Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Zatilfarihiah Dan Anak-Anaknya (Foto: Facebook)
Dream - Menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah, ada suami dan anak-anak yang harus dirawat. Belum lagi seabrek urusan rumah tangga lainnya.
Kegiatan yang segunung itu bahkan membuat banyak orang berpikir bahwa seorang ibu tidak mungkin bisa menempuh pendidikan karena kesibukan mengurusi masalah domestik rumah tangga.
Namun wanita Malaysia bernama Zatilfarihiah ini mematahkan stereotip tersebut. Dia berhasil menyelesaikan studi PhD-nya sembari merawat anak-anaknya.
Jangan kira momongannya cuma satu, wanita ini punya delapan anak yang harus diurus di saat menjalani studi.
Menurut laman World of Buzz, Zatilfarihiah berusia 38 tahun dan telah mendaftar untuk studi PhD-nya sejak tahun 2017. Ketika pertama kali memulai perjalanan PhD, dia sudah menjadi ibu lima anak.
Tak cukup sampai di situ, selama tiga setengah tahun, dia hamil dan melahirkan tiga anak. Sehingga dia harus ekstra untuk membagi waktunya.

Dia mengaku, selama tahun akademiknya, selalu bangun pukul dua pagi untuk belajar dan mempersiapkan studinya sebelum berangkat ke universitas pada pukul delapan pagi untuk penelitiannya.
Walaupun dalam kondisi hamil, dia tetap gigih membuat tesinya. Tentu tak lupa menunaikan kewajibannya sebagai ibu, merawat anak-anaknya.
“ Saya hamil saat belajar dan merenungkan kembali, saya tidak tahu bagaimana saya melakukannya. Saya harus memastikan anak-anak saya terurus dengan baik dan tesis saya bisa maju,” katanya.

Untung keluarganya tetap mendukung, termasuk sang suami dan ibu mertuanya.
“ Syukurlah, suami dan ibu mertua saya sangat mendukung keputusan saya dan banyak membantu saya ketika keadaan menjadi sibuk,” tambahnya.
Dia mengatakan, kondisinya memang tidak seperti orang lain, tantangan akademisnya sedikit berbeda karena dia harus menyesuaikan antara anak-anaknya dan studinya.

“ Bagian tersulit bagi saya sepanjang tahun akademik saya adalah ketika saya hamil anak bungsu saya dan harus mempresentasikan tesis dan simposium saya. Syukurlah, semuanya berjalan dengan baik dan saya berhasil lulus tes,” katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang