Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anggota Komunitas Organik Indonesia (KOI)
Dream - Apa yang anda pikirkan bila mendengar kata organik? Sehat, mahal dan menyedihkan karena tidak bisa makan makanan enak nan lezat. Gaya hidup sehat organik ternyata tak seseram yang dibayangkan. Bersama KOI anda akan mengenal betapa pentingnya gaya hidup organik.
Berdiri sejak 2007 silam, KOI yang digawangi Christopher Emille Jayananta mengajak masyarakat untuk hidup sehat. Mengusung tema Hidup Selaras dengan Alam, yakni mulai beralih mengkonsumsi makanan sehat organik dan pintar memilih peralatan memasak yang terbuat dari bahan kimia dan dapat membahayakan kesehatan anda dan keluarga.
Berangkat dari keterkaitan semakin banyak penggunaan bahan kimia pada produk pertanian. Misalnya saja penggunaan peptisida yang semakin meningkat, sehingga racun yang menempel pada sayur dan buah tidak lagi dapat terselamatkan.
Saat ini KOI telah memiliki lebih dari 200 anggota di seluruh Indonesia. Anggota KOI didominasi oleh para pelaku UKM yang bergerak dalam pengadaan pangan organik, seperti petani organik. Peran KOI sangatlah besar selain sebagai wadah para UKM, KOI juga dijadikan sebagai tempat untuk berbagi informasi seputar hidup sehat organik bagi anggota dan masyarakat luas lainnya.
Nah, berangkat dari keprihatinan itu, lahirlah Organic, Green, & Healthy (OGH) Expo yang digegas oleh Emille dan KOI.
" Kami terus berusaha mengkampanyekan hidup sehat organik pada masyarakat luas. Karena lebih baik kita membeli bahan makanan serta peralatan yang sedikit lebih mahal ketimbang kita mengkonsumsi bahan makanan yang akan membawa dampak buruk dikemudian hari dan mengakibatkan pengeluaran uang yang jauh lebih besar, biaya rumah sakit misalnya" , Ungkap Emille, Jumat 31 Juli 2015.
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya