Pesta Klub Dongeng 2026 Ajak Anak Peduli Hutan dan Gunung Lewat Cerita

Reporter : Kojiro Hyu
Senin, 5 Oktober 2026 17:36
Pesta Klub Dongeng 2026 Ajak Anak Peduli Hutan dan Gunung Lewat Cerita
Klub Dongeng berharap cerita yang didengar anak selama acara dapat dibawa pulang dan menjadi bahan obrolan bersama orang tua. Dengan begitu, dongeng dapat membuka ruang diskusi baru.

Pesta Klub Dongeng (PKD) 2026 kembali digelar dengan mengajak anak-anak dan keluarga mengenal isu lingkungan melalui cerita. Memasuki tahun penyelenggaraan keenam, festival dongeng ini mengangkat tema “ Sejagat Wana Adri” yang berfokus pada hutan dan gunung.

Digelar pada 3-4 Oktober 2026 di Perpustakaan Jakarta, Cikini, rangkaian acara menghadirkan berbagai pendongeng, komunitas, serta relawan Klub Dongeng. Selain berlangsung secara luring, Pesta Klub Dongeng juga disiarkan secara daring melalui Instagram dan YouTube Klub Dongeng agar dapat diikuti masyarakat dari berbagai daerah.

Angkat Isu Hutan dan Gunung Lewat Dongeng

Pesta Klub Dongeng 2026

Novita Ayusman atau akrab disapa Kak Vee selaku Ketua Pelaksana PKD 2026 menjelaskan, tema “ Sejagat Wana Adri” dipilih karena isu lingkungan, khususnya hutan dan gunung, semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Nama tersebut terdiri dari “ Sejagat” yang berarti dunia, sementara “ Wana” dan “ Adri” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti hutan dan gunung.

“ Tema ini sengaja kita angkat karena memang sedang marak isu tentang lingkungan, terutama hutan dan gunung. Ini sangat bermanfaat untuk kita mengedukasi anak-anak dan generasi penerus kita untuk melindungi, menjaga hutan dan gunung khususnya, dan alam sekitar kita,” jelas Novita.

Pesan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai cerita yang dibawakan selama acara. Materinya tidak hanya membahas pentingnya menjaga alam, tetapi turut mengenalkan kerusakan hutan, cara mencegah dan menanggulanginya, hingga hal yang dapat terjadi ketika bencana muncul.

Dongeng Jadi Jembatan Orang Tua dan Anak

Pesta Klub Dongeng 2026

Pada hari pertama, pengunjung dapat mengikuti Jelajah Cerita dan Meramu Jamu di Bilik Bercerita, Perpustakaan Jakarta. Sementara itu, hari kedua menghadirkan Panggung Dongeng Sejagat Wana Adri dengan penampilan dari pendongeng nasional, Klub Dongeng Junior, serta berbagai komunitas.

Kanya Cittasara selaku Founder Klub Dongeng mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan dongeng sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada anak tanpa membuat mereka merasa digurui.

“ Kita jadikan dongeng dan bercerita itu menjadi media untuk menyampaikan pesan yang biasanya kita sampaikan hanya seperti semacam perintah atau menggurui,” ucap Novita selaku Founder Klub Dongeng.

Menurut Kanya, cerita juga dapat membantu orang tua membuka pembicaraan mengenai topik-topik yang mungkin sulit dijelaskan kepada anak. Setelah mendengarkan cerita, anak dan orang tua dapat kembali membahas pesan yang didapat sehingga tercipta ruang diskusi di rumah.

“ Dongeng adalah salah satu medium yang bisa menggerakan hati dan juga mengajarkan empati untuk anak-anak. Harapan kami juga bisa menjadi referensi untuk orang tua bercerita di rumah,” jelas Kanya.

Dongeng tidak hanya menjadi hiburan, tetapi dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kepada anak tanpa terasa menggurui. Cerita juga dapat membantu orang tua membuka pembahasan mengenai topik yang sulit, termasuk persoalan lingkungan.

“ Anak-anak itu butuh penyampaian pesan yang tidak terasa menggurui agar bisa lebih diterima oleh mereka. Nah, dongeng adalah salah satu medium yang bisa menggerakan hati dan juga mengajarkan empati untuk anak-anak,” jelas Kanya.

Hal tersebut turut menjadi dasar Klub Dongeng dalam menyusun Pesta Klub Dongeng 2026. Novita mengatakan, tema “ Sejagat Wana Adri” menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan, gunung, dan lingkungan kepada anak-anak.

“ Kita jadikan dongeng dan bercerita itu menjadi media untuk menyampaikan pesan yang biasanya kita sampaikan hanya seperti semacam perintah atau menggurui. Mungkin dari para orang tua pun juga mengalami kesulitan dan kendala bagaimana caranya untuk menyampaikan pesan ke anak secara efektif,” ucap Novita.

Melalui pendekatan tersebut, Klub Dongeng berharap cerita yang didengar anak selama acara dapat dibawa pulang dan menjadi bahan obrolan bersama orang tua. Dengan begitu, dongeng dapat membuka ruang diskusi baru sekaligus membantu keluarga mengenalkan berbagai persoalan lingkungan dengan cara yang lebih dekat bagi anak.

Berawal dari Ruang Sharing untuk Orang Tua

Pesta Klub Dongeng 2026

Klub Dongeng sendiri diinisiasi pada 2018 dari keinginan para orang tua yang mau belajar mendongeng, tetapi tidak mengetahui harus bertanya atau belajar dari mana. Dari pertemuan sederhana untuk berbagi pengalaman, komunitas tersebut kemudian berkembang hingga memiliki lebih dari 100 relawan.

“ Awalnya karena banyaknya orang tua yang ingin belajar mengenal lebih jauh tentang mendongeng untuk anak, tapi bingung harus bertanya ke mana. Akhirnya kami membuat kayak kelompok untuk ngobrol bareng dan sharing sama orang tua soal mendongeng,” ucap Kanya.

Kini, kegiatan Klub Dongeng tidak hanya berfokus pada festival tahunan. Komunitas ini turut mengadakan kelas sharing session bagi orang tua dan pendidik yang ingin mendapatkan pelatihan singkat mengenai dongeng.

“ Kita juga ada agenda program Dongeng Sosial, yaitu kita mendongeng ke organisasi non-profit atau yayasan sosial untuk menjangkau anak-anak yang kurang memiliki akses ke mendongeng,” ucap Kanya.

Klub Dongeng juga memiliki program Dongeng Sosial yang membawa kegiatan mendongeng ke organisasi non-profit atau yayasan sosial. Program tersebut ditujukan untuk menjangkau anak-anak yang memiliki keterbatasan akses terhadap kegiatan mendongeng.

Sasar Anak Usia 4-12 Tahun

Pesta Klub Dongeng 2026

Pesta Klub Dongeng menargetkan anak usia 4-12 tahun sebagai audiens utama. Meski demikian, Novita mengatakan acara tersebut tetap dapat dinikmati oleh pengunjung di luar rentang usia tersebut.

“ Targetnya kita memang 4-12 tahun. Walaupun tentu sebenarnya untuk yang di atas usia itu juga masih bisa menikmati acara ini,” jelas Novita.

Selain menjangkau anak-anak dan keluarga di Jabodetabek, Klub Dongeng membuka kesempatan bagi masyarakat dari berbagai daerah untuk mengikuti festival secara daring. Kanya mengatakan, relawan komunitas saat ini pun telah tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

“ Seperti hari ini ada relawan kami dari Brebes yang jauh-jauh datang untuk menjadi relawan offline. Beberapa relawan kami juga ada yang di Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi,” ucap Kanya.

Ke depannya, Klub Dongeng berharap dapat membawa festival serupa ke sejumlah wilayah di luar Jabodetabek. Dengan begitu, kegiatan mendongeng dan pesan-pesan kebaikan yang dibawanya dapat menjangkau lebih banyak anak serta keluarga di Indonesia.

“ Kami berharap bisa menyebar luas Klub Dongeng ini. Kami tentunya ingin sekali suatu saat bisa menyelenggarakan festival ke beberapa regional di luar Jabodetabek,” lanjut Kanya.

Beri Komentar