Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Setiap tahun bergulir, manusia menjalani kehidupan. Suka-duka dirasakan karena gejolak politik, ekonomi, dan sosial, yang berkembang.
Dikutip dari IFL Science, Selasa 27 November 2017, sejarawan meneliti kondisi tersulit pada yang terjadi pada tahun-tahun yang telah dijalani manusia. Pertanyaan ini secara acak dikemukakan saat studi sejarah mencari tahu bagaimana sistem moneter Eropa pasca kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat.
Ditulis di jurnal Antiquity, untuk mencari jawaban itu, para peneliti mencari bukti di Pegunungan Alpen Eropa. Di sana ditemukan bukti polusi pengolahan perak yang terkubur di inti es. Kondisi ini menuntuk peneliti mengenai bencana alam dan perubahan iklim yang terjadi sepanjang abad.
Dari temuan itu terbukti, tahun 536 merupakan masa yang menyedihkan untuk hidup. " Ini adalah salah satu masa terburuk untuk hidup, jika bukan tahun terburuk," kata sejarawan abad pertengahan Harvard, Michael McCormic, kepada Science Magazine.
Periode ini dianggap buruk, bukan hanya perang berdarah dan penyakit ganas yang menyebar, namun juga karena sejumlah peristiwa bencana. Kondisi cuaca ekstrim menyebabkan kelaparan yang meluas.
Ada banyak teori yang beredar. Salah satunya terjadinya `musim dingin vulkanik` karena abu dan debu letusan gunung berapi.
Letusan itu diduga berasal dari gunung di Islandia. Dugaan ini muncul karena inti es di Eropa mengandung kaca vulkanik yang secara kimia mirip partikel yang ditemukan di Eropa dan Greenland.
Apa pun gunung yang menyebabkan letusan vulkanik itu, dampaknya telah memicu `Zaman Es Kecil Antik Akhir` dan kegagalan panen global dan kelaparan. Salju turun selama musim panas di China dan kekeringan terjadi di Peru.
Sementara itu, sejarah tutur Gaelic Irlandia menyebut soal kegagalan (pembuatan) roti pada 536.
Seorang sejarawan Bizantium yang tinggal di Timur Tengah, Procopius, juga menulis soal `ketakutan` akibat gerhana matahari yang berkabut. Sebagaimana tercatat, di Natur Geoscience pada 2016, bencana yang terjadi menyebabkan Kekaisaran Sasania, mundurnya Kekaisaran Romawi Timur, dan pergolakan politik di China, serta kacaunya kehidupan sosial di seluruh Eurasia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya