Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kaligrafi Rasulullah Muhammad SAW (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Rabiul Awal menjadi salah satu bulan sangat penting bagi umat Islam. Bulan ini dikenal sebagai saat di mana bayi suci yang kelak menjadi junjungan umat manusia sepanjang zaman terlahir ke dunia. Masyarakat Indonesia mengenal hari bersejarah ini sebagai Maulid Nabi.
Bayi itu lahir dari rahim Aminah bin Wahab, istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib yang meninggal dalam perjalanan dagang menuju Syam. Sang kakek, Abdul Muthalib, memilih kata 'Muhammad' untuk bayi itu.
Dikutip dari NU Online, Abdul Muthalib sendiri adalah pemimpin Mekah dan menjadi pelayan Kabah. Dia bertugas menyediakan layanan akomodasi, makanan serta menyiapkan air dan kebutuhan pokok lainnya untuk para peziarah Kabah.
Momen indah kelahiran Muhammad terjadi di sela situasi genting yang melanda Mekah. Abrahah, saat itu memegang kekuasaan Yaman, berencana menghancurkan Kabah dengan bala tentaranya dan membawa serta beberapa ekor gajah.
Sebelum menyerang Kabah, Abrahah sempat merampas puluhan ekor unta milih Abdul Muthalib. Meski sudah uzur, Abdul Muthalib tidak gentar menemui Abrahah untuk meminta haknya.
Motif Abrahah menghancurkan Kabah yaitu agar situs suci itu tidak menjadi kiblat masyarakat Arab. Dia ingin masyarakat Arab berziarah ke Yaman.
Untuk mewujudkannya, Abrahah membangun tempat ibadah megah Al Qullais berlokasi di Shan'a, Ibu Kota Yaman. Harapannya, dengan hancurnya Kabah orang-orang pindah berziarah ke Yaman.
Motif lainnya yaitu soal ekonomi. Penguasa Yaman itu ingin agar para pedagang yang selalu memenuhi Mekah di musim haji pindah ke daerah kekuasaannya.
Berangkatlah Abrahah dengan bala tentara untuk mewujudkan rencananya. Ada delapan ekor gajah (riwayat lain menyebut 12 ekor) yang dibawa sebagai kendaraan perang.
Rombongan tentara Abrahah sempat beristirahat di Al Mughammas, 3,6 kilometer dari Mekah arah Thaif. Abrahah kemudian mengutus seseorang menemui pemimpin Suku Quraisy untuk menyampaikan pesan rencana penghancuran Kabah, tetapi bukan untuk berperang.
Tetapi, jika penduduk Mekah ingin berperang, maka Abrahah mempersilakan pemimpin mereka menemuinya. Selain itu, dia juga merampas harta Suku Quraisy, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib.
Karena tidak terima, Abdul Muthalib akhirnya menemui Abrahah untuk meminta kembali semua untanya. Semula, Abrahah menaruh hormat kepada Abdul Muthalib namun kemudian tidak lagi.
Penyebabnya, kedatangan Abdul Muthalib tidak untuk membahas rencana penghancuran Kabah. Melainkan hanya untuk meminta untanya.
" Aku pada mulanya kagum kepadamu begitu melihatmu, tetapi kekagumanku sirna setelah engkau berbicara meminta 200 ekor untamu itu dan tidak menyinggung tentang rumah yang engkau dan leluhurmu agungkan dan yang aku datang untuk merubuhkannya," kata Abrahah kepada Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib lalu menjawab perkataan Abrahah dengan singkat.
" Unta-unta itu aku pemiliknya, sedangkan Rumah itu (Kabah) ada juga pemiliknya yang akan membelanya," kata Abdul Muthalib.
Tetapi, Abrahah membalas perkataan Abdul Muthalib dengan congkah. Dia menyatakan Sang Pemilik (Allah) tidak akan mampu menghalanginya menghancurkan Kabah.
Abdul Muthalib lalu mempersilakan Abrahah menjalankan rencananya. Kemudian, Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang disitanya kepada pemiliknya.
Abdul Muthalib kemudian menyembelih unta-unta tersebut untuk persembahan kepada Kabah. Sembari berdoa agar Allah menjaga Kabah dari serangan Abrahah.
Abdul Muthalib sebenarnya sudah membujuk Abrahah untuk mengurungkan niatnya. Bahkan Abdul Muthalib bersedia memberikan sepertiga kekayaan Tihamah agar Abrahah tak menghancurkan Kabah. Tetapi, Abrahah menolak tawaran itu dan kukuh dengan rencananya.
Abdul Muthalib kembali dengan perasaan campur aduk. Sadar masyarakat Mekah tidak bisa melawan kekuatan Abrahah yang sudah terlatih berperang.
Dia pun bertawakal kepada Allah. Setelah gagal melalukan upaya membendung serangan Abrahah, Abdul Muthalib memerintahkan seluruh penduduk untuk menyingkir sementara waktu.
Abrahah pun memerintahkan pasukannya menuju Kabah. Muncul keanehan, gajah yang dinaiki Abrahah tidak mau berjalan menuju Kabah. Sementara jika diarahkan menuju titik lain, gajah itu mau berjalan.
Beberapa saat kemudian, peristiwa yang disebutkan dalam Surat Al Fil terjadi. Abrahah dan bala tentaranya tewas mengenaskan karena serangan burung-burung ababil atas perintah Allah SWT.
Sumber: NU Online
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya