Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Netanyahu Saat Berkunjung Ke Kota Tua Yerusalem (Antara/Reuters/Marc Sellem)
Dream - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tidak akan ada negara Palestina selama dia masih diberi kepercayaan memimpin negara Israel.
Hal itu diungkapkannya dalam sebuah wawancara dengan situs berita Israel NRG pada Senin, sehari sebelum pemilihan umum yang digelar Selasa pagi waktu setempat.
" Siapapun yang akan mendirikan negara Palestina hanya akan memberi basis bagi radikal Islam untuk menyerang Israel," kata dia dikutip Dream.co.id dari CNN.
" Itu adalah kenyataan yang sebenarnya tercipta di wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir."
Netanyahu menegaskan negara kuat yang didukung Partai Likuid yang dipimpinnya dibutuhkan untuk memukul mundur usaha-usaha untuk membagi Yerusalem dan mengembalikan perbatasan Israel ke pra-1967.
" Saya tidak akan menyerah. Kami akan berdiri tegak menghadapi tekanan internasional dan akan terus seperti itu."
Saat melakukan kampanye di Har Homa, lingkungan permukiman Yahudi di Yerusalem bagian timur, Netanyahu mengatakan dia akan terus membangun untuk membentengi Yerusalem demi keamanan nasional.
" Saat ini Har Homa telah menjadi wilayah berkembang di mana puluhan ribu warga Israel tinggal di dalamnya. Bersama Partai Likuid, kami akan terus membangun dan melindungi Yerusalem."
Israel menganggap Har Homa merupakan bagian dari Yerusalem bersatu, sementara Palestina menganggapnya sebagai permukiman ilegal bagi warga Yahudi.
" Kami akan membangun Yerusalem sehingga tidak akan pindah tangan dan selalu akan tetap bersatu, menjadi bagian dari Israel selamanya."
Menanggapi pidato kampanye Netanyahu, Kepala Perunding Palestina, Saeb Erekat, mengatakan sikap Perdana Menteri Israel itu bukan hal yang baru.
" Netanyahu telah melakukan segala cara untuk mengubur opsi dua negara," katanya. " Pernyataan Netanyahu di lingkungan ilegal Har Homa adalah cara mereka memblokir inisiatif diplomatik Palestina."
Erekat menambahkan, Netanyahu tak mungkin berani melakukan itu jika tak mengandalkan impunitas penuh dari komunitas internasional.
Untuk itu, lanjut Erekat, dunia internasional harus menyadari dan belajar bahwa keadilan, bukan impunitas, yang menjadi solusi perdamaian dunia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya