Psikolog: Sifat Amorous Narcissist Jessica Masih Dugaan

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 19 September 2016 16:14
Psikolog: Sifat Amorous Narcissist Jessica Masih Dugaan
Belum bisa disimpulkan bahwa Jessica punya kecenderungan menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Dream – Psikolog Universitas Indonesia, Dewi Taviana Walida, menilai sifat amorous narcissist pada diri terdakwa kasus kopi sianida, Jessica Kumala Wongso, masih berupa dugaan. Sehingga belum bisa disimpulkan bahwa Jessica punya kecenderungan menyakiti diri sendiri atau orang lain.

“ Narcissist itu mengagumi diri sendiri. Ternyata, kita tidak bisa menyimpulkan kalau seseorang membunuh itu dilihat dari sisi psikologisnya saja,” kata Dewi dalam keterangannya di persidangan, Senin 19 September 2016.

Pada sidang sebelumnya, psikolog yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, Antonia Ratih, menyebut Jessica memiliki sifat amorous narcissist.

Menurut Ratih, amorous narcissist merupakan salah satu sifat kepribadian yang sering menggunakan kebohongan rumit. Orang yang memiliki sifat ini cenderung menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Namun, kata Dewi, orag yang berpotensi melakukan pembunuhan bukan hanya pemilik sifat itu. Semua orang berpotensi membunuh. Tak hanya orang yang memiliki sifat amorous narcissist saja, orang baik pun bisa melakukan pembunuhan.

“ Di dalam laporan belum tergambar. Jadi ada ruang kosong yang tak terlihat, orang biasa pun biasa juga melakukan yang sama (membunuh), juga orang baik,” ucap Dewi.

1 dari 3 halaman

Ragukan Kesimpulan Ahli Jaksa

Dewi pun meragukan kesimpulan Ratih. Ini lantaran Ratih menyebut Jessica sehat secara mental, tetapi juga memiliki mental disorder (gangguan mental).

" Itu kontradiktif, tujuannya untuk profiling, tapi untuk waras dan sadar lalu ada mental disorder, itu kan berbeda," kata Dewi.

Selain itu, Dewi mengatakan ada ketidaksinkronan pada kesimpulan Ratih. Dewi pun berani menyebut kesimpulan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.

" Ada ketidaksinkronan tujuan dan kesimpulan. Jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan," ucap dia.

2 dari 3 halaman

Ahli: Tangan Jessica Seperti Nenek Lampir

Dream – Ahli digital forensik, Rismon Hasiholan Sianipar, menduga terjadi proses pengubahan rekaman CCTV Kafe Olivier yang ditayangkan dalam kasus kopi bersianida. Dia menemukan proporsi gambar yang ganjil pada video tersebut.

“ Kalau kita bandingkan dari TVOne dan BeritaSatu, jari telunjuk terdakwa Jessica tidak proporsional,” kata Rismon dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 14 September 2016.

Dalam persidangan ini, ahli digital forensik yang diajukan oleh terdakwa Jessica Kumala Wongso ini menampilkan video yang dia ambil dari tayangan sejumlah televisi nasional, KompasTVTVOneiNews, dan BeritaSatuTV. Selain itu, dia juga mengunduh video di Youtube.

Video-video itu pernah diputar oleh Jaksa Penuntut Umum di dalam persidangan dan disiarkan, baik langsung ataupun tidak, oleh televisi-televisi nasional tersebut.

Dari analisa terhadap video yang dia dapatkan itu, Rismon menduga ada proses perubahan video oleh ahli digital forensik yang diajukan oleh ahli digital forensik jaksa, Muhammad Nur Al-Azhar.

Rismon membandingkan warna dan kontur kulit wajah Jessica dengan bagian tangan yang terlihat berbeda. “ Kita lihat, wajah dan tangannya kelihatan warnanya beda, kontur tangannya seperti kontur tangan Nenek Lampir,” ujar dia.

Dalam rekaman CCTV, kata Rismon, terjadi keanehan. Sewaktu melihat pergerakan Jessica ketika menggaruk. “ Kita lihat pergerakan garuknya, cepat sekali sekitar 0,1 detik,” ucap Rismon.

Mendengar pernyataan tersebut, ketua tim pengacara Jessica, Otto Hasibuan, terheran-heran, kenapa bisa seperti itu. “ Ooh cepat ya, kaya tinju gitu,” ujar Otto.

Rismon pun kemudian mengamini pernyataan Otto. “ Iya kata Mike Tyson,” kata Rismon.

3 dari 3 halaman

Ahli IT Jessica: Jaksa Tampilkan Video Ilusi

Dream – Ahli digital forensik, Rismon Hasiholan Sianipar, mengritik rekaman CCTV Kafe Olivier yang diputar oleh Jaksa Penuntut Umum di depan persidangan kasus kopi bersianida. Dia menyebut, rekaman itu hanya menampilkan ilusi.

“ Pada event-event penting, bukannya ditampilkan frame by frame, tetapi diperlihatkan secara normal, itu menimbulkan ilusi pergerakan, yang mengajak penonton berilusi,” kata Rismon dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 15 September 2016.

Ahli yang diajukan oleh terdakwa Jessica Kumala Wongso ini mencurigai ahli IT dari pihak jaksa sebelumnya telah melalukan tampering atau mengubah data secara ilegal.

“ Kita lihat sekarang, frame by frame. Pada titik di mana yang diduga ada pergerakan, di situ terdapat diskontinuitas. Ada yang putus, menjadi hilang satu atau dua frame,” kata dia.

“ Sehingga, dugaan kami, seakan-akan gerakan lengan kiri muncul pixel yang cukup cerah. Bagaimana ini bisa terjadi?” tambah Rismon.

Menurut dia, tampering dilakukan dengan sengaja dengan tujuan yang tidak baik. “ Kita duga adanya perbuatan tampering suatu modifikasi ilegal, untuk tujuan tidak baik, indikasi rekayasa sangat kuat,” ujar dia.

Dalam persidangan ini, Rismon menduga rekaman CCTV yang dihadirkan jaksa ke persidangan kasus kopi bersianida telah mengalami perubahan atau diedit. Dia melihat sejumlah kejanggalan dalam video tersebut.

Berita Acara Pemeriksaan (BAP), kata Rismon, menyebut meta data dalam file bernama Ch_17_15.11_16.17 mp4, hanya berjumlah 2.707. Menurutnya jumlah frame seharusnya sebanyak 98.750.

“ Di BAP ditulis jumlah framenya ada 2.707, seharusnya jumlah framenya ada 98.750 frame,” kata Rismon.

Selain itu, Rismon juga menemukan keganjalan lain dalam BAP yang menyatakan rekaman CCTV sudah diekstraksi ke media lain, seperti flashdisk, hard disk, tidak akan mengalami perubahan kualitas.

Menurut Rismon, berdasarkan keterangan dalam BAP, data rekaman ysng berada di CCTV, dengan flashdisk ukuran 32 GB yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan dari rekaman tersebut, menyatakan 1920 x 1080 pixel.

“ Tapi dalam flashdisk 960 x 576 pixel, itu artinya ada pemotongan, lebih kecil dari ukuran CCTV yang dikalim,” ujar dia.

Saat awal persidangan hari ini, jaksa menyoal laptop yang digunakan oleh Rismon untuk memberikan presentasi di persidangan. Jaksa bertanya apakah laptop itu sudah sesuai standar atau belum.

Perrtanyaan yang diajukan oleh jaksa, karena pengacara Jessica menginginkan ahli IT ini akan menganalisa rekaman CCTV milik Kafe Olivier –sudah disita polisi– yang merekam peristiwa saat Wayan Mirna Salihin keracunan.

“ Mohon maaf yang mulia, sebelum ahli menjelaskan, apakah laptop saudara ahli sudah tersandar atau terverifikasi?,” tanya salah satu jaksa.

Mendengar pertanyaan tersebut, pengacara Jessica, Otto Hasibuan, langsung naik pitam. “ Loh kami juga kan tidak pernah tanyakan ahli saudara menganalisa pakai metode apa,” tegas Otto.

Selanjutnya, jaksa masiih bersikukuh menanyakan apakah laptop Rismon terverifikasi atau tidak, menurutnya hal itu diperlukan karena dikhawatirkan barang bukti rekaman CCTV, yang akan diputar di laptop Rismon akan berubah.

Setelah perdebatan cukup alot, majelis hakim pun mencoba menengahi. “ Untuk pemutaran rekaman CCTV, kita tunggu ahli dari JPU,” ucap ketua majelis hakim, Kisworo.

Beri Komentar