadi di sini semua bersatu," tambah pria yang mengenyam pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

2 dari 3 halaman
asset dream.co.id
Beri Komentar
Ribuan Jemaah Antarkan Ustaz Arifin Ilham Ke Peristirahatan Terakhir