Ini Sumber Dana Dakwah pada Zaman Rasulullah

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 23 April 2018 16:00
Ini Sumber Dana Dakwah pada Zaman Rasulullah
Ada tiga sumber dana dakwah zaman itu, namun jumlahnya tidaklah besar.

Dream - Berdakwah menyebarkan agama Islam tentu sangat utama. Banyak yang berpendapat berdakwah harus ikhlas.

Bukanlah sesuatu yang bisa dianggap patut jika seorang pendakwah meminta upah. Tidak ada satupun riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabat meminta upah dalam kegiatan dakwah.

Meski begitu, dakwah memang butuh biaya. Contohnya, biaya transportasi, makan, dan sebagainya. Lantas, bagaimana dengan zaman Rasulullah SAW?

Dalam buku Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, pakar hadis Ali Mustafa Yaqub menjelaskan, memang sedikit sulit menemukan sumber dana dakwah Rasulullah berdasarkan sejumlah literatur. Meski demikian, ada temuan terkait dana dakwah Rasulullah didapat dari beberapa sumber.

Sumber pertama yaitu zakat dan jizyah (pungutan wajib berlaku bagi non-Muslim). Seperti pengalaman Muadz bin Jabal.

Dalam menjalankan perintah Rasulullah dengan berdakwah menyebarkan ajaran Islam, Muadz menggunakan sebagian dana zakat dan jizyah untuk biaya operasional sekaligus biaya hidup. Selain sebagai pendakwah, Muadz juga mendapat amanah dari Rasulullah untuk menjadi petugas pengumpul zakat.

Sumber ke dua berasal dari Baitul Maal. Penggunaan dana dari Baitul Maal untuk dakwah berjalan saat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA.

Kala itu, Khalifah Umar mengutus Abdullah bin Mas'ud RA berdakwah ke Kufah. Dalam sepucuk surat yang dikirim ke warga Kufah, Khalifah Umar mengumumkan seluruh kebutuhan Abdullah sudah ditanggung Baitul Maal.

Sumber ke tiga yaitu dari donatur. Contohnya, ketika Mush'ab bin 'Umair ketika berdakwah di Madinah, kebutuhan hidupnya ditanggung oleh Sa'ad bin Zurarah.

Meski ada dana dakwah, Rasulullah SAW dan para sahabat lebih sering lapar. Artinya, penggunaan dana dakwah itu hanya seperlunya dan bukan untuk upah.

Selengkapnya baca di sini...

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup