Geger Video Turis Asing Kejang di Bandara Ngurah Rai, Bukan Efek Virus Corona

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 13 Februari 2020 19:02
Geger Video Turis Asing Kejang di Bandara Ngurah Rai, Bukan Efek Virus Corona
Dia kesakitan di pinggul belakang (atau) back pain.

Dream - Video seorang wisatawan asing di Bali yang tiba-tiba mengeluh kesakitan dan berguling-guling membuat riuh suasana di Terminal Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai. Dia terlihat menahan sakit sembari terus memegang pinggang.

" Seorang wisatawan di Bandara International I Gusti Rai tiba-tiba jatuh pingsan, Selasa (11/2) malam. Kondisi wisatawan tersebut membuat orang di sekitarnya merasa was-was karena takut wisatawan tersebut terkena virus corona," tulis video tersebut.

Communication And Legal Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim membenarkan peristiwa yang dialami pria asing tersebut.

Dia menceritakan peristiwa itu terjadi di area kedatangan Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Tetapi, wisatawan itu bukan pingsan tetapi kesakitan pinggul.

" Iya itu, Warga Negara Korsel (Korea Selatan). Dia kesakitan di pinggul belakang (atau) back pain. Tidak benar itu pingsan," kata Arie, dilaporkan Merdeka.com, Kamis, 13 Februari 2020.

Dia belum mengetahui identitas wisatawan asing itu. Kejadian itu berlangsung sangat cepat saat itu pula wisatawan tersebut sudah dibawa ke Rumah Sakit Siloam Kuta.

" (Wisatawan itu) dijemput sama Klook Travel dan dibawa ke Siloam," ujar dia.

(Sah, Sumber: Merdeka.com/Moh.Kadafi)

1 dari 5 halaman

Warga China Positif Corona Sepulang dari Bali, Dinkes Lacak Jejaknya

Dream - Dinas Kesehatan Bali sudah mengetahui informasi turis asal China, Jin, yang diketahui terpapar virus Corona setelah pulang berlibur dari Pulau Dewata. Kini, Dinas Kesehatan Bali tengah melakukan penelusuran.

" Saya barusan dapat baca infonya. Kalau kita runut dia ke Balinya sekitar 9 hari sebelum dia terpapar corona," kata Kepala Dinas Kesehatan Bali, I Ketut Suarjaya, dikutip dari iMerdeka.com, Kamis 13 Februari 2020.

" Jadi kemungkinan saja dia setelah sampai di China baru terpapar karena pada waktu itu kan memang kondisi China sedang outbreak," tambah dia. 

Suarjaya meyakini Jin terpapar virus yang dikenal dengan nama Covid-19 saat berada di China. Sebab, masa inkubasi berlangsung selama tiga hingga tujuh hari.

" Masa inkubasinya tiga sampai tujuh hari padahal di China terkena sembilan hari setelah dia meninggalkan Bali kan begitu. Dia sembilan hari sudah meninggalkan Bali, itu kemungkinan pertama dia dapatnya di China," ujar dia.

" Kemungkinan ke dua masa inkubasinya juga memperpanjang sampai 14 hari. Karena di Bali tidak ada kasus (corona). (Kemudian) 14 harinya berarti apakah dia selama di Bali masih membawa virus? Harapan kita tidak, karena hitungan-hitungannya 14 harinya di mana kenanya di Bali, sedangkan di Bali tidak ada kasus," kata dia.

2 dari 5 halaman

Sempat Berlibur di Bali

Meski demikian, Dinas Kesehatan Bali akan melacak kemana saja Jin selama di Bali. Sebab, pihaknya telah menerima data Jin dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia.

" Tapi walaupun begitu tetap kita lakukan contact tracking, di mana dia menginapnya. Hari ini, kita cari datanya karena tidak mudah (mencari) dia menginap," ujar Suarjaya.

Seperti diketahui, seorang warga China dinyatakan positif terkena virus corona oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Kota Huainan, Provinsi Anhui, pada Rabu, 5 Februari 2020. Menurut akun resmi Pemerintah Provinsi Anhui di laman Weibo, dia sebelumnya sempat berkunjung ke Bali akhir Januari 2020.

Lelaki tersebut dilaporkan terbang ke Bali dari Wuhan menggunakan maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT-2618 pada 22 Januari. Setelah sepekan, warga China itu lalu terbang ke Shanghai menggunakan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-858 pada 28 Januari 2020.

Begitu sampai di Shanghai, dia sempat menginap di hotel Bandara Pudong dan pergi ke Stasiun Selatan Nanjing keesokan harinya untuk menuju ke Huainan menggunakan kereta bernomor seri G1814 dan G2809. Delapan hari kemudian, warga China itu dinyatakan positif terjangkit virus corona oleh CDC Kota Huainan.

Sumber: Merdeka.com/Moh. Kadafi

3 dari 5 halaman

500 Staf Rumah Sakit di Wuhan Terinfeksi Virus Corona

Dream - Sebanyak 500 staf rumah sakit di Wuhan, Hubei, China, terinfeksi virus corona. Kondisi ini membuat rumah sakit mengalami kekurangan staf.

Menurut South China Morning Post (SCMP) pemerintah Chinta telah melaporkan kasus-kasus petugas kesehatan yang terinfeksi virus Corona. Sumber dari rumah sakit menyatakan, kabar ini tidak disebarkan secara menyeluruh untuk menjaga moral petugas kesehatan.

Saat ini, pemerintah China terus meningkatkan moral staf medis di garis depan setelah kematian Li Wenliang.

Li meninggal usai mengidap virus corona. Dia sempat diamankan polisi karena dianggap menyebar kebohongan mengenai virus baru yang belakangan diberi nama Covid-2019 itu.

4 dari 5 halaman

Jumlahnya Dibenarkan Pihak Rumah Sakit

Sebuah tayangan yang beredar online mengungkapkan skala infeksi di antara petugas medis di Wuhan.

Pada pertengahan Januari, ada sekitar 500 kasus yang dikonfirmasi di antara staf rumah sakit, sementara 600 lainnya diduga terinfeksi. Sebuah sumber dari sebuah rumah sakit besar di Wuhan mengkonfirmasi bahwa slide itu asli.

Angka-angka yang ditunjukkan pada tayangan itu sejalan dengan angka yang diberikan dua dokter lain dari rumah sakit besar di Wuhan.

Mereka yang terinfeksi termasuk setidaknya 100 staf dari Rumah Sakit Wuhan Xiehe dan Rumah Sakit Renmin Universitas Wuhan, dengan masing-masing 50 kasus lagi dari Rumah Sakit Nomor 1 Wuhan dan Rumah Sakit Zhongnan.

5 dari 5 halaman

Baru Disahkan, Ini Nama Resmi Virus Corona yang Mewabah di Wuhan

Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan nama resmi virus corona Wuhan. Sebelumnya virus corona hanya disebut dengan kode 2019-nCoV.

Namun WHO kini resmi memberikan nama COVID-19 untuk menyebut virus yang kini tengah mewabah di Wuhan, China, tersebut. Keputusan nama itu diambil setelah pertemuan ratusan ahli kesehatan di Jenewa, Swiss.

" Kami sekarang memiliki nama untuk penyakit ini dan itu COVID-19," kata Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari Science Alert.

Tedros mengatakan bahwa " co" adalah singkatan dari " corona" , " vi" untuk " virus" dan " d" untuk " penyakit" , sementara " 19" adalah untuk tahun sebaran wabah.

Menurut Tedros, nama itu telah dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan atau sekelompok orang, sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan yang bertujuan mencegah stigmatisasi.

WHO sebelumnya memberi virus nama sementara " penyakit pernafasan akut 2019-nCoV" dan Komisi Kesehatan Nasional China minggu ini mengatakan sementara waktu menyebutnya " novel coronavirus pneumonia" atau NCP.

Beri Komentar