Peluru Polisi untuk Jessica

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 5 Februari 2016 16:00
Peluru Polisi untuk Jessica
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan pihaknya telah menyiapkan strategi khusus menghadapi pembelaan tim kuasa hukum Jessica.

Dream - Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tinggi DKI bekerja keras mengungkap tabir kematian Wayan Mirna Salihin. Usai penetapan tersangka, dua lembaga ini tengah fokus melengkapi alat bukti dan menyiapkan dakwaan terhadap tersangka Jessica Kumala Wongso.

" Sekarang langkah polisi adalah bagaimana memperkuat alat bukti. Meyakinkan teman-teman Jaksa agar mereka yakin dan segera P21 (berkas lengkap),'' kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian di Polda Metro Jaya, Jumat, 5 Februari 2016.

Selain itu, Tito menjamin anak buahnya akan bekerja maksimal dalam membantu jaksa selama persidangan. Sebab, kewajiban polisi bukan hanya menyelesaikan berkas hingga P21 saja, melainkan menyelesaikan kasus ini sampai vonis.

" Harapan kami ialah menjerat tersangka dengan hukuman maksimal dapat terwujud,'' kata dia.

Tito juga merasa yakin dengan alat bukti yang dimiliki para penyidik cukup kuat. Tito mendasarkan keyakinannya pada kinerja tim penyidik yang telah berani memutuskan status tersangka pada Jessica.

" Penyidik sudah berani menahan berarti alat bukti sudah lengkap, tinggal disempurnakan,'' ucap Tito.

Sementara itu, Tito semakin yakin kasus ini akan terbongkar. Dia mengatakan pihaknya sudah menyiapkan strategi khusus untuk mematahkan pembelaan kuasa hukum terhadap Jessica.

" Peluru apa yang penuntut punya ialah salah satu strategi untuk mematahkan dalil-dalil pembela," ucap dia.

Dia juga yakin tim kuasa hukum tersangka telah menyiapkan strategi tertentu untuk kepentingan pembelaan. Salah satunya adalah memanfaatkan hak ingkar.

" Tersangka mungkin akan berusaha mengelak. Nah, pihak keempat yaitu tersangka dan penasehat hukumnya itu juga punya strategi," ucap Tito.

Untuk itu, kata Tito, pihaknya segera melengkapi dan memperkuat alat bukti yang ada. Dia menilai waktu yang tersisa masih cukup bagi penyidik untuk melengkapi alat bukti. (Ism) 

 

1 dari 5 halaman

Sakit Hati, Ayu Tuang Tiner ke Minuman Novi

Dream - Seorang buruh wanita bernama Ayu Lestari (23) di kawasan Berikat Nusantara (KBN), Cakung, Cilincing, Jakarta Utara, nekad meracun rekan kerjanya lantaran sakit hati. 

Ayu menuangkan tiner (pembersih cat) ke botol minuman air mineral, Noviana Wulandari (23). 

" Tersangka sakit hati kepada korban. Karena sering dihina dengan dilempar celana yang dikerjakannya untuk membersihkan benang hasil jahitan," kata Kepala Polsek Metro Cilincing Komisaris M Supriyanto, Jumat 6 Februari 2016.

Di perusahaan itu, Noviana bekerja sebagai petugas quality control. Sedangkan Ayu bertugas membersihkan benang sisa dari kain yang diproduksi.

Ayu sebenarnya sudah berulangkali menegur dan mengingatkan korban untuk tidak meremehkannya, namun aksi itu terus berlangsung selama dua bulan.

Kekesalan itu membuat wanita asal Lampung ini menyimpan dendam. Ayu kemudian menuangkan tiner ke botol minuman milik Noviana secara diam-diam.

Noviana tak sadar botol minumannya berisi tiner. Saat makan siang, dia langsung menenggak isi botol. Korban langsung mual, muntah, dan mukanya memerah.

" Korban sempat mencium bau tiner dari minumannya, tapi karena ruangan tempatnya bekerja bau tiner sehingga korban tidak curiga," kata Supriyanto menambahkan.

Beruntung nyawa korban dapat diselamatkan setelah dibawa ke Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara.

Dari tempat kejadian perkara, polisi mengamankan air mineral botol dengan campuran tiner yang diminum korban.

Pelaku dijerat Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penganiayaan dengan ancaman penjara di atas 2 tahun. (Ism) 

2 dari 5 halaman

Ini yang Dilakukan Jessica di Ruang Tahanan

Dream - Empat hari menjadi tahanan di ruang tahanan Polda Metro Jaya, Jessica Kumala belum sempat berkenalan dengan teman-teman sesama tahanan.

Sebab, Jessica menjadi tahanan yang punya jadwal untuk diperiksa tim penyidik Polda Metro Jaya.

Direktur Perawatan Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Barnabas mengatakan, Jessica belum sempat berkenalan dengan tahanan lain karena padatnya jadwal pemeriksaan di ruang penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Direskrimum Polda Metro Jaya.

" Dia itu sering dibawa penyidik," ujar Barnabas, Jumat 5 Februari 2016.

Pemeriksaan pada Jessica membutuhkan waktu berjam-jam. Tak jarang, pemeriksaan berlangsung hingga tengah malam.

" Biasanya Jessica mulai dibawa keluar dari tahanan di siang hari dan menghabiskan waktu hingga sore hari di ruang penyidik. Makanya dia jarang makan siang di tahanan," ujar Barnabas.

Usai diperiksa, Jessica dikembalikan ke sel pada malam hari harinya. Dia kembali ke ruang tahanan saat penghuni sel sudah terlelap.

" Faktor itu yang membuat Jessica belum bersosialisasi dengan sesama tahanan. Apalagi Jessica menempati selnya sendirian," jelasnya.

Jika tak diperiksa penyidik, Jessica menghabiskan waktu dengan menyibukkan dirinya sendiri. Menurut Barnabas, Jessica kerap sesekali menghabiskan waktu dengan membaca buku.

" Paling dia itu tidur atau baca buku saja di selnya. Hanya menghabiskan waktu saja," ujar Barnabas. (Ism)

3 dari 5 halaman

Pengacara Jessica Ternyata Tersangka

Dream - Yudi Wibowo, pengacara Jessica Kumala Wongso, tersangka kasus kematian Mirna Salihin, tercatat sebagai jadi status tersangka di Polrestabes Surabaya. Yudi menjadi tersangka dalam kasus pencemaran nama baik pada 2013 silam‎.

Yudi membenarkan informasi itu. Tetapi, soal status penyidikannya, Yudi mengaku, masih mengambang.

" Itu kasus sudah lama, 3 tahun lalu. Saya juga tidak tahu kelanjutannya bagaimana. Saya saat itu sedang membela seorang siswa yang dipukuli gurunya sampai babak belur kepala dan hidungnya," kata Yudi, Kamis, 4 Februari 2016.

Menurut Yudi, ketika itu dia sedang membela seorang murid sorang siswa SMP GIKI berinisial FA. Yudi mengatakan kala itu FA dianiaya oleh seorang guru yang bernama Saul Krisdiono.

Saat kasus itu bergulir, Yudi mengaku, mengadukan Saul Krisdiono karena menganiaya murid tersebut ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan Kementerian Kebudayaan ‎dan Pendidikan.

Tetapi, dalam aduan itu Saul melaporkan balik Yudi ke Polrestabes Surabaya dalam pencemaran nama baik.

‎Alhasil, laporan itu berbuntut pada penetapan tersangka Yudi. Saat ditetapkan sebagai tersangka, Yudi menggugat hal itu dengan mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Pada 10 Oktober 2015, gugatan praperadilan itu berlangsung. Tapi ditolak majelis hakin Pengadilan Negeri Surabaya.

Meski ditolak, Yudi menyebut, majelis hakim menggarisbawahi hasil praperadilan. Dia mengatakan, hasil praperadilan itu menyatakan jika advokat atau pengacara tidak boleh dituntut saat membela seorang klien.

" Intinya hakim mengatakan, advokat itu tidak bisa digugat perdata maupun pidana. Baca undang-undang! Pasal 16 Nomor 18 Tahun 2003, advokat tidak bisa dipolisikan selama dalam rangka membela klien di persidangan," kata dia menegaskan.

Yudi menjelaskan, Saul yang memperkarakan kasus itu sudah dijatuhi hukuman oleh pengadilan, kurungan penjara selama 3 bulan serta denda Rp 40 juta.

Yudi siap bila ada yang memperkarakan kasus itu kembali ke ranah hukum. " Tanya sama yang ngasih info ini. Saya siap di penjara bila terbukti bersalah," ujarnya. (Ism) 

4 dari 5 halaman

Firasat Buruk Mirna Sebelum Meninggal

Dream - Dharmawan Salihin menceritakan perilaku putrinya sebelum meninggal dunia usai meminum kopi Vietnam bersama Jessica dan Hani di Kafe Olivier, Jakarta pada 6 Januari 2016.

Cerita itu ia dapatkan dari Arief, suami Mirna. Menantunya itu ikut mengantar Mirna bertemu dengan Jessica dan Hani.

" Saya tanya ke mantu saya. Arief kamu anterin Mirna ke sana (tempat ngopi), yang aneh apa saat itu?" tanya Dharmawan dalam acara Indonesia Lawyers Club di tvOne, Selasa malam lalu.

Kepada Arief, Mirna mengaku perasaannya tak nyaman, sebelum bertemu Jessica. Dia dan sang suami saat itu tak langsung ke kafe tempat pertemuan, melainkan menunggu Hani, teman Mirna dan Jessica.

" Gue agak enggak enak nih, ketemu dia (Jessica). Nunggu Hani dulu deh," kata Dharmawan menirukan Mirna seperti dituturkan Arief.

Mirna kemudian mengajak Arief berbelanja di mal tempat Kafe Olivier, sambil menunggu kedatangan Hani. " Itu waktunya sekitar 48 menit. Baru setelah itu Mirna dan Hani masuk ke kafe bertemu Jessica."

Saat itu Mirna sudah tidak bersama suaminya. Arief meninggalkan Mirna dan Hani karena harus kembali ke tempat kerja dan merasa pertemuan itu hanya urusan wanita.

5 dari 5 halaman

Bisikan Terakhir Sang Ayah untuk Mirna

Dream - Dharmawan Salihin, Ayah Wayah Mirna Salihin sempat menolak autopsi terhadap putrinya itu. Namun, setelah menyadari ada ketidakwajaran dalam kematian Mirna, keluarga merelakan.

" Awalnya saya dan keluarga tidak mau (jasad Mirna) diacak-acak, kasarnya begitu. Polisi juga bilang kalau tidak diautopsi, tidak ada crime, selesai. Akhirnya ya kita relakan," kata Dharmawan bercerita di acara Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa kemarin.

Setelah itu diambillah sampel dari jasad Mirna. Dharmawan sempat masuk sejenak mengikuti prosesnya.

" Pas dibuka petinya semua masih tampak bagus. Muka Mirna lebih putih," ujarnya.

Saat itu, Dharmawan sempat meminta izin untuk mencium dan membisikan sebuah pesan ke Mirna.

" Saya bisikin, Mir ini untuk kepentingan kamu, autopsi ya. Papa minta maaf. Jadi relain saja, nanti terungkap siapa yang melakukan ini pada kamu," kata Dharmawan

Begitu autopsi selesai dilakukan, Dharmawan mendapat laporan kematian Mirna tidak wajar. Diracun.

Beri Komentar