Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rusia Berambisi Menjadi Negara Pertama Yang Punya Bayi Lahir Di Luar Angkasa (Foto Ilustrasi: Shutterstock)
Dream - Rusia ingin mendobrak ilmu pengetahuan. Kepala Laboratorium Biofisika Sel dari Institute of Medical and Biological Problems of Russian Academy of Science, Irina Ogneva membeberkan tujuan dari rencana `aneh` tersebut.
" Kami selalu menjadi yang pertama di luar angkasa, dan ingin manusia pertama yang lahir di luar angkasa menjadi warga negara Rusia," kata Irina dikutip dari Daily Star, Kamis, 20 Juni 2019.
Tetapi, dia mengakui, sejauh ini kosmonot Rusia telah menolak untuk menyumbangkan sperma yang diperoleh di ruang untuk studi ilmiah. Dia menyebut, upaya penelitian bukan hanya sebatas keinginan patriotik semata.
“ Yang paling penting bukanlah fakta (bagi bayi) untuk dilahirkan, tetapi (bayi yang) dilahirkan sehat," ucap dia.
Irina menyebut, tujuan melahirkan anak di luar angkasa masih terlampau prematur. Tapi, dia mengatakan, kelahiran mamalia di ruang angkasa masih memungkinkan terjadi.
“ Tapi, dari sudut pandang moral dan etika, ini adalah percobaan, dan percobaan dengan embrio manusia," ujar dia.
Karena kurangnya sampel sperma dari luar angkasa, Irina mengakui angkasawan Rusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional telah menolak untuk bekerja sama.
“ Kami terus mengalami hambatan moral, psikologis, dan etika," kata dia.
Dream - Sebuah fenomena langit yang cukup mengkhawatirkan terkait dengan Bulan menjadi perbincangan hangat para ilmuwan dalam beberapa waktu belakangan ini.
Menurut sebuah studi penelitian baru, Bulan kemungkinan akan terus menyusut akibat sering mengalami apa yang disebut dengan moonquake atau gempa Bulan.
Bulan disebut telah mengalami gempa sebanyak 28 kali sejak tahun 1969 hingga 1977. Dan para ilmuwan telah menganalisis gempa Bulan tersebut.
Hasil analisis ilmuwan tentang gempa Bulan tersebut ternyata sangat mengejutkan. Karena ada kemungkinan terdapat aktivitas tektonik di Bulan.
Menurut profesor geologi UniversityofMaryland, Nicholas Schmerr, dari 28 gempa Bulan, delapan di antaranya berasal dari 'aktivitas tektonik asli'. Artinya, ada pergeseran lempeng kerak di Bulan.
Jadi, gempa di Bulan terjadi bukan karena adanya benturan dengan asteroid atau runtuhan di bagian dalam satelit Bumi tersebut.

Profesor Nicholas mengungkapkan bahwa sejumlah gempa yang terekam dalam data Apollo terjadi mirip dengan sesar yang terlihat dalam misi LRO (Lunar ReconnaissanceOrbiter) NASA.
" Sangat mungkin bahwa sesar itu masih aktif hingga hari ini. Anda mungkin tidak pernah mendengar aktivitas tektonik di mana pun kecuali di Bumi. Jadi, sangat menarik bahwa sesar itu masih menghasilkan gempa Bulan," kata Profesor Nicholas.
Gempa Bulan direkam oleh lima seismometer yang ditempatkan di permukaan Bulan selama misi Apollo 11, 12, 14, 15 dan 16. Jika di Bumi, gempa Bulan yang tercatat berada dalam kisaran antara 2 dan 5 pada skala Magnitudo Momen.
Thomas Watters, kepala penelitian, mengatakan kemungkinan delapan gempa ini dihasilkan oleh pergeseran sesar. Karena adanya tekanan yang meningkat ketika kerak Bulan dikompresi oleh kontraksi global dan kekuatan pasang surut.

" Ini menunjukkan Bulan mengalami penyusutan, dan seismometer Apollo memperlihatkan Bulan masih aktif secara tektonik," kata Thomas.
NASA pertama kali menemukan Bulan menyusut pada tahun 2010 ketika menganalisis citra dari LRO. Mereka menemukan bahwa Bulan 'layu seperti kismis ketika bagian dalamnya mendingin, menghasilkan ribuan tebing yang disebut thrustfaults (dorongan sesar pada permukaan Bulan)'.
Kemudian ketika dibandingkan dengan data dari tahun 60-an dan 70-an dengan data tahun 2010, tercipta algoritma baru untuk lebih memahami dari mana datangnya gempa Bulan tersebut.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah NatureGeoscience itu, Bulan dianggap aktif secara tektonik sekitar 4,5 miliar tahun.
" Kami menyimpulkan bahwa hubungan dekat gempa bulan dengan thrustfaults muda, bersama dengan bukti gangguan regolith dan gerakan batu besar di dalam dan di dekat tebing sesar menunjukkan Bulan aktif secara tektonik," bunyi abstrak penelitian tersebut.

Profesor Nicholas menambahkan temuan yang menarik ini menjadi dasar bagi manusia untuk menginjakkan kaki sekali lagi di Bulan.
" Kami belajar banyak dari misi Apollo, tetapi kami hanya mengenal permukaannya saja," pungkasnya.
(Sah, Sumber: FoxNews.com)
Dream - Melanjutkan pendidikan ke negeri dengan teknologi tinggi jadi impian banyak orang. Mungkin Sahabat Dream salah satunya. Bagaimana kalau segera mewujudkannya dengan mengikuti program di Ajinomoto Foundation.
Lembaga ini kembali memberikan beasiswa program pascasarjana kepada mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di 6 Universitas di Jepang. Universitas yang bisa dipilih yaitu Tokyo University, Kyoto University, Ochanomizu University, Kagawa Nutrition University, Nagoya University, dan Waseda University.
Tawaran dari perusahaan Jepang yang memproduksi food dan seasoning products ini berupa beasiswa Master (S2) untuk berbagai bidang ilmu sains. Program yang dilaksanakan sejak 2010 ini merupakan Program Beasiswa Penuh.
Mahasiswa akan mendapat sederet fasilitas. Antara lain, tunjangan per bulan sejumlah 150.000 yen, tanggungan penuh biaya perkuliahan (tuition fees), admisi, dan full examination, serta tiket pesawat ke Jepang. Hingga saat ini Ajinomoto Foundation, sudah mengirimkan 10 orang mahasiswa terbaik dari Indonesia untuk studi Master di Jepang.
Syaratnya, calon mahasiswa harus tertarik melanjutkan studi Master pada bidang Gizi, Kimia Murni, Biologi, Kesehatan Masyarakat, dan Teknologi Pangan, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,50.
Usia maksimal 35 tahun, dan tertarik untuk mempelajari kebudayaan dan bahasa Jepang. Calon penerima beasiswa juga harus memiliki kondisi fisik dan mental yang sehat serta punya motivasi yang tinggi untuk belajar.
Salah seorang penerima program beasiswa Ajinomoto adalah Chevia Nadia, 25 tahun, asal Bogor, Jawa Barat. Chevia merupakan Sarjana Teknologi Pangan lulusan Institut Pertanian Bogor, yang menerima program beasiswa Ajinomoto 2017.
" Beasiswa Ajinomoto sangat bermanfaat mewujudkan mimpi saya untuk melanjutkan studi di salah satu universitas terbaik di Jepang yaitu The University of Tokyo (Todai)," ujar Chevia
Menurut Chevia, kesempatan berkunjung dan berdiskusi dengan pekerja ahli di pabrik Ajinomoto area Kawasaki, Jepang, juga membuka pikiran dan pengetahuannya tentang teknologi canggih dan ragam produk bermanfaat yang dihasilkan oleh Perusahaan Ajinomoto.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya