Rayakan Hari Aksara Internasional, Kemendikbud dan UNESCO Gelar Webinar Bersama

Reporter : Iwan Tantomi
Rabu, 9 September 2020 08:00
Rayakan Hari Aksara Internasional, Kemendikbud dan UNESCO Gelar Webinar Bersama
Secara spesial Kemendikbud merayakan Hari Aksara Internasional ke-55 ini dengan menggelar webinar bersama UNESCO.

Puncak Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day akhirnya dilangsungkan pada 8 September 2020. Meski pandemi Covid-19 masih terjadi, tetapi tak menyurutkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia untuk merayakannya. Bahkan, secara spesial Kemendikbud merayakan Hari Aksara Internasional ke-55 ini dengan menggelar webinar bersama UNESCO.

Dalam kesempatan tersebut, webinar pada peringatan Hari Aksara Internasional 2020 mengangkat tema "Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi Covid-19 Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan". Turut hadir memberikan sambutan ada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Makarim.

"Mengacu pada tema Hari Aksara Internasional ke-55 yang diusung UNESCO, Kemendikbud menetapkan tema nasional peringatan tahun ini, yaitu Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi Covid-19 Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan. Pemerintah senantiasa terus mengupayakan, agar masyarakat lepas merdeka dari permasalahan buta aksara," ungkap Mendikbud.

Lebih lanjut, Mendikbud menjelaskan jika berbagai strategi penuntasan buta aksara telah dilakukan. Dari memutakhirkan data buta aksara, memperluas layanan program pendidikan keaksaraan, mengembangkan sinergi dalam upaya penuntasan buta aksara, pemeliharaan kemampuan keberaksaraan warga masyarakat, serta yang terakhir mengakselerasi inovasi layanan program pada area terpadat buta aksara di Indonesia.

"Kemendikbud bergotong-royong memperjuangkan pendidikan yang inklusif, termasuk di tengah situasi pandemi seperti sekarang, di mana kita harus mengambil hikmah pandemi. Saat pendemi selesai, kita harus yakin akan keluar menjadi pemenang, yang terus memiliki harapan dan cita-cita untuk mengentaskan buta aksara dari negara kita tercinta dan bersama-sama menghadirkan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia. Tetap semangat dalam memajukan pendidikan Indonesia. Terima kasih," pungkas Mendikbud dalam sambutannya.

1 dari 2 halaman

Sikap UNESCO Peringati Hari Aksara Internasional di Tengah Pandemi

Kemendikbud© Kemendikbud

Selain Mendikbud, webinar ini juga dihadiri oleh Mr Borhene Chakroun, Director of Policies and Lifelong Learning System UNESCO. Menurut perwakilan UNESCO, pandemi Covid-19 benar-benar memberikan dampak yang besar bagi dunia pendidikan global.

" Lebih dari miliaran pelajar terdampak pandemi pendidikannya di seluruh dunia, sehingga program belajar yang sebelumnya dilangsungkan secara tatap muka, kini harus dijalankan lewat langkah alternatif, seperti pembelajaran daring," jelas Borhene.

Tak sampai di situ, Borhene melanjutkan jika pandemi juga turut berdampak pada dunia literasi. Keterbatasan akses dan minimnya literasi selama pandemi ini, juga bisa meningkatkan angka buta aksara secara global.

Bukan itu saja, di masa pandemi ini pula, guru juga menjadi ujung tombak dari kegiatan belajar mengajar. Tantangan yang dihadapi para guru turut bertambah. Jika biasanya mereka mengajar lewat tatap muka langsung, kini harus menggunakan beragam cara alternatif agar tetap bisa mendidik murid-murid. Di sinilah pentingnya memfasilitasi serta memperhatikan kesejahteraan guru secara maksimal, agar tetap bisa mengajar dengan baik di tengah situasi seperti saat ini.

" Selain itu, perhatian pada pemuda maupun orang dewasa pada akses literasi di tengah kondisi saat ini kurang mendapatkan perhatian, sehingga menjadi tantangan tersendiri. Demi menangani hal tersebut, UNESCO di tahun 2020 ini telah mengeluarkan Global Monitoring Report. Tujuaanya agar semua komponen masyarakat di usia sekolah bisa mendapatkan akses yang sama untuk pendidikan berkualitas," tutup Borhene.

2 dari 2 halaman

Najwa Shihab Turut Membagikan Pandangan Soal Literasi di Indonesia

Kemendikbud© Kemendikbud

Webinar makin menarik, karena juga menghadirkan Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Pendiri Narasi itu memparkan banyak hal. Mulai miskonsepsi literasi yang kerap diartikan sebatas kemampuan membaca. Padahal, menurut Najwa literasi juga mencakup kemampuan menalar, menyerap dan mencerna beragam informasi, karena literasi tak sebatas mengeja saja.

Selain itu, Najwa juga menyoroti jika belajar untuk membaca dan membaca untuk belajar adalah dua hal berbeda. Apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya selama ini masih sekadar mendorong belajar untuk membaca. Namun, jarang ada orang tua yang mengajari anaknya membaca untuk belajar. Sebab, perlu banyak keterampilan yang lebih kompleks untuk memahami ilmu pengetahuan dan tujuan yang lebih besar.

Bukan itu saja, Najwa juga meluruskan pandangan literasi bukan potensi yang tak bisa dikembangkan. Padahal, membaca bukan bawaan dari lahir, tetapi potensi yang bisa dikembangkan. Asal ada kemauan dan diimbangi dengan serangkaian strategi, maka siapapun bisa membaca.

" Jadi, tak ada, anak terlahir tak suka baca. Selama ada kemauan dan serangkaian strategi, keterampilan membaca bisa ditumbuhkan sepanjang hayat," ungkap Najwa.

Najwa juga menyinggung soal tantangan membaca di era digital. Menurutnya, masyarakat Indonesia belum selesai dengan membaca buku fisik, kini sudah harus ditantang untuk membaca literasi secara digital.

" Jika tak disikapi dengan baik, tantangan membaca di era digital ini, kerap membuat masyarakat menelan informasi bulat-bulat. Padahal, kesadaran untuk memilih dan memilah di era literasi digital ini penting untuk ditumbuhkan. Termasuk memahami kesadaran data, kemampuan menganalisa data, hingga kemampuan untuk fokus, agar tak mudah terdistraksi dengan beragam notifikasi digital saat memperkaya literasi," pungkas Najwa.

Beri Komentar