Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kakak Beradik Yatim Bertahan Hidup (shanghaiist.com)
Dream - Kisah sepasang kakak beradik di Yunxi, Hubei, Cina, Zhang Ronghai, 16 tahun, dan Guangxin, 9 tahun, membuat pilu netizen. Mereka saling menguatkan dan berjuang untuk bertahan hidup usai kedua orangtuanya meninggal.
Ronghai ingat saat berusia 3 tahun, ayahnya mengajak dia dan ibunya pindah ke kota Lingbao untuk bekerja di sebuah pabrik. Ayahnya bekerja sebagai penambang, sementara ibunya memasak untuk semua pekerja di sana. Ketiganya tinggal di gudang temporal.
" Saya ingat bagaimana wajah ayah selalu tertutup lumpur dan hidungnya dipenuhi batu kerikil saat pulang ke rumah," kata Ronghai.
" Pada 2007, saat saya kelas 1 SD, adik saya lahir di gudang," lanjut dia.
© Dream
Bekerja di pertambangan lebih dari 10 tahun, ayah Ronghai mulai berjuang melawan sakit paru-paru. Penyakit ini menyedot tabungan dan keluarga itu terjerat utang.
Suatu hari saat perayaan Festival Musim Semi 2011, ayah Ronghai meninggal di usia 34 tahun. Sedih ditinggal suaminya, ibunya menangis semalaman.
" Enam bulan setelah ayah meninggal, ibu menikah dengan ayah tiri saya bernama Chen dari desa tetangga," kata Ronghai.
" Saya tidak suka bicara banyak usai ayah meninggal. Saya panggil dia paman karena saya tidak bisa sepenuhnya menerima dia. Tapi, adik saya memanggil dia ayah, dan dia mengubah nama keluarga menjadi Chen," tutur Ronghai.
© Dream
Setahun menikah, ibunya melahirkan anak perempuan. Kini anak itu berusia 4 tahun.
Nasib keluarga berubah drastis saat ibu Ronghai mengidap kanker. Saat itu, Ronghai duduk di bangku kelas 6 SD.
" Saya keluar dari sekolah. Sedihnya, dia meninggal Juli lalu, usianya masih 37 tahun. Ayah tiri saya tidak mampu membesarkan saya dan adik saya. Setelah pemakaman ibu, saya dan adik kembali ke rumah tua kami," ucap Ronghai.
Ronghai mulai menghabiskan waktunya menjaga adiknya. Mereka menjalani hidup dengan makan mie instan atau kentang.
© Dream
Di Hari Jomblo terakhir, yang merupakan pekan belanja online terbesar Cina, sang kakak hanya punya 15 buah kentang, sedikit minyak goreng, sedikit garam di kotak penyimpanan.
Ronghai mengatakan ia berencana mencari pekerjaan agar mendapat uang untuk mendukung dia dan adiknya. Sementara adiknya berharap cepat tumbuh sehingga dia bisa meninggalkan desanya dan mencari pekerjaan lebih baik.
(Sah/Sumber: shanghaiist.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya