Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pohon Ulin Atau Eusideroxylon Zwageri (Foto: Wikimedia/Bernard Dupont)
Dream - Sebagai negara tropis, Indonesia dikenal memiliki ribuan jenis pohon. Tetapi saat ini, ratusan jenis di antara pohon itu terancam punah.
Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat, ada lebih dari 487 pohon di Indonesia yang terancam punah. Ancaman itu membuat ilmuwan mengingatkan fase kepunahan masal keenam.
Untuk meningkatkan konservasi dan informasi mengenai populasi jenis pohon, sejumlah pakar, peneliti, praktisi, hingga pemerhati konservasi pohon, membentuk, Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI).
FPLI telah mengusulkan perhatian terhadap 12 jenis pohon langka di Indonesia. Sebagian besar memiliki status konservasi baik global maupun nasional.
Sebanyak 12 jenis pohon yang masuk kategori langka tersebut yaitu, pelahlar (Dipterocarpus littoralis), lagan bras (Dipterocarpus cinereus), resak banten (Vatica bantamensis), resak brebes atau pelahlar laki (Vatica javanica ssp.javanica), dan damar mata kucing atau pelahlar lengo (Shorea javanica).
Kemudian, kapur (Dryobalanops aromatica), ulin atau belian (Eusideroxylon zwageri), durian daun atau kerantongan (Durio oxleyanus), tengkawang pinang (Shorea pinanga), durian burung atau tabelak (Durio graveolens), saninten atau berangan (Castanopsis argentea), dan mersawa atau ki tenjo (Anisoptera costata).
Ketua FPLI, Tukirin Partomiharjo, mengajak masyarakat tak hanya berhenti pada konservasi pohon langka. Dia juga mengajak perlunya kesadaran menjaga pohon-pohon lain.
" Apa yang terjadi jika bumi tanpa pohon," kata Tukirin, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 27 November 2018.
Untuk mengenalkan masalah ini, FPLI juga mendorong generasi muda untuk menggelar penelitian dan berkarya melalui tulisan. Acara itu bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia 2018 yang jatuh pada 21 November.
Sebanyak, 170 karya tulisan pelajar dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua, mengenai pohon langka, terancam, dan endemik masuk ke meja panitia. Dia berharap, dengan karya-karya ini anak bangsa dapat menjadi salah satu referensi agar semakin peduli akan keberadaan pohon di Indonesia.
Sumber: Liputan6.com
Dream - Indonesia menyebut telah menemukan spesies burung baru di Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya berencana memberi nama burung itu Iriana.
" Saya minta izin bapak presien dan bapak presiden sudah setuju mau pakai nama ilmiahnya Ibu Negara (Iriana)," ucap Siti, dikutip Dream dari Merdeka, Senin, 30 Oktober 2017.
Burung yang masuk ke dalam keluarga Meliphagidae tersebut ditemukan oleh peneliti burung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dewi Malia Prawiradilaga.
Menurut pengukuran pada burung jantan, bobot burung itu mencapai 32,23 gram dengan panjang tubuh dari ekor hingga paruh mencapai 17,2 centimeter, dan panjang paruh 1,79 centimeter.
Ekor burung tersebut 3,7 centimeter dan tinggi kaki 1,67 centimeter. Bentangan sayap burung tersebut mencapai 1,72 centimeter dan panjang sayap 5,8 centimeter.
Burung ini memiliki habitat di hutan, semak-semak, dan pohon berbunga.
Selain spesies burung, dalam laporannya, Siti mengatakan telah menemukan orang utan spesies baru. Nama ilmiahnya Pongo tapanuliensis. Orang utan ini ditemukan di Tapanuli, Sumatera Utara.
Dream - Unggahan foto king kobra Made Dwi Sudarman menjadi pembicaraan hangat di dunia maya. Foto hewan bernama ilmiah Ophiophagus hannah itu tampak lentur bergerak di tangan Made.
Aktivis pecinta ular dan Ketua Yayasan SIOUX Aji Rachmat berpendapat ular yang viral itu terlihat tak agresif. Dari identifikasi itu dia menyebut bahwa ular berjenis king kobra dapat dipastikan ular peliharaan.
" Itu posisi ular tidak menunjukkan marah atau terganggu, jadi dia merasa nyaman dipegang," kata Aji kepada Dream melalui telepon, Kamis, 22 Maret 2018.
Menurut Aji king kobra yang sudah dipelihara sejak kecil tidak mudah liar lagi. Tetapi, kata Aji, jika ular king kobra ditangkap ketika sudah dewasa, insting liarnya masih mungkin kembali muncul.
Aji bercerita, ular king kobra biasa memakan ular pithon.
" Dia ular pemakan ular. Dan ular yang dimakannya mendekati besar badannya," ujar Aji.
King kobra yang menjadi perbincangan dunia maya itu, kata Aji, juga bukan sesuatu yang mengagetkan. Dia pernah menangkap king kobra yang jauh lebih besar.
" Memang itu sudah besar, tapi ada yang lebih besar yang kami tangani. Menurut kami biasa aja," kata Aji.
Meski sudah dipelihara, kata Aji, kemungkinan king kobra untuk memangsa ular tetap besar. Sebab, di alam liar king kobra merupakan penjaga keseimbangan populasi ular di alam liar.
Setali tiga uang dengan pendapat Aji, Kepala Laboratorium Herpitologi Puslit Biologi LIPI, Amir Hamidy mengatakan king kobra sebetulnya berada di puncak rantai makanan.
" Sehingga, jumlahnya tidak terlalu banyak," ujar Amir.
Amir menyebut tak ada aturan yang melarang pengambilan ular ini di alam. Tetapi, king kobra dikategorikan sebagai Apendiks II Cites.
" Artinya pengambilan dari alam diperbolehkan tapi kuotanya diatur secara ketat," kata Amir.
Amir menuturkan king kobra sejatinya memiliki keunikan. Selain memangsa sesama ular, king kobra juga kerap melakukan pertarungan jelang perkawinan.
Jika perkawinan terjadi, king kobra betina memiliki kesetiaan terhadap king kobra jantan.
" Jika king kobra betina sudah dimasuki kobra jantan, dia akan menolak perkawinan," ujar Amir.
Selain itu, perilaku defensif king kobra dapat dipelajari dengan saksama. Perilaku inilah yang kerap menjadikan kobra digunakan dalam permainan debus.
Meski begitu, Amir menuturkan, king kobra tetap berbahaya. Sebab, ular ini dapat mengatur keluar atau tidaknya bisa pada gigitan.
Bisa king kobra dikenal membunuh manusia dalam hitungan menit. Amir mengatakan di Indonesia antibisa king kobra tidak diproduksi.
Indonesia harus impor antibisa king kobra dari Thailand.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya