Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rumah Idah Wati (Merdeka.com)
Dream - Idah Wati (53), warga Kampung Bojong, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terpaksa tinggal di rumah yang lebih layak disebut kandang kambing. Dia mengaku tidak bisa tinggal di rumah yang layak setelah kediamannya terbakar tujuh tahun silam.
Idah tinggal di gubuk yang dibangun di atas tanah wakaf dekat tempat pemakaman umum. Kondisinya sudah reyot. Beratap terpal. Berdinding bilah bambu yang dijajar tak beraturan. Salah satu sudut rumahnya malah hanya ditutup kain saja.
" Setelah dulu rumah saya kebakaran, jadinya saya tidak punya tempat tinggal. Alhamdulillah ada yang menempatkan saya disini untuk tinggal. Walau kalau hujan besar pasti bocor," ujar Indah, dikutip dari Merdeka.com, Rabu 8 Juli 2020.
Selain kondisi rumahnya yang tidak layak, gubuk yang dibangun di atas tanah wakaf tersebut sangat rentan roboh, pondasinya tidak kuat. Pemandangan depan rumahnya adalah tempat pemakaman umum yang besar, di belakangnya hamparan sawah yang hijau.
Saat masuk ke dalam rumah, terdapat kasur tempat Idah dan anaknya tidur. Beberapa perabotan rumah tangga pun terlihat. Di bagian belakang rumah, Idah menyimpan peralatan memasak. Biasanya Idah memasak di luar rumah karena khawatir api kembali menyambar rumahnya yang 100 persen terbuat dari bahan yang sangat mudah terbakar.
Di rumahnya Idah tidak ada tempat mandi cuci kakus (MCK). MCK berada di luar rumah dengan penutup dari karung. Warga menyebut MCK itu dengan sebutan WC 'helikopter'.
Idah mengaku, sehari-hari bekerja sebagai pembersih makam. Untuk makan, ia mengandalkan para peziarah yang datang atau dari tetangganya. Para peziarah pun tidak jarang ada yang iba melihat kondisi rumahnya dan memberinya uang.
Saat ini Idah tinggal bersama anak angkat laki-lakinya yang berusia 20 tahun di rumah yang berukuran 2x3 meter itu. Sebelumnya ia sempat tinggal bersama suaminya, namun setahun yang lalu meninggal dunia.
Meski tinggal di bangunan yang sebenarnya tidak layak disebut rumah, Idah mengaku tidak pernah mengeluh dengan kondisinya saat ini.
" Saya bersyukur karena masih ada tempat untuk tidur dan beristirahat setelah bekerja membersihkan makam," akunya.
Sebelum tinggal di rumah saat ini, setelah kebakaran menimpa rumahnya yang dulu, Idah bersama suami dan anak angkatnya tinggal di sebuah saung di tengah kebun orang di Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota. Setelah itu, ia pun kemudian pindah ke sebuah rumah milik orang lain.
" Saya sudah tiga kali pindah-pindah, tapi ya masih saung. Dulu memang suami saya kerjanya buruh di pabrik kulit. Jadi penghasilannya ya gitu," sebutnya.
Meski menerima kondisinya saat ini, Idah memiliki harapan agar bisa tinggal di rumah yang lebih layak. Ia ingin merasakan tidur dengan pulas, tanpa harus kehujanan saat memejamkan mata di malam hari. Tidak jarang, agar tidak kehujanan ia memilih hijrah ke musala.
Diketahuinya kondisi rumah Idah yang tidak layak huni, pertama kalinya dilaporkan oleh seorang peziarah kepada Babinsa Lebak Agung, Koramil Karangpawitan, Kodim 0611 Garut. Mendapat laporan tersebut, Babinsa melaporkan hal tersebut kepada pihak kecamatan.
Camat Karangpawitan, Rena Sudrajat saat dihubungi mengaku pihaknya memang sudah menerima informasi tersebut. Ia mengaku akan segera berkoordinasi dengan pihak RT dan desa untuk membantu Idah dengan membangun rumah yang layak huni.
" Insya Allah ada bantuan sosial dari beberapa pihak. Ada anggota dewan yang sudah mau membantu dan nanti dari pak Bupati juga ada. Tinggal warga gotong royong membantu membangunkannya," ucap Rena.
Rena menyebut bahwa nanti, rumah idah akan dipindahkan setelah ada warga yang memberikan tanah bagi Idah. Tinggal pihaknya yang bertanggung jawab mencari material bahan bangunan untuk membangun rumah Idah.
" Kami akan segera membangun biar bu Idah bisa cepat punya rumah yang layak. Banyak yang mau membantu Alhamdulillah," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya