Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo.
Dream - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, mengatakan, pemerintah memberi kesempatan bagi warga berusia di bawah 45 tahun untuk beraktivitas di luar rumah.
Kebijakan itu diambil sebagai upaya mengurangi dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 seperti pemutusan hubungan kerja (PHK).
" Kelompok ini kita berikan ruang aktivitas lebih banyak sehingga potensi terpapar PHK kita kurangi," ujar Doni, dikutip dari Liputan6.com.
Menurut Doni, usia 45 tahun ke bawah memiliki fisik yang kuat. Jika terpapar Covid-19, kelompok usia ini memiliki daya tahan tubuh yang baik dengan tingkat kematian sebesar 15 persen.
" Mereka adalah secara fisik sehat, mereka punya mobilitas yang tinggi, dan rata-rata kalau toh mereka terpapar, mereka belum tentu sakit. Mereka tidak ada gejala," kata dia.
Berbeda halnya dengan kelompok masyarakat usia 60 tahun ke atas dengan risiko kematian hingga 45 persen. Juga pada kelompok usia 46-59 tahun tetapi memiliki penyakit comurbid, seperti hipertensi, diabetes, maupun jantung.
" Kita tetap menjaga masyarakat untuk tidak terpapar virus corona tetapi juga kita harus berjuang secara keras agar masyarakat tidak terpapar PHK," kata dia.
Meski demikian, Doni tetap meminta agar kelompok tersebut mematuhi protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah. Seperti menjaga jarak fisik dengan orang lain, menghindari kerumunan, menggunakan masker dan sering mencuci tangan dengan sabun.
Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham
Dream - Pemerintah terus memperbarui data penanganan Covid-19. Hingga Senin, 11 Mei 2020 pukul 12.00 WIB, akumulasi kasus positif infeksi virus corona mencapai 14.265 orang.
" Pasien positif hari ini sebanyak 233 orang, sehingga total menjadi 14.265 orang," ujar juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto.
Kasus sembuh mengalami peningkatan sebanyak 183 pasien. " Total secara akumulatif sebanyak 2.881 orang," kata Yurianto.
Selain itu, angka kematian turut bertambah. Dalam 24 jam terakhir, kasus kematian bertambah 18 pasien.
" Sehingga total pasien meninggal dunia menjadi 991 orang," kata dia.
Selanjutnya, Yurianto menjelaskan kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP) meningkat 415 juta. Sehingga akumulasi jumlahnya mencapai 294.105 pasien.
Sedangkan Pasien Dalam Pengawasan bertambah sebanyak 1.677 orang. Sehingga totalnya menjadi 31.994 jiwa.
Lebih lanjut, Yurianto kembali mengingatkan agar masyarakat selalu disiplin dan taat pada ketentuan pemerintah.
" Menjaga jarak sesuatu yang penting, tetap berada di rumah dan bisa produktif di rumah. Tidak keluar rumah terkecuali terpaksa, dan tidak melakukan perjalanan ke mana pun termasuk tidak mudik," kata dia.
Dream - Data terkait korban dan penularan Covid-19 kembali diperbarui hari ini, Minggu 10 Mei 2020 oleh Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona Covid-19. Ia menuturkan jumlah pasien meninggal karena Covid-19 hingga Minggu 10 Mei 2020 bertambah 14 orang.
Dengan demikian, totalnya mencapai 973 orang. " Hari ini jumlah yang meninggal sebanyak 14 orang, sehingga total jumlah meninggal sebanyak 973 orang," ujar Yurianto melalui konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta Timur, Minggu, 10 Mei 2020.
Sementara untuk penambahan kasus positif, hari ini ada 387 orang sehingga total menjadi 14.032 orang. Yuri mengatakan, dari total kasus tersebut, jumlah pasien sembuh dari infeksi Corona sebanyak 2.698 orang.
Semua data pasien Corona Covid-19 tersebut dikumpulkan dari pukul 12.00 WIB, Sabtu 9 Mei hingga pukul 12.00 WIB, Minggu, 10 Mei 2020. Yurianto pun kembali mengingatkan kepada semua masyarakat untuk menjaga jarak, lebih dari 2 meter, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, dan tetap produktif selama di rumah.
Sebelumnya, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, saat ini ada tiga jenis tes untuk mendeteksi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia.
Pertama adalah tes menggunakan Real Time - Polymerase Cgain Reaction (RT-PCR). Tes ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi bahkan hampir 95 persen.
" RT PCR inilah yang dipakai di seluruh dunia untuk memastikan apabila sampel berupa swabnya diambil dari hidung atau tenggorokan, itu bisa dites dan menunjukkan positif atau negatif terhadap virus SarsCov 2 ini," kata Wiku di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Selasa (5/5/2020).
Tes kedua yakni Tes Cepat Molekuler (TCM). Tes ini menggunakan sebuah relatif yang begitu cepat yang dilakukan secara molekuler dan memunyai sensitifitas sekitar 95 persen.

" TCM, tes cepat molekuler, menggunakan sebuah yang relatif cepat, dilakukan secara molekuler, dan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi sekitar 95 persen," kata Wiku.
Kendati hampir sama dengan RT-PCR untuk mendeteksi Corona, TCM dinilai lebih cepat. Pasalnya, tes RT-PCR harus memerlukan reagen dan sampel.
" Kalau yang RT PCR tadi sering disebut sebagai open system jadi sistemnya terbuka, memerlukan reagen dan sampel, dan bisa di lakukan tes dengan relatif cepat beberapa jam sudah bisa ketemu hasilnya," kata Wiku.
Sumber: Liputan6.com