Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jendral TNI (Merdeka.com)
Dream - Tidak ada kesuksesan yang diraih dengan mudah. Banyak orang harus melalui jalan terjal untuk menggapai cita-citanya.
Demikian pula dengan Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Lulusan AkademimMiliter 1988 itu harus menempuh kerasnya kehidupan sebelum akhirnya menjadi tentara.
Kini, Mayjen TNI Dudung Abdurachman menjabat sebagai Gubernur Akademi Militer. Meski kini telah sukses, Mayjen Dudung dulu juga pernah hidup susah.
Dia bahkan pernah menjadi loper koran dan ditabok tentara berpangkat Mayor. Berikut ini kisahnya:
Mayjen Dudung kehilangan sang ayah saat duduk di kelas dua sekolah menengah pertama.
" Jadi pada tahun 1981, saya pas kelas 2 SMP, bapak saya itu meninggal karena penyakit liver, jadi bapak saya memang hanya kerja sebagai PNS di Bekangdam III Siliwangi. Anaknya ada delapan. Bayangkan seorang PNS anaknya delapan," kata Mayjen Dudung, dikutip dari Merdeka.com.
Untuk membantu perekonomian keluarga, ibundanya lantas berjualan kue, kerupuk, dan terasi. Kala itu, Mayjen Dudung juga membantu ibunya dengan mencari kayu bakar.
" Kemudian begitu lah kehidupan ekonominya. Sehingga pada saat SMP itu, setelah bapak enggak ada, ya ibu berjualan kue. Berjualan kue, berjualan kerupuk masih mentah, kemudian terasi, kemudian saya harus mencari kayu bakar di sekitar dekat rumah. Karena masak pun kita pakai kayu bakar," sambungnya.
Selain itu, Mayjen Dudung juga membantu sang ibu dengan berjualan keliling asrama.
" Saya keliling ke asrama. Di asrama itu memang banyak perumahan-perumahan itu, saya keliling ke rumah-rumah, jualan-jualan itu. Sampai saya lulus SMP, saya masuk SMA, kebetulan ke SMA Negeri saya tes lulus tapi diantar oleh ibu," jelasnya.
Kala itu, Mayjen Dudung juga sempat menjadi loper koran. Setiap harinya ia pergi ke Cikapundung untuk mengambil koran dan mengantarnya.
" Saya bilang ke ibu, kalau bisa sekolahnya yang SMA yang siang, karena sebetulnya diterima yang pagi," kata Mayjen Dudung.
" Kenapa? karena saya pengen siangnya itu ada waktu, paginya saya ngantar koran dulu. Jadi saya ikut nganter koran waktu itu, yang punya koran itu pak Mulyono, jadi saya ikut. Jam setengah empat pagi saya udah ke Cikapundung ngambil koran, kemudian saya antar koran," lanjutnya.
Saat menjadi loper koran, Mayjen Dudung juga kerap membaca koran-koran tersebut karena banyak informasi menarik dan menambah wawasan.
" Tapi sebelum saya antar koran ke pelanggan, saya baca dulu koran-koran itu, setelah saya baca, tau perkembangan situasi dan segala macam isi koran itu," ujar Mayjen Dudung.
Saat menjadi loper koran, ada pengalaman yang diingat oleh Mayjen Dudung. Ia pernah ditabok oleh tentara berpangkat Mayor lantaran koran yang ia bawa sempat jatuh dan kotor.
" Kemudian saya berangkat pakai sepeda, sepeda pun saya pakai sepeda ontel yang sudah tidak ada pedalnya, rem nya pakai sandal capit yang bekas itu kemudian saya antar, ada koran saat itu saya terlambat sampai ditabok, ada Mayor Kavaleri karena koran itu jatuh, kemudian agak kotor, pas saya kasihkan malah ditabok. Ya itu pengalaman," ungkapnya.
Melihat tayangan tersebut, para netizen kemudian memberikan beragam komentarnya. Seperti komentar-komentar berikut ini.
" Mengenal pak Dudung sejak taruna, ramah, low profile dan mengikuti jejak ibundanya...berbagi di setiap kesempatan," tulis Liza Rachmi Anura.
" Patut diacungi jempol perjuangan Jenderal Dudung Abdurachman, pengalaman beliau yg sangat berharga bisa menjadi contoh bagi generasi muda sekarang.....Allah Subhanahu wa'taala apabila sudah berkehendak maka jadilah," tulis Sentot Soe.
" Kisah yg sangat menginspirasi.. Semangat pak dudung semakin diatas semakin membumi," tulis Ely Sulastri.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya