Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Penemuan Akar Pohon Di Fosil Hutan Purba. (Foto: Current Biology)
Dream - Sebuah fosil hutan yang disebut-sebut sebagai tertua di dunia telah ditemukan. Fosil hutan purba tersebut membentang di atas sebuah tambang yang sudah ditinggalkan di Cairo, New York, Amerika Serikat.
Ditemukan secara kebetulan pada tahun 2009, jaringan akar yang langka di hutan purba itu meninggalkan tanda beberapa pohon pertama pernah berdiri.
Yang menakjubkan, beberapa di antara pohon purba di fosil hutan tersebut memiliki lebar hampir 11 meter.
"Ditemukan di permukaan tambang, kita dapat merekonstruksi kondisi hutan purba itu saat hidup," jelas Christopher Berry dari Cardiff University.
Beberapa akar pohon purba yang bentuknya panjang ini diperkirakan dari genus Archaeopteris. Genus ini dianggap sebagai nenek moyang pohon modern saat ini.
Pohon ini merupakan salah satu yang pertama dari jenisnya yang bisa menangkap dan menyimpan karbon dioksida dari udara melalui daunnya yang berbentuk datar dan berwarna hijau.
Berkat pohon purba inilah iklim planet Bumi mengalami perubahan secara dramatis. Selain menambah lebih banyak oksigen ke atmosfer, pohon-pohon tertua itu juga menyediakan habitat subur bagi serangga primitif dan makhluk mirip kaki seribu.
Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun sebelum burung dan binatang besar lainnya mulai menjadikan pohon sebagai sarang mereka.
"Pada akhir periode Devonian (360 juta tahun lalu), jumlah karbon dioksida turun hingga seperti yang kita kenal sekarang," jelas Berry kepada New Scientist.
Tim peneliti internasional sejauh ini telah memetakan lebih dari 3.000 meter persegi fosil hutan purba. Selain Archaeopteris, di dalamnya terdapat dua jenis pohon purba lainnya.
Salah satunya dikenal sebagai cladoxylopsids, sementara yang lainnya masih belum bisa diidentifikasi.
Secara keseluruhan, hutan purba ini sangat terbuka dan jarang, dengan cladoxylopsids terlihat mendominasi. Pohon tak berdaun ini menjulang setinggi 10 meter dengan akar dangkal dan cabang seperti seledri pendek.
Sementara Archaeopteris lebih mirip pohon pinus. Tetapi bukan berdaun jarum, pohon ini memiliki bulu, seperti daun pakis.
Ditandai oleh akar kayunya yang panjang, Archaeopteris secara dramatis mengubah cara tanaman dan tanah mengumpulkan air.
Menariknya, ketiga fosil pohon tersebut akan bereproduksi melalui spora, bukan biji, di masanya.
Kehadiran fosil ikan di tambang tersebut menunjukkan bahwa fosil hutan purba ini musnah oleh banjir. Penelitian ini dipublikasikan dalam Current Biology.
Sumber: ScienceAlert.com
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Usia Berapa Otak Manusia Paling Tajam? Ternyata Bukan Saat Masih Muda

Sering Dikira Flu, Virus yang Disebarkan Nyamuk Ini Bisa Menyerang Otak dan Berakibat Fatal

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?