Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Dream - Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, membuat keputusan mengejutkan. Dia memecat dua adiknya, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat dari jabatan di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Prabukusumo dan Yudhaningrat sebelumnya memegang jabatan sebagai pembina kebudayaan di Keraton Yogyakarta. Tetapi, Sri Sultan menilai kinerja dua adiknya buruk lantaran tidak menjalankan tugas selama lima tahun.
" Masak ming (hanya) gaji buta. Lima tahun ora (tidak) bertanggung jawab. Mereka kan digaji dengan jabatannya sebagai pembina budaya di Keraton dari APBN (Dana Keistimewaan/ Danais)," ujar Sri Sultan, dikutip dari Merdeka.com.
Sri Sultan menampik tudingan bahwa pemecatan itu merupakan buntut bedaan pandangan terkait Sabdaraja dan Sabdatama pada 2015. Dia menjelaskan, banyak kerabat yang tidak sependapat mengenai Sabdaraja dan Sabdatama, namun tetap menjalankan tugas di Keraton.
" Tidak ada hubungannya (dengan perbedaan pendapat tentang Sabdaraja). Wong nyatanya yang tidak setuju sama saya kalau tetap dia melaksanakan tugas sebagai Penghageng juga tidak saya berhentikan. Mas Jatiningrat, Mas Hadiwinoto, kan juga tetap kerja karena tetap melaksanakan tugas," kata Sri Sultan.
Terkait pemecatan tersebut, Prabukusumo menyatakan surat yang dikeluarkan batal demi hukum. Dia beralasan Keraton Yogyakarta tidak mengenal gelar Bawono.
" Kemudian, nama saya dalam surat juga keliru dan yang mengangkat saya dulu Almarhum Bapak Dalem HB IX, delapan kawedanan, bedaban, dan tepas, diteruskan Hamengku Buwono X," kata dia.
Prabukusumo menyatakan, usai dikeluarkannya Sabdaraja dan Sabdatama pada 2015, dia sudah tidak aktif di Keraton Yogyakarta. Dia beralasan Sabdaraja dan Sabdatama tersebut bertentangan dengan Paugeran Keraton Yogyakarta sehingga Prabukusumo dan adi-adiknya memilih mundur dari pelayanan kepada HB X.
" Artinya, mengapa orang salah tidak mau mengakui kesalahannya. Malah memecat yang mempertahankan kebenaran, yaitu kesungguhan pikiran, niat dan hati yang mulia untuk mempertahankan adat istiadat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak HB I hingga HB IX," kata Prabukusumo.
Dia menyatakan tidak pernah berbuat kesalahan kepada Keraton Yogyakarta. Demikian pula dengan adiknya, GBPH Yudhaningrat, sehingga meminta masyarakat tidak salah menilai.
" Sabar bersabar. Kalau saya dengan Dhimas Yudho (GBPH Yudhaningrat) dipun jabel kalenggahanipun (dicabut jabatannya), artinya itu dipecat. Karena itu saya membuat ini (pernyataan tertulis) agar warga DIY tahu kalau saya dan dhimas Yudho itu tidak salah," kata dia.
Sumber: Merdeka.com/Purnomo Edi.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya