Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Instagram.com/makassar_iinfo
Dream - Media sosial kembali diramaikan dengan beredarnya sejumlah foto yang memperlihatkan emak-emak bergaya di lokasi kebakaran hutan.
Foto-foto itu viral usai dibagikan ke facebook oleh akun Yuni Rusmini, pada Sabtu 21 September 2019 lalu.
Memperlihatkan sejumlah emak-emak berjilbab berpose di hutan dengan pemandangan di sekitarnya yang ditutupi kabut asap.
Mereka juga kompak mengenakan pakaian bernuansa hitam putih. Beberapa di antaranya juga memakai masker untuk menutupi hidung dan mulut.
Dari setiap foto, emak-emak yang berjumlah 9 orang itu tampak memamerkan sejumlah gaya.

Foto: Instagram.com/makassar_iinfo
Mulai dari berbaris rapi memadang sekitar, menggenggam tangan di belakang hingga menunjukkan sepatu mereka yang kotor.

Foto: Instagram.com/makassar_iinfo
Hal itu kontras dengan aksi seorang relawan cantik yang berjuang memadamkan api di tengah kebakaran hutan.
Beberapa fotonya viral tersebar di media sosial, salah satunya diposting oleh akun instagram @makassar_iinfo.
Dari postingan itu diketahui relawan tersebut bernama Intan Syafrini Fazrianti.

" IIntan Syafrini Fazrianti berbaju merah. Dia berjibaku sebagai relawan memadamkan kebakaran hutan. Dari raut mukanya kita ikut merasakan perjuangannya. Menahan panasnya asap. Letih tapi dia tak menyerah.
Foto satunya sekelompok emak-emak yang khusus datang ke lokasi kebakaran Bukan untuk membantu mengatasi kebakaran hutan. Mereka datang hanya untuk berfoto foto dengan latar belakang kebakaran hutan," Tulis @makassar_iinfo pada caption fotonya.
Banyak netizen yang penasaran dengan motivasi sembilan wanita itu yang berfoto di tengah kebakaran hutan.
Seperti yang ditulis @santosops34, " Maksudnya apa si ini kok mlah pose di situ aduh jand... nanti kotor mak....."
@ciki_taro, " Bantuin pemadam jangan cuma selfi."
@ yhanthie_lovesok," yess...ini emak" ....#miris"
Ternyata sebagaian netizen lainnya menyadari maksud dari emak-emak tersebut berfoto dengan pose tersebut untuk menyindir Jokowi.
Seperti diketahui beberapa waktu lalu, Jokowi mengunjungi kahutla.
Menyadari tindakan emak-emak itu, sebagian besar netizen justru menghujat tindakan mereka.
@wishmeluckyday, " Gub nya ke singapore kalean diem, walikota ke kanada kalean diem presiden ke lokasi kalean nyinyir maunya apa seh kalean? maunya presiden bawa selang trus nyiramin gtu???"
@revamagdalena, " Nyindir pak de..... padahal pakde datang dan memikirkan solusi kemudian melakukan tindakan yg hrs dilakukan.... emak2 yg diliputi kebencian... ga sejahtera hidupnya.."
Dream - Menjadi relawan di kondisi penuh kabut asap tak membuat dirinya gentar. Bahkan dengan menjadi relawan dirinya dapat banyak pengalaman. Itulah pengalaman yang dirasakan Intan Syafrini Fazrianti, nama yang tenar di sosial media karena fotonya sedang memadamkan kebakaran lahan.
" Aku awalnya dijadikan untuk mendokumentasikan kebakaran hutan di sana. Tapi, masak iya cuma mendokumentasikan. Jadi aku belajar juga memadamkan kebakaran hutan," kata Intan saat berbincang dengan Dream.
Intan lantas ikut dalam berbagai aktivitas yang dilakukan Sekolah Relawan. Bahkan, dari berbagai kegiatan yang dia ikuti dirinya jadi mengenal alam dan penduduk lokal di sana.
" Ini menjadi kali pertama aku nginjekin kaki di Kalimantan. Meski begitu, aku kenal jadi kenal alamnya, kenal penduduk asli sana yang baik," ujar mahasiswi
Bahkan, Intan mengaku mendapat pelajaran berharga dari Bang Gaw (pendiri Sekolah Relawan Bayu Gawtama).
" Kalau ingin jadi relawan yang baik jadilah relawan yang cerdas dan membumi," kata gadis berambut panjang ini.
Dengan menjadi relawan itu, menurutnya, dapat menjadi upaya untuk menumbuhkan kesadaran sosial.
" Masak iya, kita masih bisa kongkow-kongkow melihat saudara kita di Kalimantan dalam kesusahan karena kebakaran hutan dan musibah kabut asap. Itu egois namanya," jelasnya.
Melihat sering terjadinya kebakaran hutan di beberapa wilayah di Indonesia, Intan siap untuk diterjunkan kapan saja. Tapi, yang terpenting baginya ialah keadaan aman.
" Kalau aku ada kesempatan diterjunkan aku siap. Tapi, aku lebih berharap gak ada lagi kejadian kebakaran," harap mahasiswi Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta ini.
Gadis bernama Intan Syafrini Fazrianti menjadi pembicaraan di sosial media. Gadis berparas manis ini secara mengejutkan muncul di tengah-tengah hutan untuk membantu memadamkan kebakaran hutan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Kepada Dream.co.id, Intan bercerita mengenai niatnya menjadi relawan ke Palangkaraya. Niat awalnya menjadi relawan itu, tak lain ingin membuktikan kebenaran berita musibah kabut asap dan kebakaran hutan di Riau dan Palangkaraya.
" Saya selalu ikuti perkembangan berita kabut asap. Sampai akhirnya, tersiar kabar hanya tersisa lima persen lagi udara di sana yang bersih. Saya pun membulatkan tekad untuk berangkat. Saya enggak mau hanya ramai di media sosial," kata Intan saat berbincang denganDream.co.id, Jumat 6 November 2015.
Intan mengaku awalnya ingin berangkat dengan biaya mandiri. Namun, sebuah lembaga bernama Sekolah Relawan menawarinya berangkat.
" Aku dikasih kesempatan sama Sekolah Relawan dan dibayai semua akomodasi pulang pergi dan semua keperluan disana," ungkap mahasiswi Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta ini.
Meski pada akhirnya dibiayai, persiapan serba mendadak harus diterimanya. " Aku diberi kabar berangkat itu pada tanggal 27 Oktober sore. Nah, tanggal 28 Oktobernya harus berangkat," jelasnya.
Meski tanpa peralatan kemah yang dimilikinya dirinya tetap nekad berangkat. Gadis kelahiran Bogor, 17 Maret 1996 itu bahkan tak sempat memberitahu orang tuanya mengenai niatannya menjadi relawan.
" Awalnya orangtua gak tahu kalau aku kabur (jadi relawan) tapi lama-kelamaan mereka tahu. Tapi akhirnya, mereka ngerti kalau aku berangkat untuk niat yang tulus," ujarnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya