Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Awan Merah Di Langit Gunung Welirang (Instagram @infobmkgjuanda)
Dream - Sebuah video memperlihatkan fenomena alam berupa langit merah tengah viral. Disebutkan, fenomena itu terjadi di Gunung Welirang di Jawa Timur.
Dalam video yang tersebar, tampak asap tebal membumbung ke udara berwarna merah. Muncul kilatan di bagian dalam asao tersebut.
Terkait fenomena alam ini, BMKG memberikan klarifikasi. BMKG menyebut peristiwa yang terekam dalam video adalah fenomena alam biasa.
" Fenomena awan yang terlihat berwarna merah, merupakan hal yang biasa terjadi," ujar Koordinatorm Bidang Data dan Informasi BMKG Stamet Juanda, Teguh Tri Susanti, di Instagram @infobmkgjuanda.
Menurut Teguh, peristiwa yang terekam merupakan salah satu fenomena optik atmosfer. Warna merah merupakan hasil dari pembiasan sinar matahari.
" Warna kemerahan pada awan dan langit di sekitarnya dikarenakan adanya pembiasan cahaya matahari oleh partikelpartikel yang ada di atmosfer sehingga menghasilkan energi yang rendah, gelombang panjang, dan memunculkan warna kemerahan," kata Teguh.
Dia melanjutkan semakin rendah posisi matahari dari garis cakrawala, cahaya merah yang bisa dicapai juga semakin rendah. Biasanya, fenomena ini terjadi pada sore menjelang malam.
" Pada sore menjelang malam teramati dari radar BMKG Juanda terpantau banyak pertumbuhan awan Cumulonimbus di sekitar lokasi pada video," ungkap Teguh.
Cumulonimbus merupakan satu-satunya jenis awan yang dapat menghasilkan petir. Sementara sambaran kilat menambah cahaya kemerahan.
Teguh menyatakan cahaya merah bukan indikasi gunung akan meletus. Dia pun meminta masyarakat untuk tidak panik.
" Tetap selalu memantau dan mncari informasi yang valid sehingga terhindar dari isu-isu yang tidak bertanggung jawab," kata dia.
View this post on Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya