Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Umat Muslim di Perancis semakin disudutkan usai teror truk maut yang menewaskan sekitar 84 orang pada perayaan Bastille Day, Kamis pekan lalu. Identitas pelaku berdarah Tunisia yang jelas dari keluarga Muslim menjadi alasan utama penyudutan tersebut.
Seorang Muslim muda Perancis, Rashid mengaku telah memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat setelah teror itu terjadi. Dia mengatakan warga Perancis seketika menjadi buta dan menuduh para Muslim bertanggungjawab di balik teror tersebut.
" Saya tahu segera setelah itu terjadi mereka akan menyalahkan Muslim, mengatakan teroris berada di balik itu, kami terbiasa dengan hal itu, kami tidak berharap terlalu banyak pada otoritas di sini," ucap Rashid, berdiri di tepi jalan bersama beberapa anak muda lainnya.
" Mereka menghina kami dan kemudian mereka terkejut ketika terjadi kekerasan," kata dia.
Perkataan Rashid diamini oleh teman-temannya yang kebanyakan berusia antara 18 hingga 23 tahun. Tetapi, mereka sama sekali tidak membenarkan teror yang telah dilakukan oleh Mohamed Lahouaiej Bouhlel yang menabrakkan truk seberat 19 ton ke kerumunan orang.
" Apa yang dia lakukan sangat buruk. Tetapi polisi, media, semua orang mengatakan dia melakukannya karena dia seorang Muslim," ucap Rashid.
" Tidak. Dia bahkan tidak pernah pergi ke masjid, dia melakukan itu karena masalah pribadinya, bukan karena dia adalah Muslim," tegas Rashid.
Salah satu anak muda di kelompok itu, Yusuf turut berbicara.
" Apakah Anda tahu dia berlatih menyerang selama dua hari sebelum teror itu terjadi? Saya mendengarnya di berita, ini menunjukkan dia begitu profesional," kata Yusuf.
Tetapi, Yusuf mengatakan bisa saja pelaku terlatih. Menurut dia, orang jahat bisa saja terlatih.
" Tapi itu tidak menunjukkan apakah dia seorang teroris atau anggota ISIS," ucap Yusuf.
Lahouaiej Bouhlel merupakan pria 31 tahun yang berprofesi sebagai sopir jasa pengiriman. Sebelum melakukan teror itu, dia sempat menyewa sebuah truk berpendingin pada 11 Juli 2016.
Pada dua hari berikutnya, CCTV merekam dia tengah mengemudikan truk dan berbelok di Promenade des Anglais. Bouhlel lantas memacu truknya dengan kecepatan tinggi dan menabrak orang-orang yang tengah berkumpul merayakan Bastille Day.
Sumber: independent.co.uk
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya