Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penduduk Desa Eibenthal Menggantungkan Tas Berisi Uang Di Tepi Jalan (Siakapkeli)
Dream - Pencurian, salah satu kejahatan yang banyak menimbulkan kekhawatiran. Apalagi jika pencurian dibarengi dengan aksi nekat pelakunya.
Tetapi, kejahatan tersebut tidak akan terjadi di Eibenthol. Desa indah yang terletak di Pegunungan Banatului, Rumania ini merupakan desa teraman di dunia.
Jangan harap dapat menemukan kantor polisi di desa ini. Sebab, masyarakat tak terlalu membutuhkannya.
Dikutip dari Siakapkeli, penduduk desa ini terkenal tenang dan saling menghormati. Tingkat kejahatan di desa ini sangat rendah, berbanding terbalik dengan kondisi rata-rata di Rumania.
Reputasi Eibenthal sebagai desa bebas pencurian berawal pada 1996. Sejak tahun itu hingga saat ini, penduduk selalu menggantungkan tas belanja dan uang di pagar depan rumah mereka.
Uang itu untuk membeli roti. Setiap kali lewat, pedagang roti lewat, mereka akan mengambil uang dan memasukkan roti beserta kembaliannya, ke dalam tas.
Meski tergantung di depan pagar, tidak ada orang yang berani mengambilnya.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Awalnya, toko-toko yang menjual barang kebutuhan penduduk tutup sejak revolusi 1989. Kondisi itu memaksa penduduk mencari bahan pangan ke desa sebelah yang jaraknya cukup jauh.
Kondisi itu membuat pengusaha roti prihatin. Akhirnya, disediakan layanan penghantaran roti dengan truk setiap dua hari sekali.
Suatu hari, tercetus ide dari seorang penduduk untuk meninggalkan catatan beserta uang di pinggir jalan. Yakin tidak akan hilang, cara tersebut akhirnya dipakai seluruh penduduk hingga saat ini.

" Kami tidak pernah punya masalah, sama sekali tidak, saya tidak pernah mendengar kabar kehilangan uang atau roti," ujar salah satu warga lansia desa tersebut.
Penduduk juga menghormati harta masing-masing. Mereka juga tidak pernah menjejakkan kaki ke halaman tetangga tanpa izin.
Ketika ada keperluan, mereka akan memanggil pemilik rumah dari depan pagar. Jika tidak ada jawaban, mereka akan pergi. (mut)
Dream - " Srek, srek, srek" suara tali timba beradu dengan katrol yang tengah dikerek oleh seorang wanita di tepi Kali Mampang, Kampung Kabelan, Mampang, Jakarta Selatan.
Wanita pengerek itu akrab disapa Mpok Neneng. Dia bukan sedang mengambil air, tapi mengantarkan pesananan pelanggan warungnya ke sebrang kali.
Seperti itulah aktivitas jual beli di warung Mpok Neneng, pembeli cukup berteriak menyebutkan pesanan yang dinginkan dan si empunya warung langsung mengantarkan menggunakan ember timba.
Untuk memudahkan, sebelum mengirimkan pesanan Neneng terlebih dahulu menayakan besaran uang pelanggannya. Tujuannya, apabila ada kembalian akan sekalian diantar bersama makanan.
" Uangnya berapa? Biar sekalian entar dikembaliin," teriak Neneng kepada pembeli dikutip dari Merdeka.com.
" Rp15 ribu duitnya," sahut pembeli.
" Ya udah, kembaliannya ditaro di dalem plastik ya. Kepakenya Rp13.000," sambung Neneng.

Neneng menceritakan, transaksi warungnya pada dua tahun silam dilakukan dengan cara mengantar langsung makanan pesanan ke pelanggannya. Namun, cara itu dianggap terlalu melelahkan.
Sebab, Neneng harus mondar-mandir dari warungnya dan berlari ke sebrang sungai. Neneng kemudian berinisiatif membuat warung kerek, Rp400 ribu ke luar dari kantongnya sebagai modal membuat tali timba, katrol dan ember.
Singkat cerita, cara tersebut rupanya efektif. Ia tidak lagi kelehan mengantar pesanan. Namun, dibalik itu, ada hal yang membuatnya harus mengelus dada.
Suatu hari, ember yang tengah mengangkut makanan pesanan berisi uang kembalian harus nyemplung ke kali karena tidak kuat menahan beban. Rupanya, ember tersebut sudah retak.
Pengalaman pahit lainnya, kata dia, tidak sedikit pelanggan yang sengaja untuk tidak membayar. Meski tahu orang tersebut belum menuntaskan kewajibannya, Neneng enggan menagih.
" Ada, kalau yang enggak bayar yaudah biarin aje, berarti bukan rezeki saya. Dia mesen, saking banyaknya orang, kita kadang bingung. Tapi saya kadang udah hitung ada berapa orang, itu udah kehitung uangnya sama saya. Ada yang enggak bayar ketahuan, tapi itu udah sering," kata dia.
Dengan berjualan semacam itu, Neneng mengaku dapat meraup untuk hingga jutaan rupiah.
" Kalau lagi rame untung bisa Rp1,5 juta sama rokok, kalau lagi sepi gopek (Rp500 ribu), Rp700 ribu," ucap dia.
Saat ini, warung kerek di daerah tersebut ada enam buah. Meski kini memiliki saingan, Neneng mengaku tak takut merugi.
Ada enam (warung kerek), bakso, nasi rames, rokok atau warkop lah, soto. Enggak saingan, rezeki mah enggak ketuker sama sendal, udah ada yang ngatur," kata dia.
(Sumber: Merdeka.com/Nur Habibie)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya