Bantah 9 Jam Telantarkan Pasien BPJS Hingga Wafat, Ini Klarifikasi RSDP Serang

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 23 Desember 2019 18:19
Bantah 9 Jam Telantarkan Pasien BPJS Hingga Wafat, Ini Klarifikasi RSDP Serang
RSDP memastikan telah melayani pasien BPJS Kesehatan sesuai dengan aturan.

Dream - Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang, Banten, membantah tidak menangani pasien BPJS Kesehatan bernama Kuncung Sudrajat. RSDP menegaskan, pasien sudah ditangani dan mendapatkan perawatan, tetapi kemudian meninggal dunia.

Seperti diketahui, Kucung meninggal dunia setelah lama menunggu surat rujukan untuk penyakit yang diidapnya. Namun takdir berkata lain. Kucung dipanggil Yang Kuasa.

Direktur RSDP, dr Rachmat Setiadi mengatakan berdasarkan bukti telepon dari Puskesmas Pontang, 17 Desember 2019 pukul 16.02 WIB, RSUD Drajat Prawiranegara (RSDP) berkoordinasi untuk meminta rujukan.

" Pihak Puskesmas Pontang menjelaskan kondisi pasien yang diketahui bernama Kuncung Sudrajat, mengalami penurunan kesadaran dengan TD 220 mmHg dan suspect diagnosis stroke hemoragik," kata Rachmat, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 23 Desember 2019.

Mempertimbangkan kondisi pasien dan fasilitas RSDP, Rachmat mengatakan, pengelola RSDP menyarankan Puskesmas Pontang untuk mencari rumah sakit lain.

“ Kami menyampaikan saran sesuai kondisi dan situasi yang ada, sesuai kebutuhan pasien, agar mencari rumah sakit lain yang memiliki tempat tidur ICU yg kosong dan terdapat CT Scan,” ujar dia.

1 dari 4 halaman

RSDP Melayani BPJS

Rachmat mengatakan, Kuncung dibawa ke RSDP pukul 19.30 WIB. Setibanya di RSDP, Kuncung masuk IGD serta dimasukkan ke P1 dengan penanganan dugaan Stroke Hemoragik.

“ Pasien sudah diberi obat-obatan dan tindakan sesuai prosedur, tetapi nyawa pasien tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 00.12 malam, 18 Desember 2019. Jadi tidak benar jika kami tidak melayani pasien dengan baik,” kata Rachmat.

Dia menegaskan, RSDP merupakan rumah sakit rujukan bagi pasien dari lima daerah di Banten, yaitu Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kota Cilegon.

“ Kami layani seluruh pasien sesuai prosedur, tanpa membedakan status wilayah maupun status kepesertaan BPJS Kesehatan atau bukan,” tegas Rachmat.(Sah)

2 dari 4 halaman

9 Jam Tunggu Surat Rujukan, Pasien BPJS Kena Stroke Meninggal

Dream - Seorang peserta BPJS, asal Pontang, Kabupaten Serang, Banten, mengalami nasib memprihatinkan. Pria bernama Kuncung Sudrajat meninggal dunia karena lambatnya prosedur administrasi.

Imron Nawawi, keponakan Kuncung, mengatakan, peristiwa itu berawal ketika sang paman dibawa ke Puskemas Pontang, akibat hipertensi pada 17 Desember 2019. Prosedur penggunaan BPJS, mengharuskan peserta terlebih dahulu meminta surat rujukan dari Puskesmas sebelum dibawa ke rumah sakit terdekat.

" Di Puskesmas mendapatkan penanganan, tapi seadanya dan alakadarnya. Hanya infusan dan selang oksigen, karena tidak ada dokternya," kata Imron.

Dengan kondisi tersebut, keluarga khawatir karena tensi darah melampaui batas normal yaitu 220 mmHg. Imron sempat mendesak puskesmas untuk mengeluarkan surat rujukan ke rumah sakit.

" Ada inisiatif untuk meminta konfirmasi terkait perujukan, pertama saya meminta rujuk ke RS dan pihak Puskesmas langsung mengkoordinasikan ke pihak RS Dradjat Prawiranegara Serang dan RSUD Banten," ujar dia.

3 dari 4 halaman

Mengaku Tak Ada Ruangan Kosong

Dari hasil koordinasi pihak RS Dradjat Prawiranegara mengatakan tak ada ruangan kosong. Jawaban serupa juga disampaikan RSUD Banten.

" Kami bersama keluarga berinisiatif kembali, mencoba mendesak dan mengkomunikasikan dengan dokter sekitar. Akhirnya terhubung dengan dokter dari Puskesmas Tirtayasa, dan dipaksa untuk dibawa ke RSDP," ucap dia.

Imron mengatakan, sang paman akhirnya dibawa ke RS Dradjat Prawiranegara. Sesampai di lokasi, dia menyebut, sang paman tak mendapat penanganan dan ruangan khusus.

" Kenapa semua rumah sakit menolak pasien BPJS dengan dalih tidak ada ruangan. Karena proseduralnya memang kalau BPJS harus rujuk dulu dari faskes atau dari puskesmas terdekat," kata dia.

Dia pun menyesalkan adanya pungutan untuk biaya ambulans dari penjaga piket baik dari Puskesmas Pontang maupun pihak RS Dradjat Prawiranegara.

" Ada yang lebih kesal lagi, si penjaga piketnya minta bayaran untuk ambulans, padahal pakai BPJS," ucao dia.

4 dari 4 halaman

Jawaban Pihak Puskesmas

Berdasarkan penuturannya, dikarenakan banyaknya alasan dari pihak Puskesmas dan rumah sakit, mulai dari pukul 15.00 WIB pihaknya meminta untuk dirujuk, tetapi tidak disegerakan. Akhirnya, pukul 00.12 WIB pasien dinyatakan meninggal.

Kepala Puskesmas Pontang, Sruwi Budiana mengatakan, pihaknya telah mengupayakan agar pasien tersebut dirujuk. Namun ruang ICU rumah sakit RS Dradjat Prawiranegara memang sedang penuh.

" Kalau mau rujuk kita telepon dulu, kebetulan waktu itu penuh. ICU-nya penuh. Disarankan mencari rumah sakit lain, yang ada ICU," ujar Sruwi.

Sruwi mengungkapkan, pasien tersebut mengalami stroke sudah dalam kondisi tidak sadar saat berada di Puskesmas.

" Kebetulan pasien stroke, sudah koma. Dari pagi enggak sadar dibawa ke Puskesmas baru jam tiga," kata dia.

Saat dikonfirmasi terkait mobil ambulans yang berbayar saat digunakan merujuk pasien tersebut, Sruwi enggan berkomentar. Dia menegaskan hanya salah komunikasi dan uang sudah dikembalikan kepada pihak keluarga.

(Sumber: Merdeka.com/Dwi Prasetya)

Beri Komentar