Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Vaksin Covid-19 (Foto: Shutterstock)
Dream - Indonesia sedikit menemukan titik terang dalam penanggulangan pandemi Covid-19 yang memakan banyak korban jiwa. Biofarma, perusahaan farmasi asal Indonesia bersama Sinovac Biotech asal China, sedang melakukan tahap uji klinis.
Selama tahap uji klinis tersebut, terdapat 1.600 relawan akan diberikan vaksin tersebut. Uji coba tersebut telah dipastikan aman oleh pihak Sinovac Biotech.
Sebelumnya, Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran Unpad, Profesor Kusnandi Rusmil, dipanggil ke Istana oleh Presiden Joko Widodo terkait hasil riset vaksin tersebut.
Berikut wawancara dengan Prof. Kusnandi, sebagaimana dikutip dari Merdeka.com:

Jadi kalau kita mau uji klinis vaksin itu ada tahapannya. Pertama preklinik kemudian klinik. Preklinik kita mencari bahan vaksinnya. Sudah ketemu bahan vaksinnya itu disuntikkan pada binatang. Disuntik pada binatang, binatang itu harus aman dan timbul zat anti. Sudah selesai pada binatang baru fase I. Sudah fase satu masuk fase II, fase III.
Fase satu adalah uji klinis untuk yang penting adalah keamanan vaksin ini. Fase I yang dilakukan di China diberikan pada 1400-1500 orang. Ternyata vaksin ini aman.
Aman itu dilihat dari dua aspek, reaksi lokal dan reaksi sistemik. Reaksi lokal itu kalau disuntik apakah timbul merah atau bengkak atau yang lainnya. Reaksi sistemik, apakah timbul panas atau pingsan atau lemas atau alergi (di) 30 menit pertama.
Pada vaksin ini dia disuntik memang ada timbul panas dan ada kemerahan. Tapi 30 menit pertama enggak ada yang pingsan, lemas, cuma nyeri di tempat suntikan yang ternyata nyeri itu hilang sendiri dan yang nyeri di tempat suntikan yang hilang sendiri setelah dua hari hanya 30 persen dari sampel yang ada. Yang lainnya aman. Fase dua, disuntikkan kepada kurang lebih 400 orang. Itu ternyata aman juga. Lulus lah vaksin ini untuk izin klinis fase III.
Fase III iti harus 1.000-an. Karena di samping untuk lihat aman kan sudah pasti. Terus mempunyai efek baik sudah pasti. Tapi dilihat efektivitasnya. Efektivitasnya dibandingkan yang dapat vaksin sama yang dapat tidak vaksin. Yang dapat vaksin berapa yang sakit (positif Covid-19), yang tidak dapat vaksin berapa orang yang sakit selama enam bulan diikuti.
Jadi dibandingkan. Dalam perhitungan kita dengan hitungan statistik, yang sakit selama 6 enam bulan itu kurang lebih 20 (orang). Tapi sebagian terutama semuanya yang bukan dapat vaksin.
Disuntik, (diikuti) selama 6 bulan ada 1.620, 810 dapat vaksin dan 810 dapat plasebo (tidak dapat vaksin) diikuti semuanya. Setelah 6 bulan berapa yang sakit berapa yang tidak. Terus berapa kadarnya terbentuk bagus atau tidak. Di samping keamanannya dilihat lagi. Itu secara garis besar.
Kan itu ada 1.620. 810 dapat vaksin 810 tidak dapat vaksin. Dari perhitungan pasti ada yang sakit dan yang sakit secara statistik ada 20 orang, dari total 1.620 itu.
Kemungkinan semua dari yang tidak dapat vaksin akan sakit. Setelah dapat vaksin, orang itu hidup normal saja. Mau ke mana kek silakan saja. Tidak ada hambatan.
Terkait 1.620 relawan, apa ada pantangan yang tidak boleh dikonsumsi setelah mereka disuntik vaksin?
Enggak ada. Hidup sehari-hari seperti biasa saja. Kalau ada apa-apa kan dia telepon. Kalau sakit dia berobat, nanti kan akan menghubungi kita dia sakit apa. Nanti akan dianalisa. Enggak ada (pantangan tidak boleh makan ini, itu).
Sejauh ini bagaimana soal keamanan vaksin Sinovac bagi para relawan?
Kan sudah diuji coba. Pasti aman. Sudah dua kali izin klinis kan sudah aman. Tidak mungkin saya kasih yang tidak aman. Sekarang saja sudah yang mau divaksin, saya belum mau karena belum mulai.
Memangnya sudah berapa orang yang mengajukan permohonan menjadi relawan?
Yang sudah minta saja dari satu puskesmas, kayak puskesmas Garuda yang daftar sudah 350 orang. Exited. Belum yang dari perusahaan-perusahaan, pemerintah, belum dari dosen, dari mahasiswa.

Enggak. Begini, kan Pak Jokowi dengar bahwa saya ditunjuk oleh Unpad untuk meneliti vaksin. Beliau dengar Unpad mau bikin vaksin. Kerja sama dengan Biofarma sehingga saya diundang sama Pak Jokowi, sama Pak Erick Thohir, Menkes Terawan, sama yang terkait untuk diskusi.
Dari diskusi itu pengen untuk bagaimana caranya orang Indonesia enggak kena yang besar, yang banyak. Tanya lah bagaimana proses bikin vaksin saya ceritakan. Target beliau, kan yang banyak kena sekarang kan orang Jakarta, Surabaya, Jawa Tengah, Jogja, Makassar. Daerah itu dulu yang dapat. Untuk mengurangi angka kematian.
Setelah itu baru di tempat-tempat yang lain. Karena kapasitas produksi Biofarma kan terbatas. Mula-mula cuma 40 juta dulu yang dibikin. Setelah itu baru 100 juta. Penduduk kita kan 200 sekian juta. Jadi bertahap. Jadi di daerah yang high risk dulu. Dibilangin sama Pak Jokowi begitu jadi kita semua ngerti.
Vaksin Sinovac itu kan itu kerja sama Biofarma sama Sinovak. Kemudian Biofarma menunjuk saya untuk melakukan uji klinis. Kan begitu ceritanya.
Bukan. Selama ini Unpad sudah kerja sama dengan Biofarma. Kan pabrik vaksin ada di Biofarma. Di Indonesia cuma Biofarma. Kebetulan uji klinisnya di Fakultas Kedokteran Unpad. Saya sudah 34 kali uji klinis vaksin Biofarma. Makanya Biofarma percaya. Jadi ditunjuk lagi untuk yang Covid-19.
Selain kerja sama dan sudah ada uji klinis, apa pertimbangan lain Biofarma pilih Sinovak yang diyakini sebagai vaksin Covid-19?
Karena yang sudah di depan mata jadi ya Sinovak. Sudah banyak yang meninggal kan di Jakarta, Surabaya. Itu dulu yang akan divaksin untuk mengurangi angka kematian.
Apa saja bahan yang terdapat dalam vaksi Covid-19 tersebut?
Vaksin yang kita pakai itu adalah virus Covid-19 yang sudah dimati. Jadi tidak akan menimbulkan penyakit dan distabilkan dengan menggunakan logam berat lah supaya stabil. Jadi ini kuman yang dimatikan tidak akan menimbulkan penyakit. Cuma ruginya kalau dimatikan itu tidak bisa sekali disuntik. Minimal dua kali.
Yang baru ada kan Sinovac. Yang dari tempat lain belum ada. Biofarma kerja sama dengan Sinovak. Kalau yang lain sudah ada kita pakai yang itu uji cobanya. Vaksin kita yang merah putih kan belum uji klinis, fase I saja belum. Baru cari antigennya.

Belum lagi uji pada binatang. Uji pada binatang baru fase I, fase II, itu kan lama. Paling cepat itu 2-3 tahun. Padahal kita perlunya cepat. Akhir tahun ini harus ada vaksinnya. Nanti kalau vaksin kita sudah jadi, kita pakai yang kita punya.
Selama ini kan Biofarma bikin vaksin dan diekspor ke banyak negara. Ada 132 negara. Vaksin polio, tetanus itu bikinan siapa? Bikinan kita. Nanti kalau ini sudah jadi, kita akan kirim tapi nanti kalau ada strain yang lebih cocok untuk orang Indonesia, itu akan kita uji klinik lagi.
Tapi sebagai bahan, bahwa strain itu tidak mempengaruhi. Dia akan sama strain di sini dengan strain di Tiongkok itu sama.
Bisa dijelaskan apa yang dimaksud dengan 'Strain' itu sendiri, Prof?
Kan katanya ada virus Indonesia ada virus China. Itu dinding selnya sama, RNA MNA-nya sama, jadi cuma terjadi perubahan sedikit dan itu semuanya bisa di-cover oleh vaksin. Jadi enggak ada masalah mau pakai virus manapun asalkan Covid-19 itu tertangkap sama vaksin itu.
Sumber: Merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya