Viral Video Siswi SMP Dibully, 3 Siswa Telah Ditetapkan Jadi Tersangka

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 13 Februari 2020 14:42
Viral Video Siswi SMP Dibully, 3 Siswa Telah Ditetapkan Jadi Tersangka
Ketiganya saat ini menjalani pemeriksaan di Mapolres Purworejo.

Dream - Tiga pelajar remasa yang melakukan aksi perundungan terhadap seorang siswi ditetapkan sebagai tersangka dugaan persekusi. Kapolres Purworejo, Jawa Tengah, Ajun Komisaris Besar Polisi Rizal Marito mengungkapkan ketiga siswa itu adalah TP, DF, dan UHA.

Ketiganya adalah siswa yang tertangkap kamera melakukan kekerasan terhadap seorang siswi SMP di Butuh diketahui berinisial CA.

" Sudah ditetapkan sebagai tersangka ya," ujar Rizal dikutip dari Liputan6.com.

Ketiga siswa tersebut telah diamankan polisi dan masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Purworejo.

" Benar, sedang kita proses," ujar Rizal.

Lebih lanjut, Rizal menjelaskan sudah ada laporan pengaduan yang diterima kepolisian terkait kasus ini. Tetapi, dia enggan menjelaskan pihak yang melayangkan laporan tersebut.

" Sudah dibuat laporan resminya," kata dia.

Sebelumnya, video kekerasan yang dialami CA viral di media sosial. Video tersebut mendapat banyak kecaman.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo juga mendapatkan video tersebut di akun media sosialnya. Dia segera bertindak menghubungi sejumlah pihak terkait untuk menangani kasus tersebut, termasuk kepala sekolah dan kepolisian.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Yopi Makdori.)

1 dari 5 halaman

Siswi SMP Dibully 3 Siswa, Gubernur Ganjar Telepon Kepsek

Dream - Kekerasan di lingkungan sekolah kembali terulang. Kali ini menimpa seorang siswi Sekolah Menengah Pertama.

Aksi kekerasan itu sempat terekam kamera dan viral di media sosial. Sejumlah akun menyebarkan kembali video tersebut.

Dalam video tersebut, seorang siswi SMP berjilbab duduk di bangku kelas dan terlihat sedang belajar. Sementara, ada beberapa siswa yang berada di sekitar siswi tersebut.

Awalnya, sempat terjadi percakapan di antara para siswa tersebut. Sejenak kemudian, seorang siswa berdiri lalu menepuk kepala siswi tersebut dengan cukup keras.

 Perundungan di Purworejo© Instagram

Aksi itu diikuti beberapa siswa lainnya. Ada yang menendang, memukul dengan gagang sapu, bahkan melayangkan bogem.

Siswi tersebut hanya bisa menutup muka. Dia tidak kuasa membalas perlakuan buruk dari teman-temannya.

Informasi yang tercantum dalam kolom status @radarcirebon menyebutkan video itu diambil di salah satu SMP di Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

 

2 dari 5 halaman

Gubernur Ganjar Segera Bertindak

Video kekerasan tersebut sampai ke Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Ganjar pun bertindak cepat dengan menghubungi sejumlah pihak untuk menangani kasus ini.

" Kasek (kepala sekolah) sudah saya telpon & dia sudah menanganinya, demikian juga pihak kepolisian sudah mendapatkan laporan. Pak Bupati juga sudah saya telp," tulis Ganjar di akun Instagramnya, @ganjar_pranowo.

      View this post on Instagram

Stop Perundungan! Akun saya dipenuhi info ttg video anak salah satu SMP di Butuh Purworejo. Kasek sdh saya telp & dia sdh menanganinya, demikian juga pihak kepolisian sdh mendapatkan laporan. Pak Bupati jg sdh saya telp. Saya minta pengawas sekolah besok turun & dari dinas P&k Prov Jateng akan membantu. Semoga ortu mereka juga paham apa yg terjadi dg anak2 merekadi sekolah itu. https://jateng.tribunnews.com/2020/02/12/siswi-smp-purworejo-dibully-ganjar-saya-telepon-kepala-sekolahnya-besok-disdik-ambil-tindakan

A post shared by Ganjar Pranowo (@ganjar_pranowo) on

Ganjar juga sudah meminta pengawas sekolah turun tangan. Juga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

" Semoga orangtua mereka juga paham apa yang terjadi dengan anak-anak mereka di sekolah itu," kata Ganjar.

3 dari 5 halaman

Kabar Prihatin! 123 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual di Sekolah Selama 2019

Dream - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti melaporkan aksi kekerasan seksual di institusi pendidikan selama 2019 mencapai 21 kasus dengan melibatkan 123 anak sebagai korban.

Sebagian besar korban perserta didik tersebut adalah siswa perempuan.

" 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dikutip dari , Selasa 31 Desember 2019.

Retno mengatakan, anak laki-laki dan perempuan tidak menutup kemungkinan menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan sekolah.

Catatan tersebut tentu menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan Tanah Air. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman ke dua setelah rumah masih bisa menjadi sasaran tindak kekerasan seksual.

 

4 dari 5 halaman

Korban Kekerasan Paling Banyak di SD

Menurut Retno, 21 kasus kekerasan seksual pada anak paling banyak terjadi di Sekolah Dasar (SD) yakni 13 kasus, SMP 5 kasus dan SMA 3 kasus.

Retno menjelaskan, tingginya angka kekerasan seksual di SD dikarenakan karena anak-anak masih mudah dibujuk dengan suatu yang disukainya. Selain itu, anak-anak SD juga masih mudah ditakut-takuti dengan ancaman.

" Di sinilah pentingnya dilakukan pendidikan seks sejak dini," ucap dia.

5 dari 5 halaman

Guru Paling Banyak Jadi Pelaku

Dalam kasus ini, guru menjadi pelaku kekerasan seksual anak di institusi pendidikan. Dari 21 kasus itu, mayoritas pelakunya adalah guru laki-laki.

Oknum guru yang menjadi pelaku itu mengajar sebagai guru olahraga sebanyak 29 persen, guru agama 14 persen, guru kesenian 5 persen, guru komputer 5 persen, guru IPS 5 persen, guru BK 5 persen, guru Bahasa Inggris 5 persen dan wali kelas sebanyak 23 persen.

Modus para guru yang menjadi pelaku itu biasanya mengancam akan memberikan nilai jelek, tidak akan naik kelas, membelikan handphone, membelikan pulsa, pakaian baru, membelikan pusa, memacari anak didiknya dan bernjanji akan menikahinya.

Selain itu, banyak kasus kekerasan seksual terjadi ketika korbannya tengah mengganti pakaian di waktu jam olahraga, saat berada di ruang unit kesehatan sekolah (UKS) atau di ruang bimbingan konseling (BK). Tak jarang, guru BK meminta siswanya untuk masturbasi dengan dalih bimbingan konseling.

" Para pelaku juga menjalankan aksi bejatnya mayoritas di ruang kelas, ruang kepala sekolah, kebun belakang sekolah, ruang laboratorium komputer, gudang sekolah dan perpustakaan," kata dia.

Dari hasil penyelidikan KPAI, mayoritas kasus terjadi di lingkungan sekolah yang belum memiliki CCTV.

(Sumber: )

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya