Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
SD Negeri Jalen, Ponorogo, Jawa Timur (Endra Dwiono/Berita Jatim)
Dream - Nasib miris menimpa SDN Jalen di Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur, pada tahun ajaran baru kali ini. Pasalnya, pada Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) beberapa waktu lalu, hanya satu anak yang mendaftar di sekolah tersebut.
Praktis pada tahun ajaran baru ini, kelas 1 SDN Jalen hanya 1 anak atas nama Khoirul. Kepala SDN Jalen Ponorogo, Dedi Agung Nugroho, mengatakan bahwa satu siswa kelas 1 yang mendaftar adalah warga yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. A
Alasan orangtua Khoirul tetap menyekolahkan anaknya di SDN Jalen karena kakaknya dulu juga alumni SD tersebut. Sehingga Khoirul pun tetap sekolah di SDN Jalen.
“ Selain karena jarak sekolah dengan rumah dekat, kakak Khoirul alumni SDN Jalen. Sehingga orangtuanya tetap menyekolahkan di SD sini meski hanya ia saja yang kelas 1,” kata Dedi, dilkutip dari Berita Jatim, Kamis 14 Juli 2022.
Dedi menerangkan, total murid di SDN Jalen hanya ada 34 orang. Sejak lima tahun terakhir, sekolah ini mengalami penurunan jumlah murid. Pada PPBD tahun lalu, siswa yang mendaftar hanya tiga orang.
Menurutnya, salah satu alasan penurun jumlah siswa di SDN Jalen karena adanya Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta di Desa Jalen. Sehingga kemungkinan orangtua menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan tersebut.
“ Lima tahun lalu di Desa Jalen ini berdiri MI swasta, sejak saat itu jumlah siswa mulai menurun,” katanya.
Ia mengatakan jikan selama ini pihaknya sudah berusaha keras untuk menjaring siswa peserta didik baru. Para guru sudah melakukan sosialisasi ke TK di Desa Jalen dan sekitarnya.
Selain itu, program keagamaan di sekolahnya juga sudah ditingkatkan. Namun, nampaknya usaha-usaha itu belum membuahkan hasil.
“ Kita juga sudah berupaya keras, dengan sosialisasi di TK-TK. Selain itu juga meningkatkan program keagamaanya juga,” ungkapnya.
Meski kelas 1 hanya ada satu siswa, Dedi mengaku pihaknya tetap melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM).
Untuk sementara, ruangannya digabungkan dengan kelas 2 yang siswanya ada 3 anak. Sebab, aspirasi dari orangtua supaya ada temannya dulu kelas.
“ Anaknya masih adaptasi dulu. Kita jadikan satu dengan kelas 2. Jadi KBM-nya ada 2 guru, ” pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang