Ilustrasi
Dream - Seorang ibu di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, N, tega menganiaya buah hatinya, GW, yang baru berusia 5 tahun selama empat bulan. Tak tahan dengan siksaan ibunya, GW menghembuskan napas terakhirnya di rumah kontrakan di Jalan Asem Raya, Duri Kepa pada Sabtu, 11 November 2017.
" Kekerasan itu dilakukan dari tiga hingga empat bulan terakhir," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono di kantornya, Jakarta, Selasa, 14 November 2017.
Argo mengatakan suami N sudah pergi sejak GW berusia enam bulan dalam kandungan. " Sampai sekarang nggak tahu di mana keberadaannya," kata dia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, N tega menganiaya GW karena sering rewel. Kesulitan ekonomi membuat perlakuan N kepada anaknya sampai di luar batas kewajaran.
" Karena dia itu sebagai ibu sekaligus bapak, dan kemudian dia juga pernah kerja. Kemudian 11 September, dia resign. Orangtuanya juga memberikan subsidi tidak penuh. Artinya, masih jauh dari perkiraan untuk kehidupan satu bulan di Jakarta," ucap dia.
Terkait penyebab kematian GW, Argo mengatakan masih didalami penyidik.
Atas perbuatannya, N terancam Pasal 80 ayat (3) juncto Pasal 76 C Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
(Sah)
Advertisement
Dari Rumah BUMN hingga Pameran, Cara UMKM Menembus Pasar Global

AI Makin Ancam Manusia, PBB Ingatkan Dunia Jangan Terlambat Mengendalikannya

Inilah Peta Baru Dunia Versi PBB: Eropa dan Amerika Jadi Lebih Kecil. Mengapa?

Tak Lagi ke Bantargebang, Sebagian Limbah Jakarta Belok ke Bank Sampah

Sampah Bisa Jadi Voucher Belanja hingga Pengganti Batubara


Es Batu atau Air Es, Mana yang Lebih Cepat Mendinginkan Minuman? Jawabannya Ternyata Mengejutkan


Mengapa Mencetak Uang Lebih Banyak Tidak Bisa Membuat Negara Lebih Kaya?


Dari Rumah BUMN hingga Pameran, Cara UMKM Menembus Pasar Global

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Berbahaya, Begini Penampakan Aslinya Saat Diperbesar 2.600 Kali

AI Makin Ancam Manusia, PBB Ingatkan Dunia Jangan Terlambat Mengendalikannya