Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ferdy Sambo
Dream - Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J sempat mengucapkan kata terakhir sembari mengangkat kedua tangan sebelum ditembak Bharada E atas perintah Ferdy Sambo.
Hal itu terungkap dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang atas terdakwa Ferdy Sambo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) 17 Oktober 2022 kemarin.
" Saksi Ricky Rizal mengetahui kedatangan Terdakwa Ferdy Sambo yang hendak merampas nyawa dengan cara menembak korban Nopriansyah Yosua Hutabarat akan tetapi saksi Ricky Rizal tetap tidak memberitahu korban," kata jaksa dalam dakwaan.
Saat Brigadir J berada di taman halaman rumah dinas yang untuk melangsungkan isolasi mandiri, Ferdy Sambo yang telah masuk lewat pintu lain bertemu dengan saksi Kuat Maruf di lantai satu.
Kuat Ma'ruf, lanjut Jaksa yang membacakan dakwaan, melihat Ferdy Sambo dalam keadaan raut muka marah dan emosi, lalu dengan nada tinggi Ferdy Sambo memintanya memanggil Borgadir J.
" 'Wat, mana Ricky dan Yosua. panggil', di saat yang bersamaan saksi Richard Eliezer yang mendengar suara terdakwa Ferdy Sambo langsung turun ke lantai satu menemui Ferdy Sambo," katanya.
Saat itu Ferdy Sambo menyuruh Bharada E untuk mengokang senjata Glock 17 yang didengar oleh Kuat Maruf sebagai tanda untuk memanggil Bripka RR dan Brigadir J yang ada di halaman depan rumah.
" Kejadian ini sekira pukul 17.12 WIB, dengan sigap dan tanggap keluar melalui pintu dapur menuju garasi dan menghampiri saksi Ricky Rizal Wibowo yang berdiri dekat garasi di dekat bak sampah dengan mengatakan " Om... dipanggil Bapak sama Yosua," katanya.
Mendengar perkataan tersebut Bripka RR lantas mengajak Brigadir J untuk masuk ke dalam rumah. Tanpa curiga mereka berjalan masuk ke dalam rumah melewati garasi dan pintu dapur menuju ruang tengah dekat meja makan diikuti dan diawasi Kuat Ma'ruf.
Dimana saat itu Kuat Maruf juga ternyata menyiapkan pisau di dalam tas selempangnya untuk berjaga-jaga apabila terjadi perlawanan dari Brigadir J saat eksekusi nanti berlangsung.
Sesampainya di ruangan tengah dekat meja makan, Ferdy Sambo langsung memegang leher bagian belakang Brigadir J lalu didorong ke depan sehingga posisi tepat berada di depan tangga dengan posisi saling berhadapan.
Ketika Bharada E yang sudah tepat berada di samping kanan Sambo, sedangkan posisi Kuat Ma'ruf dan Bripka RR dalam posisi bersiaga untuk melakukan pengamanan bila Brigadir J melawan.
Sedangkan Putri Candrawathi berada di dalam kamar utama dengan jarak kurang lebih tiga meter dari posisi Brigadir J. Kemudian Ferdy Sambo lantas bersiap mengeksekusi Brigadir J sebagai rencana awal dengan tembakan yang bakal dilesatkan Bharada E.
" Ferdy Sambo Langsung mengatakan kepada Korban Nopriansyah Yosua Hutabarat dengan perkataan " jongkok kamu!!" lalu Korban Nopriansyah Yosua Hutabarat sambil mengangkat kedua tangannya menghadap ke depan sejajar dengan dada sempat mundur sedikit sebagai tanda penyerahan diri dan berkata " ada apa ini?" ," ujar JPU.
Meski sudah dalam posisi menyerah, niat Sambo menghabisi nyawa ajudannya tetap tak terbendung. Sambo lantas memerintahkan Bharada E untuk segera melepaskan tembakan yang berasal dari Glock 17.
" (Sambo) Berteriak dengan suara keras kepada Saksi Richard Eliezer dengan mengatakan " Woy...! kau tembak...! kau tembak cepaaat!! Cepat woy kau tembak!!!," katanya.
Jaksa menilai dalam dakwan seharusnya terdakwa Ferdy Sambo sebagai seorang Jenderal Bintang Dua sepatutnya bertanya dan memberikan kesempatan kepada Nopriansyah Yosua Hutabarat untuk menjelaskan tentang hal yang terjadi sebagaimana cerita Saksi Putri Candrawathi tentang pelecehan yang terjadi di Magelang.
" Setelah itu mendengar teriakan Ferdy Sambo, Richard Eliezer langsung mengarahkan senjata api Glock-17 Nomor seri MPY851 ke tubuh Korban Nopriansyah Yosua Hutabarat dan menembakkan senjata api miliknya sebanyak tiga atau empat kali. Hingga korban Nopriansyah Yosua Hutabarat terjatuh dan terkapar mengeluarkan banyak darah," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya