Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Ritual Di Gunung Kemukus (Youtube)
Dream - Pemerintah Kabupaten Sragen mulai menertibkan obyek wisata Gunung Kemukus yang menjadi sorotan dunia karena ritual aneh. Kompleks makam Pangeran Samudro yang berada di puncak gunung itu akan dikembalikan sebagai wisata ziarah. Segala ritual aneh, termasuk unsur prostitusi, dilarang.
“ Hari ini kita mulai lebih intensif melakukan sosialisasi dan penyadaran kepada warga di Gunung Kemukus. Kita ingin menghilangkan ekses negatif yang ada di sana, dan mengembalikan lokasi tersebut sebagai tempat wisata ziarah,” ujar Bupati Sragen, Agus Fathurrahman, dikutip Dream dari Merdeka.com, Kamis 27 November 2014.
Agus berjanji akan mengikis citra negatif Gunung Kemukus yang dikenal dunia sebagai Gunung Seks –julukan yang diberikan media asing karena ritual berhubungan badan untuk mencari pesugihan. Meski demikian, tambah dia, tempat ziarah Gunung Kemukus tak perlu ditutup.
“ Lokasi tersebut bukan lokalisasi, tapi obyek ziarah yang disalahgunakan. Kami akan mengembalikan lokasi tersebut sebagai tempat ziarah,” kata Agus.
Sementara, Sekretaris Daerah Sragen, Tatag Prabawanto, menambahkan, selain melakukan sosialisasi, Pemkab juga melakukan pendataan warga yang ada di Gunung Kemukus. Sedangkan untuk pekerja seks komersial (PSK) akan diminta keluar dari lokasi itu.
“ PSK yang ada di sana akan kita minta keluar atau pulang ke asalnya masing-masing. Untuk warga setempat tetap diminta beraktivitas seperti biasa,” tutur Tatag.
Kebijakan Pemkab Sragen ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat sekitar. Namun, sebagian besar warga setuju pemerintah menutup lokasi prostitusi terselubung itu dengan syarat obyek wisata Makam Pangeran Samudro tetap dibiarkan.
“ Banyak warga yang setuju sebenarnya ditutup. Tetapi obyek wisata Makam Pangeran Samudro tetap dibiarkan, karena 50 persen lebih warga kami menggantungkan hidupnya di sini,” ujar Kepala Desa Pendem, Hardiyanto.
Menurut Hardiyanto, praktik prostitusi di Gunung Kemukus telah membawa nama jelek desa maupun warga. “ Sekali lagi, pemerintah desa setuju penutupan lokasi tersebut dan mendukung program Bapak Gubernur,” tegas Hardiyanto.
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha