Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Letusan Gunung Anak Krakatau (Liputan6.com)
Dream - Dentuman keras terjadi pada Sabtu dini hari, 11 April 2020, di wilayah Jakarta hingga Depok. Kejadian ini membuat banyak kaca rumah warga bergetar.
Menurut Surono, Ahli Vulkanologi, Mantan Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), suara gemuruh dan dentuman tersebut berasal dari Gunung Anak Krakatau (GAK). Di mana saat bersamaan, gunung di Selat Sunda itu sedang mengalami erupsi.
" Pada saat masyarakat mendengar dentuman, bersamaan dengan letusan anak krakatau/GAK. Bisa terjadi bahwa suara dentuman dari GAK," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, hari ini.
Pria yang akrab disapa Mbah Rono ini menyampaikan, hal tersebut dapat terjadi akibat suasana Jakarta dan Depok yang sepi. Sehingga suara tersebut dapat terdengar.
" Apalagi saat ini kondisi sepi, tidak ada kendaraan lalulalang, tidak ada kegiatan manusia di luaran. Sepi. Bisa terjadi suara tersebut dari letusan GAK," ujar dia.
Lantas mengapa suara dentuman dapat terdengar sedangkan di lokasi terdekat gunung tidak mendengar apapun?
Surono menjelaskan, hal tersebut lantaran adanya gelombang suaranya yang sampai di suatu daerah. Hal tersebut dapat terjadi tergantung pada tekanan udara.
Bisa jadi tekanan udara tersebut berbeda-beda. Bila ledakan tidak keras, dini hari, jika juga tidak terdengar karena tidur atau sedang kegiatan lain bisa terjadi," ujar Mbah Rono.
Sumber: Liputan6.com/
Dream - Gelegar suara dentuman yang terdengar warga di wilayah Jabodetabek dipastikan bukan dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda. Hal ini ditegaskan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVGMBG) pada Sabtu, 11 April 2020.
" Sampai sekarang Gunung Anak Krakatau memang masih erupsi, tapi terlalu jauh jika terdengar hingga Jakarta dan Depok," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) Kasbani kepada Liputan6.com di Jakarta.
Ia juga mengkonfirmasi melalui Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasaran Carita, Pandegang, Banten yang berada 50 km, bahwa efek erupsi terlampau kecil dan tidak terdengar dentuman sama sekali.
" Pos yang terdekat saja tidak dengar, apalagi Jakarta yang lebih jauh," ujar dia.
PVMBG melaporkan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, Lampung pada 10 April 2020 pukul 22.35 WIB dengan tinggi kolom abu hingga 500 m di atas puncak atau sekitar 657 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu diamati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal dan condong ke arah utara. Erupsi ini telah terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi kurang lebih 38 menit 4 detik.
Pantauan yang dilakukan PVMBG mengatakan letusan berlangsung hingga Sabtu, 11 April 2020 oukul 05.44 WIB.
Potensi bahaya yang dilaporan PVMBG yaitu lontaran material lava, aliran lava dan hujan abu lebat di sekitaran kawah dengan radius 2km dari kawah aktif. Selain itu, hujan abu yang tipis dapat terpapar ke daerah lebih jauh tergantung kecepatan angin.
Aktivitas erupsi tipe Strombolian ini hanya tersebar di sekitar kawah. Erupsi menerus berpotensi terjadi, namun tidak terdeteksi adanya gejala vulkanik dengan intensitas erupsi yang lebih besar.
Sementara, seorang warga Pamulang, Tangerang Selatan, Aditya mengatakan, dirinya mendengar detuman samar-samar dari arah barat. Dentuman tersebut terus terjadi selama satu jam dini hari tadi, Sabtu 11 April 2020. Bahkan, kata Aditya, pintu di rumahnya sempat bergetar.
" Sekitar jam 02.30 WIB saya sedang tidur deket pintu samar terdengar dentuman, pintunya getar, kakak saya cek pintunya getar sediri padahal tidak ada angin," kata Aditya dilansir dari Liputan6.com
Kemudian Aditya mengecek lantai atas rumahnya dan mendengan dentuman samar-samar dari arah barat.
" Lama sekali sampai jam 03.30 WIB, terdengar samar-samar, berhenti bentar trus bunyi lagi. Saya kira mau hujan badai, tapi saya lihat ada dentumannya tapi tidak ada kilat. Terdengar sangat jauh," ujar Aditya.
Sementara, Theo, warga Depok mengaku melihat kilat sebelum terdengar dentuman. Theo mengaku mendengar dentuman tersebut hanya satu kali.
" Ada kilat sebelum dentuman, saya kira petir, tapi suaranya agak beda dengan petir," ujarnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya