Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Piring Terbang Itu Bernama Low-Density Supersonic Decelerator (thewestsidestory.net)
Dream - Explorasi Mars terus berlanjut. Kali ini, badan antariksa Amerika Serika NASA sedang mengujicoba pesawat mirip piring terbang untuk program pendaratan Mars di masa depan.
Dalam uji coba pada Sabtu pekan kemarin, piring terbang tersebut berhasil terbang seperti yang direncanakan. Namun terjadi masalah saat akan mendarat di atas Samudra Pasifik.
Untuk menguji terbang dan pendaratan, piring terbang bernama Low-Density Supersonic Decelerator itu diangkat oleh sebuah balon udara raksasa seluas lapangan sepakbola di sebuah pangkalan militer di pulau Kauai, Hawaii.
Setelah sekitar 2,5 jam mengudara dan balon tersebut telah mencapai ketinggian 120.000 kaki (36.600 meter), piring terbang tersebut dilepas. Kendaraan antariksa itu kemudian menyalakan mesin roketnya dan berhasil naik ke ketinggian 180.000 kaki (54.900 meter) dengan kecepatan 3,8 kali kecepatan suara.
Saat roket tersebut dimatikan, NASA mulai uji coba pertamanya. Pada uji coba pertama ini NASA mengaktifkan alat berbentuk seperti donat yang bisa mengembang bernama Supersonic Inflatable Aerodynamic Decelerator.
Alat itu berhasil memperlambat kecepatan piring terbang meluncur ke Bumi menjadi 2,5 kecepatan suara.
Setelah itu, NASA mulai uji coba keduanya, yakni memperhalus pendaratan piring terbang di atas Samudra Pasifik dengan menggunakan parasut raksasa berdiameter 36 meter.
Teknologi baru ini diuji di atas ketinggian yang sama dengan ketinggian atmosfer Mars.
Parasut raksasa tersebut seharusnya bisa mendaratkan piring terbang dengan lembut di permukaan Samudra Pasifik. Tapi, dia gagal mengembang secara sempurna sehingga piring terbang tersebut tercebur ke dalam laut.
Seorang pejabat NASA mengatakan, parasut tersebut nampaknya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Kemungkinan karena dia tidak mengembang secara sempurna.
Meskipun gagal tapi NASA puas dengan uji coba senilai US$150 juta tersebut. " Apa yang kita saksikan tadi adalah uji coba yang sangat baik," kata pejabat tersebut dikutip laman Emirates 24/7, Senin 30 Juni 2014.
Ditambahkannya, kegagalan ini adalah kesempatan untuk melihat data dan mempelajari apa yang terjadi dan menerapkan uji coba berikutnya.
NASA akan melakukan dua uji coba lagi untuk menguji lebih jauh teknologi pendaratan di Mars. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam