Seluruh Sektor Melemah, Indeks Syariah Layu di Awal September

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 4 September 2017 16:40
Seluruh Sektor Melemah, Indeks Syariah Layu di Awal September
Dua indeks merosot karena dua sektor ini.

Dream - Indeks syariah berguguran di awal perdagangan bulan September 2017. Harapan adanya sentimen dari data ekonomi terbaru BPS terhalang oleh sentimen negatif bursa domestik yang melemah karena isu uji coba bom hidrogen Korea Utara.

 

Aksi jual pemodal asing yang semakin meningkat di awal pekan ini turun membebani langkah indeks syariah yang sebetulnya dibuka menguat di awal perdagangan. 

Pada penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin 4 September 2017, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terpangkas hingga 1,515 poin (0,81%) ke level 184,570. Menguat di sesi pembukaan dan menembus level tertinggi 186,399, ISSI tak kuasa menahan laju aksi jual pelaku pasar. 

Sama halnya dengan ISSI, indeks bluechip syariah, Jakarta Islamic Index (JII), juga melemah 6,011 poin (0,81%) ke level 740,247.

Indeks JII bergerak lemah setelah dibuka menguat di level 747,962, Indeks JII tercatat sempat bertengger di level tertinggi di 748,849 dan terendah di 739,414.

Perdagangan awal pekan ini memang penuh tekanan. Selain sentimen luar negeri, transaksi perdagangan saham di awal pekan juga relatif minim. Pelaku pasar hanya melakukan transaksi sebanyak 181.762 kali dengan 36,77 juta saham yang beralih tangan. 

Dengan volume transaksi yang berkurang signifikan dari akhir pekan lalu, transaksi jual beli saham syariah hari ini hanya mencetak angka Rp 3,07 triliun. 

Seluruh indeks sektoral juga bergerak melemah. Investor melepas saham-saham di sektor industri dasar, industri aneka, dan pertambangan yang masing-masing turun 1,66 persen, 1,45 persen, dan 1,43 persen.

Di deretan saham pencetak kenaikan harga tertinggi, hanya tercatat lima emiten keping biru syariah yang menjadi favorit investor. Kelima emiten itu adalah UNVR yang harga sahamnya naik Rp425, LPPF Rp150, EXCL Rp100, AKRA Rp75, dan INCO Rp40.

Sebaliknya, top losser JII sebagian besar dihuni saham-saham tambang seperti PTBA yang harga sahamnya rontok Rp675, UNTR Rp600, SMGR Rp500, TPIA Rp150, dan PGAS Rp135.

Dari pasar uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 15 poin (0,11%) ke level Rp13.333 per dolar AS. Kurs rupiah terhadap dolar AS sempat menguat di level Rp13.295 per dolar AS.(Sah)

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian