Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Tinggal di Pengungsian, Gadis Yaman Tunjuk Cara Selamat dari Pandemi Covid-19

Reporter : Sugiono
Kamis, 25 Juni 2020 13:36
Tinggal di Pengungsian, Gadis Yaman Tunjuk Cara Selamat dari Pandemi Covid-19
Situasi di Yaman sangat mengerikan di tengah kebutuhan mendesak untuk mengurangi penyebaran pandemi Covid-19.

Dream - Bagi mereka yang masih belum tahu, Yaman kini dilanda krisis kemanusiaan terburuk sejak 2016. Ditambah dengan pandemi Covid-19 yang tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir, penderitaan warga Yaman semakin lengkap.

Krisis tersebut memiliki dampak mendalam pada orang-orang di negara itu, terutama anak-anak yang tidak dapat tumbuh dengan baik karena kelaparan.

Menurut laporan United Nation Children’s Fund (UNICEF), situasi di Yaman sangat mengerikan di tengah kebutuhan mendesak untuk mengurangi penyebaran pandemi Covid-19.

Untuk menunjukkan bagaimana kehidupan anak-anak yang tinggal di pengungsian di tengah perang saudara dan pandemi Covid-19, UNICEF mengangkat kisah Muna Zayed.

1 dari 6 halaman

Terdampak Perang dan Pandemi Corona

Gadis manis berusia 10 tahun itu merupakan satu dari 1,7 juta anak-anak di Yaman yang terdampak perang dan pandemi Covid-19.

Muna tinggal bersama keluarganya di kamp pengungsian Al Sha'ab di Aden yang terletak di selatan Yaman.

Dia bersama keluarganya terpaksa meninggalkan rumah mereka di Taiz dan tinggal di kamp tersebut karena perang yang terus menerus.

2 dari 6 halaman

Keseharian Muna Zayed di Kamp Pengungsian

Sementara itu sekolah Muna di kamp pengungsian juga ditutup sebagai usaha untuk mengekang penularan virus corona yang menyebabkan pandemi Covid-19.

Meski begitu, melalui video yang dibagikan UNICEF, Muna ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana kehidupan sehari-harinya di tengah pandemi Covid-19 di kamp pengungsian.

Video dimulai ketika Muna memperlihatkan tempat tidur saudaranya, dan juga dapur di mana ibunya sedang memasak makanan untuk hari itu.

3 dari 6 halaman

Menjaga Kebersihan Fasum di Kamp Pengungsian

Meski terlihat cukup bersih, kondisi tenda di kamp pengungsian tersebut tampak memprihatinkan. Dapurnya tak memiliki pintu, hanya berdinding kayu yang dipasang seadanya.

Kondisi dapur keluarga Muna di kamp pengungsian.

Hari itu Muna dapat tugas mengambil air bersih. Dengan membawa jeriken, Muna berjalan kaki menuju tangki utama yang ada di kamp pengungsian. Dia pergi dengan teman sekolahnya Rahaf.

Muna dan teman sekolahnya mengambil air bersih di kamp pengungsian.

Sebelumnya, Muna mencuci muka terlebih dahulu di salah satu kamar mandi umum portable yang disediakan UNICEF.

" Ini kamar mandi umum utama di kamp pengungsian. Kami berusaha menjaga kebersihannya agar tidak kena corona," katanya.

 

4 dari 6 halaman

Menghindari Keramaian Saat Ambil Air Bersih

Usai berjalan sebentar, mereka sampai di tempat pengambilan air bersih. Muna punya alasan tersendiri ketika datang ke tempat pengambilan air saat masih sepi.

Muna mengambil air bersih saat suasana sepi.

" Kami harus cepat-cepat mengisi air dan pergi karena kalau sampai ramai, corona bisa menyebar," kata Muna.

Muna juga sering membantu ibunya memasak. Dia biasanya bagian memotong sayuran. Namun sebelumnya dia akan mencuci sayuran tersebut.

Muna mencuci sayuran biar tidak tertular corona.

" Kita harus mencuci sayuran ini sampai bersih agar tidak tertular corona," ujarnya.

5 dari 6 halaman

Tak Punya Sabun untuk Cuci Tangan

Muna juga mengajarkan teman dan adiknya untuk rajin mencuci tangan dengan baik agar terlindung dari corona.

Meski tak ada sabun, Muna tetap selalu cuci tangan agar tak tertular corona.

" Meski kami tidak punya sabun, tapi kami berusaha mencuci tangan sampai benar-benar bersih," pungkas Muna.

Dia akhir video itu, Muna berdoa agar virus corona tidak menghampiri kamp pengungsian keluarga dan teman-temannya.

Sumber: Siakapkeli.my

6 dari 6 halaman

Tonton Keseharian Muna di Kamp Pengungsian

Beri Komentar