Tony Blair Minta Maaf Serang Irak

Reporter : Ismoko Widjaya
Senin, 26 Oktober 2015 15:30
Tony Blair Minta Maaf Serang Irak
Blair mengaku inteligen mengirimkan informasi yang salah mengenai keberadaan senjata pemusnah massal.

Dream - Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair meminta maaf atas kesalahan yang telah terjadi dalam invasi ke Irak dipimpin Amerika Serikat pada 2003. Pernyataan itu dia ucapkan dalam wawancara dengan wartawan CNN Fareed Zakaria pada Minggu.

Blair juga mengatakan 'elemen kebenaran' dalam klaim yang menjadi dasar invasi telah melahirkan kelompok Negara Islam.

Inggris dan Amerika Serikat di bawah pemerintahan George W Bush menyerang Irak, mengikuti keyakinan berdasarkan laporan inteligen, yang menyatakan rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Tidak ada senjata utama dari senjata pemusnah massal tersebut yang ditemukan.

" Saya dapat katakan bahwa saya meminta maaf untuk fakta yang dikirimkan inteligen kami telah salah karena, meskipun dia (Saddam) menggunakan senjata kimia secara luas kepada rakyatnya sendiri, melawan yang lain, program yang kami kira tidak pernah ada dalam benak kita," ujar Blair.

Berdasarkan situs Iraq Body Count, saat perang dinyatakan berakhir pada 15 Desember 2011, lebih dari 4.000 tentara AS dan 179 tentara Inggris tewas dan lebih dari 100.000 warga sipil Irak terbunuh.

Blair juga meminta maaf, " Atas beberapa kesalahan dalam perencanaan dan, tentunya, kesalahan kami dalam memahami apa yang akan terjadi ketika Anda menghapus rezim."

Meski begitu, Blair tidak meminta maaf atas Perang Irak sendiri. " Saya menemukan cukup sulit untuk meminta maaf untuk menyingkirkan Saddam. Saya pikir, bahkan sampai saat ini pada 2015, ini akan lebih baik jika dia tidak di sana daripada dia di sana," tambah dia.

Negara Islam, yang juga dikenal dengan ISIS yang mengontrol sebagian besar kawasan Irak dan Suriah dibentuk pada April 2013 setelah terpecah dari Al Qaeda di Irak dan mengambil kendali kota Raqqa di Suriah pada bulan berikutnya. Kelompok ini merebut kota Fallujah di barat Irak pada Januari 2014 dan Ramadi, kota pusat penganut Sunni pada Mei 2015.

Mengomentari Negara Islam, Blair mengatakan kepada CNN, " Tentu saja, Anda tidak bisa mengatakan bahwa kita yang menyingkirkan Saddam pada 2003 bertanggung jawab atas situasi pada 2015. Tapi, ini merupakan hal penting untuk disadari, pertama, Musim Semi Arab yang dimulai pada 2011 juga membawa dampak pada Irak hari ini, dan kedua, ISIS benar-benar menonjol di Suriah dan bukan di Irak."

Lebih dari 3.000 tentara AS berada di Irak, melatih dan membimbing pasukan pemerintah.

(Ism, Sumber: usatoday.com)

Beri Komentar
PSBB Jakarta Ditambah Sampai 4 Juni, Anies Baswedan- Bisa Jadi yang Terakhir