Usai Bantu Persalinan 2 Ibu, Bidan Hamil 8 Bulan Wafat

Reporter : Eko Huda S
Rabu, 25 November 2015 19:47
Usai Bantu Persalinan 2 Ibu, Bidan Hamil 8 Bulan Wafat
Setelah membantu persalinan, Indah yang tengah mengandung 8 bulan mengalami kontraksi. Nyawa janin dan Indah tak tertolong.

Dream - Kabar duka kembali datang dari dunia kesehatan dan pedalaman Indonesia. Seorang bidan di Kalimantan Barat, Anik Setya Indah, meninggal dunia pekan lalu.

Kabar meninggalnya Bidan Anik ini menyebar di media sisoal. “ INNALILLAHI WAINNAILAIHI Rojiun, satu lagi pahlawan kesehatan meninggal dunia dalam tugasnya di pedalaman kalimantan, BIDAN ANIK SETYA INDAH,” demikian bunyi kabar berantai itu.

Menurut kabar itu, Bidan Indah tengah hamil 8 bulan. Dia berencana mengambil cuti pada awal Desember untuk proses kelahiran. Dan pada Kamis pekan lalu, ada panggilan tugas untuk Bidan Indah dari dua pasien sekaligus.

Rumah dua pasien yang hendak melahirkan ini cukup jauh dari tempat tinggal Bidan Indah. Sudah begitu, medan menuju rumah dua pasien itu sulit dilalui. Sang suami sempat melarang Bidan Indah untuk berangkat karena sedang hamil besar.

Tapi Indah menolak dan tetap saja berangkat. Akhirnya seharian berhasil melahirkan dua pasien dg selamat.

Sepulang tugas itu, Bidan Indah merasa perutnya sakit. Dan sang suami hendak membawanya ke Rumah Sakit Pontianak. Namun karena harus ditempuh dalam waktu 4 jam, rencana itu dibatalkan.

Bidan yang bertugas di Desa Darit, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak, itu akhirnya dibawa ke rumah sakit setempat. “ Akhirnya terpaksa masuk ke RS kabupaten yang ada.

Sayang, bayi dalam kandungan Indah tak tertolong. Indah berusaha menguatkan hati suaminya, bahwa janin itu belum menjadi rezeki mereka. Namun beberapa menit kemudian perut Indah mengalami kontraksi dan kemudian dilakukan operasi Caesar.

Akhirnya dilakukan operasi, tapi ternyata ditemukan placenta sudah lepas (solutio plasenta), akibatnya terjadi perdarahan hebat sampai shock.

Indah kehilangan banyak darah. Sayang, persediaan darah di daerah itu sedang kosong. Sehingga semua teman dikumpulkan untuk menyumbang darah. Sudah begitu kantong darah tak tersedia, sehingga harus mencari ke kantor PMI yang jaraknya jauh.

Belum sempat darah datang, INDAH semakin jelek kondisinya sampai akhirnya dilakukan resusitasi jantung namun nyawa INDAH tidak tertolong lagi dan meninggal dunia jumat kemarin.” Semoga amal ibadah Bidan Indah diterima dan khusnul khotimah. Amin. (Ism)

1 dari 4 halaman

Sulit Dievakuasi, Dokter Muda Meninggal di Kepulauan Aru

Dream - Kabar duka datang dari dokter muda yang sedang menjalankan program internship di Kepulauan Aru, Maluku Tenggara, Dionisius Giri Samudra.

Kabar ini pun dengan cepat menyebar di media sosial, pria yang akrab disapa Andra ini baru menyandang status pegawai tidak tetap (PTT) di Rumah Sakit Cendrawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku.

Sebelum meninggal, tubuh Andra sempat demam dan mengalami gagal napas serta penurunan kesadaran. Andra pun menjalani perawatan di RSUD Cenderawasih pada 8 November 2015.

Namun sayang kondisinya terus menurun. Teman-teman sesama dokternya menduga Andra mengalami komplikasi virus campak.

" Gejala awal seperti campak. Tapi sepertinya terjadi komplikasi virus terus menyebar hingga ke otak. Kasus seperti ini jarang terjadi bisa dibilang 1:200 yang mengalaminya," tutur dr. Glen yang bertugas di RSUD Cenderawasih kepada wartawan, Kamis 12 November 2015.

Saat proses evakuasi Andra diakui Glen mengalami kendala dari segi transportasi. Akses tercepat dari tempat Andra, Dobo menuju Maluku harus ditempuh dengan pesawat selama 3,5 jam. Itupun dengan jadwal penerbangan yang tak menentu.

" Kemarin kami berencana akan mentransfernya ke Tual untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Tapi kondisinya semakin memburuk dan tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan dengan transportasi laut, harus melalui udara. Dan ada kendala dalam hal itu," tutur dr. Glen.

Ungkapan kesedihan saat Andra masih dalam kritis sempat dilontarkan Bambang Budiono selaku dokter senior di RS Awal Bros Makassar yang menuliskan di akun facebooknya.

" Ada seorang dokter yang sedang internship di RSUD Dobo Maluku Tenggara, Kepulauan Aru. Dalam keadaan febris, penurunan kesadaran, trombosit sudah 50 ribu. Namun ada kendala dalam hal biaya untuk evakuasinya. Selain itu juga mengenai pesawat yang akan menjemput ke sana. Kasihan sekali dokter yang sedang internship tersebut. Kondisinya mulai menurun. Kira-kira Kemenkes atau IDI bisa bantukah?"  tulis Bambang.

Andra adalah satu dari 17 dokter muda lainnya yang tengah menjalani program internship di Kepulauan Aru selama 1 tahun. Rencananya Andra beserta beberapa rekannya akan mulai bertugas di RSUD Cenderawasih pada 12 November 2015 setelah sebelumnya ditugaskan di puskesmas daerah selama 5 bulan.

2 dari 4 halaman

Kasus dr Andra di Kepulauan Aru, Ini Pesan Ketua Umum IDI

Dream - Kabar meninggalnya dokter internship, Dionisius Giri Samudra mengundang simpati dari banyak pihak. Salah satunya Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).

" Kami semua berduka, ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,"  tutur Ketua Umum PB IDI, Zaenal Abidin, dalam pesan singkatnya. 

PB IDI mengimbau seluruh petugas kesehatan lebih peduli dan mengantisipasi risiko yang akan dihadapinya.

" Siapa saja yang akan dikirim ke daerah endemis penyakit tertentu, harus tahu dan paham bagaimana mengantisipasi jika sewaktu-waktu terserang penyakit ," ujar Zaenal. 

Kejadian ini, kata Zaenal, memberikan kesadaran mengenai risiko yang bakal didapat oleh mereka yang menekuni profesi kedokteran.

" Sebab, kejadian serupa pernah dialami banyak dokter yang dengan berani bertugas di daerah dengan medan cukup berat. Dan ditempatkan di daerah endemis penyakit tertertentu," tuturnya.

Kabar meninggalnya Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) Dionisius Giri Samudra itu menyebar cepat di sosial media. Ini karena proses evakuasi terhambat jalur transportasi yang begitu sulit. 

Dokter yang akrab disapa Andra itu bekerja magang di RS Cendrawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru. Dari hasil pemeriksaan, Dokter Andra menderita penyakit radang otak (ensefalitis) dan campak. (Ism) 

3 dari 4 halaman

Inilah Alasan Mengapa Tulisan Dokter Susah Dipahami

Dream - Seringkali, setiap kita berkunjung ke dokter dan memperoleh resep, tulisan yang tertera di resep tersebut sulit terbaca. Tulisan di resep itu lebih terlihat seperti coretan anak-anak yang sedang belajar menulis.

Tapi, ternyata ada kode rahasia pada setiap resep dokter. Dokter memang biasa menjaga kerahasiaan resep yang ditulisnya agar si pasien tidak dengan mudah menggunakan resep itu. Karena setiap resep obat yang diberikan dokter memerlukan diagnosis terhadap penyakit pasien terlebih dahulu.

Biasanya, dalam resep dokter ada singkatan-singkatan yang merujuk pada istilah ilmiah tertentu. Misalnya, a.c, b.d, dan b.i.n. Singkatan a.c merupakan kependekan dari ante coenam(sebelum makan); b.d berarti bis die (dua kali sehari); adapun b.i.n berarti bis in noctus (dua kali semalam), cap berarti capsula (kapsul), gtt artinya gutta (diteteskan) dan p.c. artinya post coenam (setelah makan) dan lain sebagainya.

Jeleknya tulisan dokter pada resep ternyata mengandung tujuan sangat penting bagi ilmu kedokteran. 

Pertama, karena pasien tidak akan mudah memahami isi resep, jika resep obat yang ditulis dokter mudah dipahami pasien, maka dapat dimungkinkan bahwa pasien tersebut akan membeli obat yang sama di apotik jika mengalami gejala yang sama tanpa perlu periksa ke dokter. Padahal tindakan tersebut sangat berbahaya bagi kesehatannya.

Kedua, Pasien dapat melakukan kesalahan persepsi jika memahami isi resep tersebut. Itulah alasan mengapa tulisan dokter pada resep obat sangat susah untuk dibaca dan inilah rahasia kode pada resep dokter yang bertujuan untuk melindungi kerahasiaan resep obat agar tidak disalahgunakan.
4 dari 4 halaman

Ibu Tolak Beri Maaf Hingga Putrinya Meninggal

Dream - Seorang ibu di Saudi tidak mau memberi maaf atas tindakan putrinya yang tidak patuh. Hingga sampai liang lahat pun, sang ibu tidak juga mau memberi maaf.

Penyebabnya, sang putri tidak patuh pada perkataan ibu tersebut dan menikah dengan pria yang jauh lebih tua. Hal itu membuat sang ibu marah besar.

Saat kematian putrinya, ibunya bahkan menolak untuk melayat jenazah anaknya yang disemayamkan di rumah duka. Rumah yang merupakan tempat tinggal menantunya.

Para pelayat memutuskan untuk memasukkan jenazah ke peti jenazah dan membawanya ke rumah ibunya. Sesampai di sana, ibunya tetap tidak mau melihat jenazah sang putri.

" Mereka membawa peti jenazah itu ke rumah ibunya tapi dia tetap menolak melihat jenazah putrinya," tulis harian lokal Okaz tanpa menyebut di mana ibu itu tinggal.

Harian itu melaporkan putri ibu tersebut meninggal akibat kanker, setelah melahirkan beberapa anak. Tidak disebutkan pula berapa usia wanita itu.

(Ism, Sumber: arabnews.com)

Beri Komentar