Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Betapa mengerikan jika dosa manusia di dunia belum sempat terhapus ketika sampai sakaratul maut.
Kejadian ini yang dilihat saksi mata bernama Abdul Ghofur. Ia bekerja di sebuah rumas sakit di Jawa Timur. Sehari-harinya bertugas memberikan bimbingan agama Islam kepada para pasien. Khususnya mereka yang sudah diujung umur.
Menurut ceritanya, peristiwa ini merupakan pengalaman unik satu-satunya yang pernah ia temui selama dua tahun bertugas. Dimulai pada tahun 1999, hari itu datang seorang pasien baru. Pasien tersebut menderita penyakit Leukimia yang sudah parah.
Semakin hari, keadaanya semakin menurun. Keluarganya pun menyerahkan kepada pihak Rumah Sakit dan akhirnya ia langsung dirawat di ruangan khusus (ICU).
Seperti para pasien lainnya, beberapa jam setelah masuk rumah sakit dan mendapatkan perawatan secukupnya dari para dokter, pasien itu mendapat bimbingan agama Islam dari rumah sakit.
Kebetulan Ghofur yang mendapatkan tugas membimbing laki-laki yang bertubuh besar dan dipenuhi tato itu. Namun kehadiran Ghofur seakan tidak disambut, meski keadaannya memburuk pasien itu masih memperlihatkan sikap angkuhnya.
Singkat cerita.
Pada siang yang panas itu, ia harus berjuang menghadapi pedih dan sakitnya sakratul maut. Beberapa perawat (suster) dan keluarganya ikut membantu menemani menghadapi sakratul maut.
Tidak ketinggalan, Ghofur juga ditugaskan membimbing lelaki itu mengajarkan kalimat-kalimat talkin, agar sakratul maut yang dihadapinya bisa lebih mudah. “ Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah …,” bisik Ghofur berulang-ulang ditelinga Romi. Para perawat dan keluarga Romi ikut membimbing Romi mengucapkan talkin.
Apa daya, ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya mengerang menahan sakit dengan membuka mulut lebar-lebar, seolah menjerit kesakitan. Begitupula matanya membelalak terbuka lebar, seperti orang yang sangat ketakutan.
Baca kisah selengkapnya ditautan ini..
Kirimkan blog atau website kamu ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin di-publish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res (tidak blur)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya