Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tony Blair, Mantan PM Inggris (independent.co.uk)
Dream - Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair meminta maaf atas kesalahan yang telah terjadi dalam invasi ke Irak dipimpin Amerika Serikat pada 2003. Pernyataan itu dia ucapkan dalam wawancara dengan wartawan CNN Fareed Zakaria pada Minggu.
Blair juga mengatakan 'elemen kebenaran' dalam klaim yang menjadi dasar invasi telah melahirkan kelompok Negara Islam.
Inggris dan Amerika Serikat di bawah pemerintahan George W Bush menyerang Irak, mengikuti keyakinan berdasarkan laporan inteligen, yang menyatakan rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Tidak ada senjata utama dari senjata pemusnah massal tersebut yang ditemukan.
" Saya dapat katakan bahwa saya meminta maaf untuk fakta yang dikirimkan inteligen kami telah salah karena, meskipun dia (Saddam) menggunakan senjata kimia secara luas kepada rakyatnya sendiri, melawan yang lain, program yang kami kira tidak pernah ada dalam benak kita," ujar Blair.
Berdasarkan situs Iraq Body Count, saat perang dinyatakan berakhir pada 15 Desember 2011, lebih dari 4.000 tentara AS dan 179 tentara Inggris tewas dan lebih dari 100.000 warga sipil Irak terbunuh.
Blair juga meminta maaf, " Atas beberapa kesalahan dalam perencanaan dan, tentunya, kesalahan kami dalam memahami apa yang akan terjadi ketika Anda menghapus rezim."
Meski begitu, Blair tidak meminta maaf atas Perang Irak sendiri. " Saya menemukan cukup sulit untuk meminta maaf untuk menyingkirkan Saddam. Saya pikir, bahkan sampai saat ini pada 2015, ini akan lebih baik jika dia tidak di sana daripada dia di sana," tambah dia.
Negara Islam, yang juga dikenal dengan ISIS yang mengontrol sebagian besar kawasan Irak dan Suriah dibentuk pada April 2013 setelah terpecah dari Al Qaeda di Irak dan mengambil kendali kota Raqqa di Suriah pada bulan berikutnya. Kelompok ini merebut kota Fallujah di barat Irak pada Januari 2014 dan Ramadi, kota pusat penganut Sunni pada Mei 2015.
Mengomentari Negara Islam, Blair mengatakan kepada CNN, " Tentu saja, Anda tidak bisa mengatakan bahwa kita yang menyingkirkan Saddam pada 2003 bertanggung jawab atas situasi pada 2015. Tapi, ini merupakan hal penting untuk disadari, pertama, Musim Semi Arab yang dimulai pada 2011 juga membawa dampak pada Irak hari ini, dan kedua, ISIS benar-benar menonjol di Suriah dan bukan di Irak."
Lebih dari 3.000 tentara AS berada di Irak, melatih dan membimbing pasukan pemerintah.
(Ism, Sumber: usatoday.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya