Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Eropa, Hans Kluge memperingatkan masyarakat bahwa, keberadaan vaksin tidak serta merta mengakhiri pandemi Covid-19 di seluruh dunia.
Menurutnya, masih belum diketahui apakah vaksin bisa membantu seluruh pasien di berbagai kelompok usia atau tidak.
" Saya mendengar selama ini orang mengatakan bahwa vaksin akan menjadi akhir dari pandemi. Padahal belum tentu,” ujar Kluge.
Kluge menambahkan, WHO masih belum bisa memastikan keefektifan vaksin di seluruh kelompok usia. Pihaknya baru menemukan efek di satu kelompok, namun bukan berarti efektif di kelompok usia lainnya.
Dalam keterangan yang dihimpun, Kluge berpendapat bahwa jika memang vaksin harus dibedakan sesuai jenis kelompok usia, tentunya akan memukul perekonomian.
" Jika kita harus memesan vaksin yang berbeda, ini jadi mimpi buruk bagi perekonomian dunia,”tambahnya.
Akhir dari pandemi bukan hanya ditandai dengan kehadiran vaksin, namun juga bagaimana manusia belajar untuk hidup di tengah kondisi ini. Semuanya tergantung apa yang dilakukan masyarakat kedepannya.

Meski vaksin digadang-gadang akan segera diproduksi massal, WHO mengingatkan agar masyarakat tetap waspada. Kemungkinan akan ada peningkatan angka kematian pada bulan Oktober dan November.
Sebanyak 55 negara anggota WHO di Eropa mengadakan pertemuan online pada Senin lalu (14/09). Mereka sepakat untuk menyetujui strategi penanganan Covid-19 selama lima tahun kedepan.
Virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China ini kita sudah membunuh sekitar 9.000 orang di seluruh dunia, dan menghentakkan perekonomian. Masyarakat banyak yang harus kehilangan pekerjaan dan bisnis mulai kolapse.
Menanggapi polemik pandemi yang terus menggerus berbagai lini negara, Pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang baru terkait larangan berkumpul lebih dari 6 orang. Aturan ini berlaku untuk semua hal, terkecuali kegiatan gym dan olahraga.
“ Jika masyarakat Inggris masih abai, Inggris bahkan berencana melakukan lockdown ketat demi menekan angka penularan Covid-19,”ujar Peter Openshaw, profesor pengobatan eksperimental di Imperial College London.
Peter menyebut bahwa saat ini pandemi tidak hanya menyerang kelompok usia muda saja. Orang tua di kelompok usia rentan juga berpotensi tertular, bahkan bisa lebih berbahaya dan memicu peningkatan angka kematian yang lebih tinggi.
" Kita semua harus benar-benar memikirkan langkah apa yang harus diperbuat untuk memperlambat penyebaran,” tambahnya.
(Sumber: Daily Star)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya