Kisah Budak ISIS, Dirudapaksa Saban Hari dan Dijual 20 Kali

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 11 September 2019 19:00
Kisah Budak ISIS, Dirudapaksa Saban Hari dan Dijual 20 Kali
Kita hanya hatus menemukan cara untuk bertahan hidup, kata dia.

Dream - Ini kisah tentang Hayfa Adi. Remaja yang pernah menjadi budah kelompok teroris, ISIS. Dia diculik di utara Irak. Kala itu, usianya masih sangat belia, baru 17 tahun.

Sejak penculikan 2014 itu, hari-harinya penuh nestapa. Selama dua tahun tak ada hari tanpa rudapaksa. " Persis, seperti domba," kata Hayfa, dikutip dari ABC.net, Rabu 11 September 2019.

Hayfa kini tinggal di Queensland, Australia. Tapi terkadang, ingatan saat di kampung halamannya muncul kembali.

Sang putra sulung, yang masih balita, kerap bertanya kehadiran sang ayah, Ghazi Lalo. " Sangat sulit, sangat sulit bagi kita semua," kata dia.

Bungsu mereka tidak pernah mengenal ayahnya. Dia dilahirkan di penangkaran ISIS.

" Dia tampak seperti ayahnya - matanya, mulutnya. Ketika aku melihatnya, aku merasa seperti suamiku bersamaku," kata dia.

" Kami hanya harus menemukan cara untuk bertahan hidup."

1 dari 6 halaman

Cerita Penculikan Bermula

 Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi dan putranya (Foto: ABC)

Hayda dan keluarga hancur dalam genosida ISIS terhadap orang-orang Yazidi di Irak utara dan Suriah.

Sebanyak 7.000 anggota etnis minoritas ini terbunuh dan 3.000 hilang.

Hayfa mengaku diculik ISIS saat sedang hamil tua. Dia berada di kediamannya, di desa Kocho, bersama Ghazi dan putra sulung mereka.

" Aku sudah membuat makan siang dan kami siap makan. Sekitar tengah hari, ada yang mengetuk pintu," kata dia.

Ketukan itu berasal dari paman Ghazi. Sang paman berlari dan menyebut bahwa ISIS sudah di Kocho. Kampungnya.

2 dari 6 halaman

Suami dan Tawanan Lain Dibawa ke Gedung Sekolah

 Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)

Militan ISIS menggiring, 1.200 penduduk kampung itu gedung sekolah setempat. Mereka diminta memeluk keyakinan yang sama dengan para anggota ISIS tersebut.

" Setelah itu mereka membawa orang-orang itu. Kami tidak tahu ke mana militan ISIS membawa mereka," kata dia.

Saksi mata mengatakan, kepada PBB, orang-orang itu dibawa pergi dan ditembak.

Tapi, bagi Hayfa, harapan itu tetap dipegang teguh: suaminya selamat dan dapat kembali bersama keluarganya.

3 dari 6 halaman

Dirudapaksa

Agustus 2014. Tanggal itu diingat betul Hayfa dan gadis Yazidi lainnya.

Selama lebih dari dua tahun, Hayfa diperdagangkan di antara militan di Irak dan Suriah, dibeli dan dijual kembali. Dipaksa mempertontonkan bagian vitalnya.

Hayfa berulang kali dirudapaksa. Tetapi, ketakutan terbesarnya yaitu kehilangan anak-anaknya.

" Mereka mengambil putra tertua saya selama satu bulan karena saya tidak tidur dengan penculik saya," kata dia.

 

4 dari 6 halaman

Lolos Karena...

Hayfa dan putra-putranya akhirnya melarikan diri dari ISIS ketika mertuanya membayar penyelundup untuk membeli kebebasannya.

Mereka tiba di Toowoomba, Queensland dengan visa kemanusiaan 2018. Dia bergabung dengan komunitas Yazidi yang berkembang dengan lebih dari 800 orang.

Anak-anak lelaki pergi ke taman kanak-kanak dan sekolah setempat, dan Hayfa belajar bahasa Inggris di TAFE.

" Saya sangat nyaman di sini bersama anak-anak saya," katanya.

" Yang paling penting adalah kehidupan anak-anakku, bukan hidupku. Dan tentu saja jika suamiku kembali, hidupku akan benar-benar hebat."

5 dari 6 halaman

ISIS Eksekusi Anggotanya yang Pakai Nama 'Bieber'

Dream - Nasib tragis dialami oleh pemuda asal Inggris, Mohammed Ismail. Pemuda asal Coventry yang bergabung dengan ISIS itu tewas diseksekusi kelompok teroris tersebut setelah dituduh sebagai mata-mata negara Barat.

Mohammed Ismail bergabung dengan ISIS pada Maret 2014 bersama dua teman, yang sudah tewas dalam peperangan. Sejak bergabung itu pula, dia mengubah namanya menjadi Osama bin Bieber. Ismail memakai bintang pop Justin Bibier sebagai nama lapangan karena tampilannya saat remaja.

Tapi nasib Ismail berujung tragis setelah ISIS ciriga terhadap kesetiaan Ismail. ISIS menangkapnya setelah serangan pesawat tak berawak di Raqqa, Suriah. Seorang sumber mengatakan, " Begitu serangan drone terjadi, dia ditangkap di Raqqa."

Kecurigaan ISIS pada Ismail pertama kali muncul saat mereka yakin Ismail menjadi mata-mata yang mengakibatkan kematian Nasser Muthana, dari Cardiff. Propagandis senior ISIS itu tewas dalam serangan koalisi yang didukung AS.

Laman The Sun, yang mengutip The Sunday Times, menyebut, Ismail mengaku mengkhianati ISIS dan memberikan informasi rahasia kepada agen intelijen Barat.

Ismail kemudian dibunuh secara brutal oleh algojo ISIS di depan seorang juru kamera yang mengabadikan momen terakhirnya.

" Mereka melakukan interogasi dengannya. Dia mengakui segalanya. Dan kemudian mereka membunuhnya," kata sumber tersebut.

6 dari 6 halaman

Bekas Anak Kelab Malam

Sebelum meninggal, Ismail sempat mengatakan ke teman-temannya mengenai alasannya membocorkan rahasia ISIS. Dia juga sempat meminta maaf dan mengatakan telah mengaku di bawah tekanan ISIS.

" Mereka membuat video tentang dia (Ismail). Ismail mengatakan telah menyesal, namun itu menunjukkan dia mati," ucap dia.

Ayah Ismail, Mahir Haidi, terkejut dengan berita kematian putranya. Mahir mengatakan, dia tidak berbicara dengannya lebih dari dua tahun.

Seorang teman menyebut Ismail mulai terpapar paham radikal saat kuliah. Seorang sumber yang dekat dengan temannya bahkan menyebut terpapar paham radikal hanya dalam 15 hari.

" Tiga pekan sebelum dia bergabung dengan ISIS, dia adalah anak kelab malam di Coventry," kata sumber tersebut.

Beri Komentar
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie